25 Persen Pengidap Endometriosis Berpikir untuk Bunuh Diri

Windratie | CNN Indonesia
Selasa, 29 Sep 2015 11:11 WIB
Sekitar 50 persen perempuan muda pengidap endometriosis berjuang untuk bisa berhubungan seks karena aktivitas tersebut sangat menyakitkan bagi mereka. Ilustrasi perempuan sakit perut. (Thinkstock/Ana Blazic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diperkirakan satu dari sepuluh perempuan usia produktif mengidap penyakit yang dapat menyebabkan infertilitas dan rasa sakit parah yang melemahkan, berdasarkan sebuah laporan penelitian.

Kendati endometriosis, yang tak jarang dianggap sebagai 'masalah perempuan', bisa memiliki gejala tidak terlihat, penyakit ini tetap bisa menyebabkan masalah kesuburan pada perempuan. Endometriosis diduga diidap oleh sekitar 176 juta perempuan di seluruh dunia.

Lone Hummelshoj, kepala Lembaga Penelitian Endometriosis Dunia dan Masyarakat Endometriosis Dunia mengatakan kepada harian Guardian, “Endometriosis memengaruhi perempuan ketika berada di puncak kehidupan mereka. Ini bukan penyakit karena gaya hidup. Ini juga bukan penyakit yang Anda dapatkan di hari tua.”


“Penyakit ini menyerang remaja dan perempuan muda dalam usia aktif untuk bekerja, memiliki anak, atau berhubungan seks. Sekitar 50 persen dari mereka berjuang ketika berhubungan seks karena itu terlalu menyakitkan.”

Dia mengatakan endometriosis sebagai 'skandal besar', karena penelitian terhadap penyakit ini tak menarik banyak dana.

Endometriosis terjadi ketika jaringan dalam lapisan dalam dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rongga rahim, misalnya ovarium, kandung kemih, atau usus. Dia akan berdarah setiap bulan yang dapat menyebabkan rasa sakit parah hingga membuat pengidapnya pingsan.

Karena kerap tidak terdiagnosis selama bertahun-tahun, tak ayal endometriosis juga bisa menyebabkan depresi, masalah dalam pernikahan, dan pekerjaan. Dilansir dari laman Independent, di Inggris ada sekitar 1,6 juta pengidap penyakit ini, seperti dilaporkan oleh Guardian.

Niki Dally (33), yang tinggal di Wales, Inggris, mengatakan bahwa dia mengidap endometriosis ketika usianya 11 tahun. Namun, penyakit tersebut baru terdiagnosis secara pasti sepuluh tahun kemudian.

“Ibu saya berpikir saya adalah anak pemurung, tapi ternyata saya mengidap penyakit ini. Semua yang salah terjadi pada saya ternyata adalah endometriosis,” katanya.

“Seorang dokter mengatakan, 'itu hanya ada di kepala, kamu harus menghadapinya'.”

Sebelumnya dokter mengira itu hanya sindrom iritasi usus, gangguan makan, kista, atau depresi, sampai akhirnya penyebab sebenarnya ditemukan.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh lembaga amal tersebut menemukan, 25 persen pengidap endometriosis berpikir untuk bunuh diri karena kondisi tersebut.

“Penyakit ini dapat memengaruhi hampir setiap bidang kehidupan Anda, bekerja, karier, penghasilan, hubungan seksual, dan kesuburan,” kata Jane Hudson, kepala eksekutif Yayasan Amal Endometriosis di Inggris.

(win/utw)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER