Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Tanda Gangguan Kejiwaan

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Selasa, 06/10/2015 08:18 WIB
Perubahan Perilaku Anak Bisa Jadi Tanda Gangguan Kejiwaan Ilustrasi perubahan perilaku anak. (Thinkstock/BrianAJackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter spesialis kedokteran jiwa atau psikiatri Suryo Dharmono mengatakan gangguan kejiwaan tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tapi juga anak-anak.

Untuk mendeteksinya, orang tua harus memperhatikan perilaku anak sehari-hari.

Gangguan kejiwaan pada anak-anak seringkali ditandai dengan adanya perubahan perilaku.


Misalnya saja anak yang tadinya memiliki performa baik di sekolah, tiba-tiba nilainya menurun.

"Mereka yang mengalami gangguan kejiwaan juga bisa tiba-tiba menarik diri, menjadi nakal, atau sering terlibat perkelahian dan gangguan belajar," kata Suryo saat ditemui di Pekan Kesehatan Jiwa Universitas Atmajaya, Jakarta, kemarin.

Sayangnya, menurut Suryo, banyak orang tua yang justru mengabaikan perubahan yang terjadi pada anaknya. Katanya, kenakalan adalah bentuk perubahan wajar pada setiap anak.

Yang lebih parah, ada juga orang tua yang justru mencurigai anak-anaknya ketika perubahan perilaku terjadi. Yang paling sering dijadikan kambing hitam adalah penyalahgunaan narkoba.

"Itu adalah indikasi yang salah. Kalau ada perubahan perilaku seperti itu perlu evaluasi mulai dari orang tua, guru BP sampai psikolog sekolah. Kalau butuh perawatan baru ke psikiater," ujar Suryo.

Secara umum, ada beberapa gangguan kejiwaan yang dialami oleh anak. Suryo menyebutkan, autisme dan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder).

Autisme biasanya muncul sebelum anak berusia tiga tahun. Ada gangguan perkembangan kompleks berupa gangguan neurologi pervasif yang terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak.

Akibat gangguan ini anak secara otomatis tidak dapat belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga seolah-olah ia hidup dalam dunianya sendiri.

Sementara itu, ADHD atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas merupakan gangguan yang menyebabkan anak melakukan aktivitas yang sangat banyak dalam situasi yang tidak sesuai.

Anak tidak mampu menghentikan aktivitasnya bila diperintahkan. Ia hanya bisa melaksanakan tugas dengan kecepatan tertentu saja dan memiliki masalah dalam belajar, perilaku, dan kegiatan lainnya.

Meski anak-anak penderita gangguan mental umumnya berupa autisme dan ADHD, tapi Suryo juga mengatakan mereka juga bisa menderita schizophrenia dan bipolar. Biasanya gangguan ini menghinggapi para remaja.

"Bipolar bisa mulai remaja. Justru puncak on set pada 13-15 tahun dan 20-30 tahun. Ada 30 persen yang pada usia 13-15," ujar Suryo.

Gangguan bipolar menyebabkan anak mengalami perubahan ekstrem pada suasana perasaannya.

Anak dengan gangguan bipolar mengalami perubahan suasana perasaan mulai dari kebahagiaan atau euforia dan putus asa yang mendalam atau cenderung murung.

Sedangkan schizophrenia merupakan gangguan mental kronis yang dapat menimbulkan gangguan pikiran dan persepsi pada dunia nyata. Gangguan ini juga bisa melemahkan para penderitanya.

"Kalau kita kenali lebih dini penanganannya lebih bagus dan prognosisnya (gambaran perkembangan dari penyakit) akan lebih baik," kata Suryo.

(utw/utw)