Rendahnya Tingkat Tatap Muka Tingkatkan Risiko Depresi

Dina Agustina, CNN Indonesia | Rabu, 07/10/2015 11:59 WIB
Rendahnya Tingkat Tatap Muka Tingkatkan Risiko Depresi Kontak digital seperti surat elektronik menjadi penyebab depresi. (Ilustrasi/Getty Images/Devonyu)
Michigan, CNN Indonesia -- Satu penelitian menyimpulkan bahwa mengganti kontak tatap muka dengan teman dan keluarga dengan surat elektronik, pesan singkat elektronik dan sambungan telepon bisa meningkatkan risiko depresi dua kali lebih besar.

Penelitian yang dilakukan terhadap 11 ribu responden ini menemukan bahwa mereka yang bertemu langsung dengan teman-teman dan keluarga setidaknya tiga kali seminggu, kecil kemungkinan mengalami depresi.

Sementara seseorang yang melakukan kontak langsung dengan keluarga dan teman-teman hanya sekali setiap beberapa bulan, memiliki kemungkinan sebesar menderita depresi dua tahun kemudian, dengan tingkat kemungkinan sebesar 11,5 persen.


Sebaliknya, mereka yang bertemu dengan keluarga dan teman-teman setidaknya tiga kali seminggu memiliki gejala depresi paling rendah, dengan tingkat kemungkinan 6,5 persen.

Studi yang dilakukan Univesitas Michigan dan diterbitkan di Journal of the American Geriatrics Society, ini adalah penelitan pertama yang mempelajari dampak jenis kontak sosial yang berbeda terhadap depresi.

Dalam penelitian ini, responden berusia 50 tahun ke atas dimonitor selama dua tahun.

Meski ditemukan hubungan kuat antara kontak langsung dan depresi, rutinitas dan kuantitas kontak dengan orang-orang terdekat melalui telepon, surat elektronik atau media sosial terbukti tidak berpengaruh pada pencegahan depresi

Dr. Alan Teo, pemimpin penelitian ini dan pengajar psikiatri dari Universitas Oregon, mengatakan: “Kami menemukan bahwa seluruh bentuk sosialisasi tidak sama. Hubungan telepon dan komunikasi digital, dengan teman atau anggota keluarga, tidak memiliki dampak yang sama kuat seperti interaksi sosial langsung dalam menghindari depresi.”

Studi ini juga menemukan bahwa, pada usia berbeda, responden mendapat manfaat dari bentuk hubungan yang berbeda.

Para peneliti menemukan, di kalangan manula berusia 50-59 tahun, kontak langsung dengan teman yang sering dilakukan mengurangi risiko depresi yang akan timbul.

Sementara untuk responden berusia di atas 70 tahun, kontak dengan anak dan anggota keluarga lain memiliki dampak yang paling besar.

Dr. Teo mengatakan: “Penelitian yang ada sejak lama menyatakan bahwa ikatan sosial yang kuat memperkuat kesehatan mental seseorang. Namun, penelitian ini untuk kali pertama melihat peran jenis komunikasi dengan handai taulan dalam mencegah seseorang menderita depresi.”

Namun studi ini tidak membuktikan bahwa kekurangan kontak langsung menyebabkan peningkatan risiko terkena depresi.

Mereka yang kemudian menjadi depresi kemungkinan memilih untuk tidak bertemu teman dan keluarga.

Studi ini juga memasukkan faktor-faktor pendukung yang suda ada sebelumnya seperti responden sudah menderita depresi ketika penelitian dilakukan. (yns)