Kendati endometriosis, yang tak jarang dianggap sebagai 'masalah perempuan', bisa memiliki gejala tidak terlihat, penyakit ini tetap bisa menyebabkan masalah kesuburan pada perempuan. Endometriosis diduga diidap oleh sekitar 176 juta perempuan di seluruh dunia.
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan endometriosis sebagai 'skandal besar', karena penelitian terhadap penyakit ini tak menarik banyak dana.
Endometriosis terjadi ketika jaringan dalam lapisan dalam dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rongga rahim, misalnya ovarium, kandung kemih, atau usus. Dia akan berdarah setiap bulan yang dapat menyebabkan rasa sakit parah hingga membuat pengidapnya pingsan.
Karena kerap tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun, tak ayal endometriosis juga bisa menyebabkan depresi, masalah dalam pernikahan, dan pekerjaan. Dilansir dari laman Independent, di Inggris ada sekitar 1,6 juta pengidap penyakit ini, seperti dilaporkan oleh Guardian.
“Ibu saya berpikir saya adalah anak pemurung, tapi ternyata saya mengidap penyakit ini. Semua yang salah terjadi pada saya ternyata adalah endometriosis,” katanya.
“Seorang dokter mengatakan, 'itu hanya ada di kepala, kamu harus menghadapinya'.”
Sebelumnya dokter mengira itu hanya sindrom iritasi usus, gangguan makan, kista, atau depresi, sampai akhirnya penyebab sebenarnya ditemukan.
Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga amal tersebut menemukan, 25 persen pengidap endometriosis berpikir untuk bunuh diri karena kondisi tersebut.
“Penyakit ini dapat memengaruhi hampir setiap bidang kehidupan Anda, bekerja, karier, penghasilan, hubungan seksual, dan kesuburan,” kata Jane Hudson, kepala eksekutif Yayasan Amal Endometriosis di Inggris.
(win/utw)