Orang Alzheimer, Hilang dari Pergaulan dan Meninggal Perlahan

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 10/08/2015 15:35 WIB
Orang Alzheimer, Hilang dari Pergaulan dan Meninggal Perlahan Di luar bidang bedah Profesor Bedah Saraf Eka Julianta Wahjoepramono juga tertarik mendalami alzheimer. (Allan Ajifo/Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak semua penyakit saraf otak dapat disembuhkan. Salah satu yang tidak bisa dibereskan adalah Alzheimer, kata ahli bedah saraf Eka Julianta Wahjoepramono. Di luar bidang bedah, pendiri World Academy of Neorological Surgeons tersebut tertantang untuk mendalami Alzheimer.

“Alzheimer itu pikun. Pikun itu mengerikan. Orang dengan Alzheimer atau pikun akan hilang dari pergaulan. Sepuluh tahun kemudian dia akan meninggal. Pelan-pelan meninggal,” kata profesor pendiri pendiri Yayasan Otak Indonesia tersebut.

Coba bayangkan beban besar pengidap Alzheimer bagi masyarakat, keluarga, dan orang-orang di sekitarnya. “Dan masa depan Indonesia itu akan seperti itu. Alzheimer sekarang sudah menjadi pembunuh nomor empat di dunia,” kata Eka.
Repotnya, orang dengan Alzheimer harus dirawat selama bertahun-tahun, meninggalkan kerepotan tersendiri bagi keluarga sebelum akhirnya dia meninggal dunia. Sadar akan keprihatinan tersebut, Eka pun bergabung dengan tim peneliti di Australia untuk meneliti Alzheimer. Sayang, hingga saat ini, masih belum dapat ditemukan apa penyebabnya dan apa obatnya. “Bagi kami itu adalah tantangan yang besar.”


Pikun, atau dalam istilah medisnya adalah Alzheimer, kerap dikaitkan sebagai penyakit ketuaan. Namun, Eka membantah anggapan tersebut. Menurutnya, tidak selalu sebab ada orang yang berusia 50 tahun sudah pikun. “Meskipun tua siapa yang mau pikun?” ucapnya menyanggah.
Eka lalu mencontohnya salah seorang tokoh dunia yang jadi penderita Alzheimer, yaitu mantan Presiden ke-40 Amerika Serikat Ronald Reagen. “Dia terkena Alzheimer, tapi tidak seorang pun yang dapat menolong dia dan akhirnya meninggal. Dia meninggal karena Alzheimer.”

Penderita Alzheimer di Indonesia

Jumlah penderita Alzheimer di Indonesia sebetulnya banyak, kata Eka, tapi banyak yang tidak terdeteksi. Anggapan sosial menyebut, orang tua biasanya pikun, Eka pun menyanggahnya. “Oh tidak, orang pikun itu orang sakit,” ujar Eka melanjutkan.

Dokter yang dikenal lewat terobosan pengangkatan tumor di batang otak tersebut bercerita tentang pasiennya yang kini sudah berusia 104 tahun, tapi tidak pikun. “Jadi orang pikun itu, orang sakit. Sampai sekarang Alzheimer belum memerlukan operasi, masih dicari terus obatnya apa.”

Ada salah satu jenis pikun yang dapat dioperasi, yakni pikun NPH (normal pressure hydrochephalus). “NPH itu jenis yang jarang, tapi bisa dioperasi, tapi kalau Alzheimer tidak bisa.” Eka menjelaskan, normalnya semua otak manusia memiliki air dengan jumlah sekitar 150 cc. Sementara, otak itu sendiri beratnya kira-kira setengah kilogram.

Tapi ada orang dengan penyakit tertentu yang air di otaknya tidak bisa mengalir normal. Akibatnya, air tersebut berlebihan di dalam otak. Itulah yang disebut dengan normal pressure hydrochyphalus, yang salah satu gejalanya adalah pikun.

Kasus Alzheimer termuda yang pernah ditemukan Prof Eka adalah pasien berusia 50-an. Umur 50-an terbilang cukup muda untuk pasien Alzheimer. Jika penyebab Alzheimer saja belum diketahui, jadi sejauh ini tidak diketahui cara untuk mencegahnya.

Brain check up

Namun, untuk beberapa jenis pikun, kepikunan bisa juga disebabkan oleh darah tinggi atau kolesterol tinggi yang menyebabkan otak rusak dan lama-lama menjadi pikun. Untuk pastinya, sebetulnya ada cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah kerusakan otak, salah satunya adalah dengan brain check up, kata Eka.

“Ada penyakit tertentu yang bisa dideteksi sebelum dia meledak. Brain check up itu penting banget, dan orang masih belum aware, tes ini juga mudah.” Mudah dalam arti pemeriksaannya noninvasif, sangat mudah. “Langsung tahu otaknya bagus atau tidak.”

Salah satu penyakit yang bisa dideteksi dengan brain check up adalah aneurisma, kondisi pelebaran pembuluh darah dan sering terjadi pada arteri. Salah seorang pasien dokter Eka, siang itu hendak menjalani operasi aneuresma.

Pasien asal Yogyakarta tersebut, saat itu sedang melakukan diving di Bali. Lalu tiba-tiba dia merasa oleng dan lumpuh sebelah. Saat itu dilakukan operasi darurat di Bali. Orang tersebut menderita kelainan seperti varises, seperti yang ada di kaki, tapi varises ini terjadi di otak.

“Ketika diving, varises tersebut pecah sehingga dia dianggap seperti orang stroke yang memerlukan operasi.” Seandainya pasien tersebut sudah pernah melakukan brain check up dan mengetahui kelainan itu, maka dokter bisa melakukan sesuatu sebagai tindakan pencegahan.

Namun kini dia sudah terlanjur mengalami kelumpuhan pada separuh badannya. Dan lumpuh tersebut tidak akan kembali normal meski sudah dilakukan operasi. Operasi pembedahan otak dilakukan supaya varises tidak meledak lagi.


(win/mer)


BACA JUGA