Penjelasan Ilmiah Mengapa Selfie adalah Sifat Dasar Manusia

Windratie, CNN Indonesia | Rabu, 08/07/2015 04:18 WIB
Penjelasan Ilmiah Mengapa Selfie adalah Sifat Dasar Manusia Kira-kira setengah abad yang lalu, bahwa setelah manusia memenuhi kebutuhan dasarnya, mereka akan terus mengembangkan dan memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi, misalnya 'aktualisasi diri'. (Getty images/ Dangubic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Filsuf Yunani kuno Socrates mengadopsi moto 'kenalilah dirimu' dalam mencari pencerahan dan kebijaksanaan. Perintah 'kenalilah dirimu' itu diteruskan oleh banyak pemikir di setiap zaman. Namun, apakah kita benar-benar tahu tentang diri kita sendiri? Dan apakah orang lain, mungkin memiliki kesadaran yang lebih baik tentang diri kita?

Menurut Michael Allen Fox, profesor ilmu filsafat dari Universitas Queen di Kanada, meningkatnya fenomena selfie tidak disebabkan oleh teknologi baru saja, tetapi apa yang membuat teknologi ini tampak begitu menarik.

Setidaknya, menurut Michael, ada dua faktor yang relevan. Pertama, psikolog Abraham Maslow berpendapat, kira-kira setengah abad yang lalu, bahwa setelah manusia memenuhi kebutuhan dasarnya, mereka akan terus mengembangkan dan memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi, misalnya 'aktualisasi diri'.


Tampaknya ini adalah hal yang universal dari sifat manusia, seperti diungkapkan dalam sebuah penelitian lintas budaya. Yang kedua, usia manusia juga salah satu penyebab meningkatnya perasaan tidak aman atas percepatan perubahan itu sendiri, kata Michael seperti dilansir dari laman Independent.

Semakin bertambah usia, manusia akan mengkhawatirkan hal-hal seperti pekerjaan, perumahan yang terjangkau, kekerasan global dan perang, jaring pengaman sosial, lonjakan populasi dunia, makanan, kekurangan air, kemiskinan, perubahan iklim.

Semua berdampak pada bagaimana seseorang mengevaluasi diri untuk hidup yang bahagia. Untuk menghadapi masalah yang demikian luas ini, maka tidak mengherankan jika kita mundur ke diri pribadi yang tampak menarik, ujar Michael menjelaskan.

Manusia memiliki 'teori pikiran', yang menyatakan bahwa orang lain mempunyai 'keadaan mental' yang mampu dibaca oleh orang lain.

Akibatnya, Michael melanjutkan, kita dapat memahami orang lain, merenungkan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita, menunjukkan empati terhadap mereka, dan memprediksi perilaku seseorang sampai pada tingkat tertentu.

“Hal ini menunjukkan, kita harus membedakan antara kesadaran diri publik dan pribadi.”

Menurut Michael, yang pertama adalah, bagaimana kita tampil (atau berpikir apa yang ditampilkan) kepada orang lain. Yang terakhir adalah, bagaimana kita tampil untuk diri kita sendiri. Jelas ini tidak dapat dipisahkan secara kaku, sebab kita adalah makhluk sosial, Michael melanjutkan.

“Ini membuat kita peduli pada apa yang dipikirkan orang lain tentang kita. Pada gilirannya akan memengaruhi cara kita berpikir tentang diri kita sendiri.”


(win/mer)