Kenapa Perpisahan Lebih Menyakitkan Buat Wanita?

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 10/08/2015 08:45 WIB
Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris, perempuan adalah pihak yang mengalami rasa sakit emosional lebih besar setelah perpisahan dibandingkan laki-laki. Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris, perempuan adalah pihak yang mengalami rasa sakit emosional lebih besar setelah perpisahan dibandingkan laki-laki. (Thinkstock/JackF)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berdasarkan sebuah penelitian di Inggris, perempuan adalah pihak yang mengalami rasa sakit emosional lebih besar setelah perpisahan dibandingkan laki-laki.

Meski begitu, para peneliti mengatakan bahwa, seiring berjalannya waktu, perempuan menjadi lebih kuat, sementara lelaki hanya melanjutkan hidup tanpa sepenuhnya pulih dari perpisahan.

Craig Morris, peneliti dari Universitas Binghamton yang juga penulis utama penelitian mengatakan bahwa perbedaan tersebut dapat ditelusuri dalam biologi manusia.  Perempuan akan menerima kehilangan lebih banyak ketika dia mengencani orang yang salah.


“Sederhananya, perempuan akan berinvestasi lebih banyak dalam sebuah hubungan daripada laki-laki,” kata Morris. Menurutnya, sebuah pertemuan romantis yang singkat akan menyebabkan kehamilan selama sembilan bulan, diikuti tahun-tahun menyusui pada perempuan leluhur manusia.

Sementara laki-laki akan meninggalkan adegan tersebut dalam hitungan menit, secara harfiah, setelah pertemuan tersebut. Jadi, tidak ada investasi biologis lebih lanjut.

Ada risiko investasi biologis yang lebih tinggi selama evolusi waktu. Akibatnya. perempuan lebih rewel dalam memilih pasangan yang berkualitas tinggi. Itu sebabnya, ketika hubungan dengan pasangan berkualitas tinggi berakhir, perempuan akan lebih tersakiti dibandingkan laki-laki.

Sebaliknya, Morris melanjutkan, karena dalam sejarah evolusi manusia laki-laki telah bersaing untuk mendapatkan perhatian romantis dari perempuan, maka hilangnya pasangan berkualitas tinggi bagi laki-laki tidak sesakit pada awalnya.

Kemungkinan, laki-laki akan merasa kehilangan dalam jangka waktu yang sangat lama karena tenggelam dalam pikiran, mereka harus bersaing kembali untuk menggantikan apa yang telah hilang. Atau karena merasa kehilangan tersebut tidak tergantikan.

Morris mengatakan, perpisahan adalah penting. Kebanyakan dari kita akan mengalami rata-rata tiga kali perpisahan pada usia 30, dengan setidaknya satu hubungan punya pengaruh begitu kuat sampai menurunkan kualitas hidup selama beberapa minggu bahkan bulan.

“Seseorang kehilangan pekerjaan, siswa keluar dari sekolah, dan individu memulai perilaku merusak diri setelah putus cinta,” katanya.

Dengan pemahaman lebih baik atas respons emosional dan fisik perpisahan, yang juga dikenal sebagai hubungan pasca-kesedihan, kita bisa mengurangi dampaknya pada individu.

Para peneliti dari Universitas Binghamton dan Universitas College London meminta kepada sekitar 5.705 peserta di 96 negara untuk menilai rasa sakit emosional dan fisik akibat perpisahan. Penilaian dari skala satu (tidak sakit) sampai sepuluh (sakitnya tidak tertahankan).

Mereka menemukan, perempuan cenderung lebih terpengaruh secara negatif oleh perpisahan, dengan laporan tingkat rasa sakit emosional dan fisik yang lebih tinggi. Rata-rata perempuan mengalami penderitaan emosional sebesar skala 6,84 dibandingkan laki-laki, yakni dengan skala 6,58.

Sementara itu, dalam hal sakit secara fisik, skali penderitaan perempuan rata-rata adalah 4,21, dan laki-laki 3,75.

Kendati perpisahan lebih merupakan pukulan berat bagi perempuan secara emosional dan fisik, perempuan lebih cepat pulih secara utuh dan lebih kuat secara emosional. Laki-laki, di lain pihak, tidak pernah benar-benar pulih dari perpisahan, mereka hanya melanjutkan hidup, berdasarkan temuan penelitian.

(win/win)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK