Di akhir masa kampanye, tercatat sekitar 17 juta orang berpartisipasi. Donasi yang terkumpul pun meluap hingga US$115 juta atau setara Rp 1,5 triliun. Namun, pertanyaan besarnya adalah ke mana donasi tersebut bermuara? Seberapa dalam sebenarnya para partisipan harus merogoh kocek?
Sebagian kecil dari pertanyaan besar tersebut kini mulai terjawab. Seperti dilansir The Independent, ALS Association akhirnya melansir bahwa 40 persen dari dana terhimpun kini sudah terpakai atau masuk daftar anggaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ALS sendiri adalah penyakit dengan kondisi langka, di mana sistem saraf pasien rusak lantaran sel neuron tidak bekerja dengan baik. Seiring berjalannya waktu, otot pengidap ALS akan kian lemah dan daya pandang pun memburuk.
Hingga akhirnya, pasien akan sulit berjalan, daya genggam melemah, dan mereka mulai tak dapat berbicara, mengunyah, bahkan bernapas.
"Kami mulai dapat melihat penyebab mereka meninggal. Kami bisa memberikan obat kepada mereka untuk melihat apakah dapat melambatkan proses pertumbuhan penyakit tersebut. Ini seperti melihat avatar dirimu sendiri di atas cawan petri," ujar seorang peneliti dari Neuro Collaborative, Clive Svendsen.
(utw/utw)