Masalah perhatian tersebut telah terlihat pada orang dewasa yang mengalami cedera otak traumatis.
Penulis penelitian Marsh Konigs dari Universitas VU, Amsterdam, mengatakan, ini merupakan penelitian pertama yang melaporkan tidak hanya penyimpangan perhatian pada anak-anak dengan cedera otak traumatis, tetapi juga efeknya terhadap kecerdasan dan permasalahan perhatian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti menemukan, waktu reaksi rata-rata anak dalam kelompok cedera otak traumatis adalah lebih lambat, dibandingkan dengan kelompok trauma lainnya.
Sebanyak 91 anak memiliki cedera otak traumatis dari tingkat sedang sampai parah. Artinya, mereka kehilangan kesadaran selama lebih dari 30 menit dan mengalami amnesia pasca-trauma setidaknya selama satu jam.
Berdasarkan laporan dari jurnal Pediatrics, kelompok ini memiliki skor IQ lebih rendah dan mengalami penyimpangan perhatian lebih banyak, dibandingkan 24 anak-anak dengan cedera otak traumatis ringan.
Masalah perhatian tersebut akan bertahan lebih dari satu tahun setelah cedera. Jadi, tidak mungkin anak-anak menyelesaikan sendiri masalah tersebut dari waktu ke waktu, ungkap Konigs.
Bradley L, Schlaggar, kepala divisi pediatrik dan pembangunan neurologi di Fakultas Kedokteran, Universitas Washington di St. Louis, Amerika Serikat, mengatakan, selama lebih dari lima belas tahun, sekarang para peneliti telah mengetahui bahwa gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) sekunder dapat berkembang setelah cedera otak pada anak-anak.
Konsekuensi cedera otak traumatis bervariasi antara anak-anak, tergantung pada tingkat keparahan cedera dan faktor-faktor lainnya, ujar Konigs.
(win/mer)