Seakan mematahkan mitos yang selama ini beredar bahwa pengidap Alzheimer yang juga termasuk Demensia alias pikun adalah usia lanjut, pasien penyakit serupa di Jawa Barat sudah mencapai usia 22 tahun.
Yang juga mengkhawatirkan, Alzheimer ternyata merugikan secara ekonomi. Kerugian keluarga pasien Alzheimer di Indonesia tercatat meningkat, dari US$1,7 miliar (Rp24,8 triliun) menjadi US$2 miliar (Rp29,2 triliun) per tahun. Kerugian itu timbul dari banyak faktor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, kesadaran akan Alzheimer sudah mulai meningkat. Kalau dahulu itu dianggap penyakit wajar karena faktor usia, kini masyarakat mulai aktif mencari informasi mengenai pencegahan dan pengurangan risiko.
Dalam keterangan pers kepada CNN Indonesia, Minggu (27/9) Menteri Kesehatan Prof. Dr. Nila F. Moeloek, SpM(K) juga menyampaikan komitmen pemerintah untuk terus menyosialisasikan penyakit Alzheimer dari hulu hingga hilir.
Di sisi hulu, pemerintah telah menandatangani Rencana Aksi Nasional Pencegahan Demensia (National Dementia Plan). Indonesia akan menjadi negara ke-21 yang memiliki Rencana Pencegahan Demensia dibanding seluruh dunia.
Sementara di sisi hilir, pemerintah tak henti-hentinya menyarankan masyarakat untuk hidup sehat, tanpa rokok serta alkohol.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sudah menyatakan dukungannya pada upaya pencegahan Alzheimer. Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang ikut menghadiri Jalan Sehat Melawan Pikun Peduli Alzheimer di Monas, Jakarta pagi tadi mengatakan banyak fasilitas khusus yang bisa dimanfaatkan para pengidap Alzheimer.
"Seperti taman lansia serta ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA). Pemprov DKI Jakarta juga mengadakan poco-poco setiap Jumat pagi untuk mencegah kepikunan di lingkungan PNS," ujar Ahok menyampaikan dukungannya. (rsa)