Pertengkaran Orangtua Ganggu Perkembangan Mental Anak

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Kamis, 24/03/2016 07:57 WIB
Pertengkaran Orangtua Ganggu Perkembangan Mental Anak Hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak memengaruhi kesehatan mental anak jangka panjang. (Thinkstock/Szepy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tidak mudah menjadi orangtua. Terkadang, argumentasi dan pertengkaran tidak bisa dihindari. Namun, jika ada anak di dekat Anda, sebaiknya, tunda perdebatan.

Pasalnya, anak yang kerap menyaksikan pertengkaran orangtua, berisiko punya masalah mental saat dewasa. Bahkan, di kasus yang ekstrim, mereka punya keinginan bunuh diri.

Hal tersebut merupakan kesimpulan dari penelitian University of Sussex, yang disponsori oleh Departemen Tenaga Kerja Inggris.


Kondisi mental anak bisa terganggu lebih parah jika orangtua melakukan ‘perang dingin’ dalam kurun waktu lama.

Studi tersebut memeriksa hubungan antara orangtua dan anak. Peneliti kemudian membandingkan kondisi mental anak dari orangtua yang punya hubungan harmonis dan yang berkonflik.

Hasilnya, orangtua yang kerap bertengkar dengan pasangannya, punya perilaku lebih agresif terhadap anak, selain kurang memerhatikan kebutuhan mereka.

Anak-anak yang terekspos konflik tersebut secara terus-menerus atau dalam waktu lama, umumnya tubuh menjadi orang dewasa dengan perilaku agresif dan mudah melakukan kekerasan. Mereka juga memiliki kepercayaan diri yang rendah, mudah cemas, serta rentan depresi.

Para peneliti menyebut anak-anak dengan orangtua yang berkonflik lebih sering memikirkan bunuh diri.

Mereka juga kurang bersaing di bidang akademik, yang bisa berimbas pada kesuksesan di masa depan.

Carey Oppenheim, Chief Executive Early Intervention Foundation (EIF), organisasi nirlaba yang fokus pada anak-anak bermasalah, menyebut pertengkaran orangtua memberi pengaruh besar pada anak.  “Orangtua harus mengingat bahwa konflik dalam rumah tangga bisa menjadi hal vital dalam perkembangan emosi anak di masa depan,” sebutnya, dilansir dari Independent.

Sementara Profesor Gordon Harold, dari Fakultas Psikologi University of Sussex mengatakan dari studi tersebut bisa disimpulkan bahwa hubungan orangtua-anak merupakan pengaruh terkuat dalam kesehatan mental anak jangka panjang.

“Ini bukan hanya memengaruhi satu generasi, tapi juga generasi selanjutnya di masa depan,” sebut Harold. (les)