Risiko Penyakit Diabetes Juga Hantui Perokok Pasif

Fadli Adzani, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2015 14:35 WIB
Risiko Penyakit Diabetes Juga Hantui Perokok Pasif Ilustrasi diabetes. (Pixabay/stevepb)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit diabetes tak hanya perkara orang yang bermasalah dengan pola diet dan kurangnya aktivitas fisik. Tapi juga ancaman bagi para perokok.

Uniknya lagi sebuah penelitian membuktikan rokok tak hanya berisiko  bagi perokok aktif. Tapi juga bagi perokok pasif.

Studi tersebut menunjukkan bahwa perokok pasif 22 persen lebih mungkin mengidap diabetes, sedangkan perokok aktif 37 persen lebih mungkin terserang penyakit itu.


Dilansir dari laman Daily Times, semakin banyak rokok yang Anda hisap, semakin besar risikonya, yakni 21 persen bagi para perokok ringan, 34 persen bagi perokok sedang dan 57 persen bagi perokok berat.

Bagi mereka yang sudah berhenti merokok, pun juga berisiko terkena diabetes sebanyak 14 persen.

Bagi mereka yang baru berhenti merokok, selama lima tahun pertama, mereka berisiko 54 persen terserang diabetes, kemudian menurun di lima tahun setelahnya, yakni 18 persen, dan kembali merendah menjadi 11 persen setelah 10 tahun berhenti merokok.

Sebuah studi terbaru memperkirakan bahwa sekitar 11,7 persen kasus diabetes pada pria dan 2,4 persen pada wanita di dunia, sekitar 27,8 juta kasus diabetes, disebabkan oleh kebiasaan merokok di dunia, jika kebiasaan itu dianggap sebagai akibat dari merokok.

Para peneliti berargumen bahwa peringatan kesehatan dari bahaya merokok, harus mengikutsertakan diabetes sebagai penyakit yang dapat muncul dari kebiasaan merokok.

"Para dokter harus menyinggung hal itu, sama halnya dengan penyakit kardiovaskular dan kanker lainnya, merokok juga harus dilihat sebagai faktor risiko diabetes, meskipun dengan efek relatif kecil, seperti kanker paru-paru misalnya," kata Naveed Sattar, seorang profesor di Unversitas Glasgow, Irlandia.

"Para pasien yang merokok juga harus diinformasikan, bahwa berhenti merokok, tidak hanya mengurangi risiko penyakit kardiovaskular atau kanker, namun juga risiko diabetes," Sattar menambahkan.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Frank Hu dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, serta An Pan dari Universitas Huangzhong, China, menyarankan agar pesan-pesan publik tentang kesehatan seharusnya mencakupkan risiko diabetes dalam bahaya yang disebabkan oleh merokok.

Sebelumnya, pada tahun lalu, laporan ahli bedah Amerika Serikat, untuk pertama kalinya mencantumkan hubungan merokok dengan risiko diabetes, namun tidak mendiskusikan risiko dari perokok pasif dan berhenti merokok dengan risiko diabetes.

Hubungan diabetes dan rokok

Bagaimana rokok bisa mempengaruhi kadar gula dalam darah? Hal ini pernah menjadi subjek penelitian  Xiao-Chuan Liu, PhD, peneliti dari California State Polytechnic University di Pomona, Amerika Serikat.

Dalam penelitianya di laboratorium seperti dilansir dari WebMD dia memaparkan sampel darah manusia dan nikotin.  Liu menggunakan sel darah dari para responden, perokok dan bukan, dan menelitinya di laboratorium dengan menggunakan glukosa dan nikotin dalam berbagai variasi konsentrasi.

Liu menemukan nikotin bisa menaikkan kadar HbA1c hingga 9 hingga 34,5 persen tergantung dari paparan nikotinnya.

Hasilnya nikotin dalam darah bisa meningkatkan kadar hemoglobin A1c (HbA1c) dalam darah yang berarti semakin tinggi pula kadar gula dalam darah.

Semakin tinggi kadar nikotin semakin tinggi pula kadar hemoglobin A1c-nya.

Selama bertahun-tahun, dokter sudah tahu bahwa para perokok cenderung punya kendali gula darah yang buruk dibanding para pengidap diabetes yang bukan perokok.

Hingga ada penelitian ini, Liu mengklaim tidak seorangpun yang yakin dari 4.000 zat kimia berbahaya dalam rokok maka yang paling bertanggung jawab terhadap berantakannya kadar gula darah perokok.

 Peter Galier, MD  dokter dan pimpinan Santa Monica--UCLA Medical Center & Orthopaedic Hospital yang tak terlibat dengan penelitian Liu, menganggap penelitian Liu cukup masuk akal.

“Dari dulu saya selalu curiga nikotin memang biang keladinya. Penelitian Liu semakin menjelaskan mengapa para perokok rata-rata punya kadar HbA1c yang tinggi pula,” kata Galier yang juga dosen di University of California Los Angeles David Geffen School of Medicine.