Cerita hidup Eka sebagai seorang ahli bedah otak tak luput dari kerikil cobaan. Pada 2009, Eka pernah tersandung kasus malpraktik. Baginya, dituntut orang sudah risiko dari profesinya sebagai seorang dokter ahli bedah saraf.
Lelaki itu menuntut Eka sejumlah uang yang nominalnya sangat besar. “Haknya dia untuk menuntut. Dia menuntut Rp 200 miliar. Coba, orang bisa mengasumsikan sendiri orang macam apa dia,” kata Eka mengungkapkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eka mengakui, peristiwa tersebut sempat membuatnya stres. Namun, Eka yakin akan prosedur yang dijalankannya, dia menolak untuk mengalah. “Ini kan bukan saya sendiri, tapi jutaan dokter di Indonesia. Kami tidak mau mengalah, jadi mari kita berproses hukum,” katanya melanjutkan. Pada akhirnya, gugatan pasien yang menuntut Eka tidak terbukti, dia dan rekannya tersebut menang dalam proses hukum di Mahkamah Agung.
Pada saat itu, kasus ini menjadi sorotan banyak media. “Meskipun belum ada keputusan, tapi sudah banyak pemberitaan mengenai kasus ini.” Namun, Eka mengontrol diri untuk tidak bercerita banyak. “Saya tidak ngomong sama sekali sama pers.”
Beberapa pasien memang bertanya kepadanya. Eka menjawab sejujurnya, “Iya memang benar dia lumpuh. Tapi dia lumpuh kira-kira beberapa bulan,” jawab Eka pada pasien-pasiennya. Hanya saja, ketika pasien datang, Eka akan mengatakan bahwa itu adalah risiko. “Terserah mau risiko operasi atau risiko tidak operasi."
Namun, akhirnya pasien dapat mengerti. Dalam setahun saja, ada sekitar 1500-an penyakit otak saraf yang ditanganinya. “Dalam arti, orang semakin percaya kepada saya.”
Sebagai ahli bedah saraf otak yang diberikan kepercayaan sedemikian besar oleh pasien, bagi Eka kepercayaan tersebut luar biasa mahal. “Saya tidak akan mengatakan 'I do my best', tapi 'I do everything'. Tidak seorang pun bisa janji akan seperti apa akhirnya, kata Eka.
Ini adalah masalah kepercayaan yang luar biasa mahal. “Apalagi kalau pasien itu datang jauh-jauh, pindah dari rumah sakit luar negeri ke sini, aduh bagi saya itu mahal banget.” Bagi para suster, menurut Eka, dirinya adalah sosok yang menakutkan. “Saya tidak mau ada satu pun sesuatu yang teledor. Saya kontrol sendiri semuanya. Bagi orang lain, saya barangkali mengerikan. Karena saya itu maunya perfect."
Oleh sebab itu, ke manapun Eka pergi ketika mengikuti sebuah konferensi kedokteran di luar negeri, dia selalu mengakses pesan-pesan lewat aplikasi percakapan di telepon pintar. “Blackberry saya harus on terus. Memang begitu sifat saya. Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan betul-betul full,” kata lelaki yang mengambil pendidikan dokter umumnya di Universitas Diponegoro, Semarang, itu.
“Nomor handphone saya itu dikenal orang se-Indonesia.”
Maksud Eka, siapa saja orang yang bertanya kepadanya pasti akan dijawabnya. Asalkan, orang tersebut mengajukan pertanyaan yang layak. “Tapi kalau pertanyaannya tidak proper, saya biarkan saja.”
Eka mengaku, dia senang bekerjasama dengan pasiennya. “Pasien itu rata-rata setelah selesai akan jadi teman. Jadi ke mana pun juga kalau ketemu pasien, kami bisa makan bareng. Saya seneng sekali menjalin persabatan di mana-mana. Sehingga siapapun yang tanya, pasti kalau proper saya jawab.”
(win/mer)