'Kenapa Saya Jatuh Cinta Pada Pulau Weh'

Ricky Surya Virgana, CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2016 08:21 WIB
'Kenapa Saya Jatuh Cinta Pada Pulau Weh' Keindahan taman bawah laut Pulau Weh, Sabang. (Dok. Surya Alamsyah/Ricky Virgana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia adalah destinasi surga untuk para penyelam baik lokal maupun internasional. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ratusan bahkan ribuan titik penyelaman yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kelebihan lainnya, iklim tropis yang menjamin air laut tidak dingin untuk diselami.

Jika saya pribadi disuruh memilih spot favorit untuk diving di Indonesia mungkin untuk saat ini, jawaban saya akan tertuju kepada Pulau Weh yang terletak di Pulau Sabang, Provinsi Aceh.

Saya yakin, jika pertanyaan ini diberikan pada penyelam lain, hampir seratus persen mereka akan menjawab Raja Ampat atau Pulau Komodo.


Saya memang belum pernah ke Raja Ampat, tapi saya pernah menyambangi Pulau Komodo dan juga beberapa tempat destinasi menyelam lainnya. Tapi, saya tetap jatuh hati pada Pulau Weh.
Ricky Virgana saat mengunjungi Pulau Weh, Sabang, untuk menyelam. (Dok. Surya Alamsyah/Ricky Virgana)
Tepatnya akhir Desember tahun lalu, saya merencanakan dive trip ke Pulau Weh. Kebetulan, band saya, White Shoes And The Couples Company, ada jadwal manggung di Kota Medan. Dari jauh-jauh hari saya sudah menghubungi beberapa resort dan juga Dive Center di sekitar Pulau Weh.

Begitu hari yang direncanakan tiba, saya langsung berangkat dari Medan menuju Banda Aceh. Waktu itu, tidak ada direct flight dari Medan ke Sabang ataupun dari Jakarta ke Sabang.

Sesampainya di Bandara Udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, saya melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk melanjutkan perjalanan menyebrangi Selat Benggala menggunakan kapal cepat Exspress Bahari.

Empat puluh lima menit kemudian, saya sampai di Pelabuhan Balohan, Sabang. Disana, saya dijemput Faisal yang mengantarkan saya menuju Pulau Rubiah, tepatnya di Iboih Resort, tempat saya tinggal selama tujuh hari di Pulau Weh.
Akomodasi yang terhitung sangat bersahabat, dengan pelayanan kelas wahid. Kamarnya bersih, berfasilitas AC,Wi-Fi, kamar mandi dan sarapan. Belum lagi pemandangan dari area restoran yang mengahadap ke laut dan bukit-bukit.

Ada juga jetty terapung yang dilengkapi tangga langsung ke air laut seakan membuat kita seperti berada di kolam renang pribadi.

Sedikit tips, sebaiknya booking tempat ini dari jauh-jauh hari karena jumlah kamar yang sedikit, membuat resort ini selalu penuh dengan wisatawan.
Moray eel yang di taman laut Pulau Weh. (Dok. Surya Alamsyah/Ricky Virgana)
Tapi, tak perlu khawatir, di Sabang, masih banyak tempat penginapan lain, mulai kelas backpacker dengan harga ekonomis hingga penginapan sekelas resort.

Saya jadi teringat kutipan Jimi Multazam di lirik lagu Morfem, “Ku tertidur dimana pun aku bisa, ku bermimpi kapan pun ku mau.”

Bagi saya, tempat untuk tidur bukanlah halangan buat menikmati indahnya alam ini.

Titik penyelaman pertama saya di Pulau Weh adalah Batee Tokong yang dalam Bahasa Indonesia berarti Batu Kuat. Sekilas saya menyadari bahwa penamaan Batee Tokong terhadap dive spot ini dilakukan secara literal.

Di spot pertama inilah saya langsung jatuh hati dengan dunia bawah laut Pulau Weh. Bagaimana tidak, baru saja saya mencapai di kedalaman lima meter saya sudah bertemu dengan banyak ikan kecil berwarna-warni yang mengelilingi saya, lalu disambut dengan banyaknya sea fan berukuran besar dengan warna shocking pink, ungu, dan biru.
Ricky Viirgana mengaku jatuh cinta pada keindahan bawah laut Pulau Weh. (Dok Surya Alamsyah/Ricky Virgana)
Di spot ini pula saya pertama kali menemukan begitu banyak moray eel yang bersembunyi di celah-celah karang. Bahkan ada yang lewat melintasi saya.

Sembari mengagumi indah dan sehatnya ekosistem bawah laut di Pulau Weh, saya bersenandung dalam hati, lirik lagu Echoes dari Pink Floyd: “And deep beneath the rolling waves in labyrinths of coral caves”.

Seketika pandangan saya terkunci kepada sekumpulan ikan Barracuda yang sedang melintas bersama kawanannya, mungkin sekitar lima puluh ekor. Tapi, sajian utama penyelaman siang itu adalah penampakan Hiu Grey Tip.

Padahal, waktu itu, jarak pandang hanya mencapai 20 meter dikarenakan hujan turun lebat di akhir bulan Desember. Tetapi, itu tidak mengurangi indahnya surga bawah laut Pulau Weh.

Begitupun pada penyelaman kedua, kali ini saya bersama beberapa dive master dari Rubiah Tirta Dive Center melaju cepat menuju spot yang disebut dengan The Canyon.

Di spot ini terdapat arus yang sangat kuat, akan tetapi sepandan dengan apa yang saya temui di bawahnya. Tidak terdapat soft coral, tetapi begitu banyak batu-batuan yang besar dan menyimpan aura mistis yang sangat kuat.
Ricky mengaku mengalami banyak momen magis saat menyelam di Pulau Weh. (Dok. Surya Alamsyah/Ricky Virgana)
Beberapa batu bertumpuk membentuk gua dan lorong. Kali ini tidak hanya ribuan ikan kecil dan moray eel, saya sempat bertemu dengan beberapa hiu Black Tip, schooling jackfish, barracuda dan napoleon wrasse.

Di Pulau Weh, saya mengalami banyak momen magis. Seperti hangatnya gelembung yang keluar secara alami pada kedalaman sepuluh meter di titik penyelaman Underwater Volcano, sambil ditemani puffer fish yang sangat bersahabat dengan manusia. Sementara, bagi para pecandu Wreck Diving, Anda bisa menguji adrenalin ke Sophie Rickmers di kedalaman enam puluh meter.

Buat saya pribadi, Weh adalah sebuah destinasi menyelam yang paling lengkap. Tidak hanya dunia bawah lautnya yang indah, bagian daratnya pun tak kalah indahnya, lengkap dengan beberapa benteng peninggalan perang dunia ke-dua.

Itulah alasan mengapa Pulau Weh akan selalu menjadi salah satu destinasi diving favorit buat saya. (les/les)