Menurut data dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian pada 2011, diketahui bahwa konsumsi buah-buahan masyarakat Indonesia hanya 34,55 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi sayuran sebagai salah satu sumber serat bagi kesehatan, selain buah, di Indonesia hanya 40,35 kilogram per kapita per tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam data tersebut terlihat bahwa China menjadi negara terbanyak mengonsumsi buah dengan capaian lebih dari 250 kilogram buah per kapita per tahun. Disusul dengan Singapura dan Vietnam, lalu Kamboja. Indonesia tidak sampai 50 kiloram per kapita per tahun.
Sedangkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2013 menyatakan bahwa sekitar 93 persen anak di atas 10 tahun mengalami kekurangan konsumsi buah dan sayur. Data tersebut terkumpul sejak 2007 hingga 2013 dari seluruh provinsi di Indonesia.
Tercatat dalam data Riskesdas tersebut, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah provinsi dengan angka terbaik konsumsi buah dan sayur, sedangkan Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan angka anak kurang konsumsi buah dan sayur tertinggi di Indonesia.
Kurangnya konsumsi buah dan sayur yang merupakan penyuplai utama dari serat dan mikronutrien seperti vitamin, mineral, dan beberapa enzim yang membantu pencernaan.
"Penyakit tidak menular kronis seperti jantung, stroke, dan kanker itu salah satunya disebabkan oleh kelainan faktor biologis seperti obesitas, gula darah, tekanan darah, dan lipid darah. Nah kelainan itu juga terjadi karena salah satunya dengan gaya hidup yang salah seperti kurang mengonsumsi buah," kata Fiastuti.
"Penelitian yang dirilis dalam Medicine Journal 2016 ini menyebutkan bahwa semakin tinggi konsumsi buah per hari dapat menurunkan rasio risiko kematian dari berbagai sebab seperti penyakit kardiovaskular, koroner, iskemik, dan stroke," katanya.
Berbagai himbauan konsumsi buah sebenarnya sudah ada dan berulang kali disampaikan kepada masyarakat, termasuk rekomendasi mengonsumsi buah. Menurut National Health and Medical Research Council (NHMRC), konsumsi buah dan sayuran yang baik adalah dua jenis buah dan lima jenis sayuran setiap harinya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyarankan masyarakat mengonsumsi 400 gram buah dan sayur setiap hari. Termasuk di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyarankan buah-buahan dikonsumsi dua hingga tiga porsi per hari. Namun ternyata berbagai rekomendasi ini masih belum mempan untuk telinga masyarakat Indonesia.
"Pengalaman saya, kebanyakan orang merasa yang terpenting sudah makan, itu sudah cukup. Jadi ini bisa berarti kesadaran masyarakat masih kurang. Kemudian bisa juga karena kesibukan sehingga makan di luar atau lingkungan kerja yang sibuk jadi ingin praktis," kata Fiastuti.
"Dan bisa jadi karena mendapatkan buah tidak mudah. Memang ada seperti rujak yang mudah, tapi masih banyak juga kalau dapat makanan bungkus tidak beserta buah kecuali bayar lebih. Kalau soal mahal kan relatif, banyak kok buah yang murah seperti pepaya, apel lokal juga baik," lanjutnya.
Asumsi Fiastuti tampaknya juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik pada 2014 tentang Presentase Pengeluaran Rata-rata per Kapita Sebulan. Menurut data tersebut, dari 46,45 persen jatah makanan dari pendapatan per bulan per kapita, porsi sayur-sayuran hanya mencapai 3,45 persen pada September 2014. Sedangkan buah-buahan lebih sedikit lagi, hanya 2,12 persen.
Sebagian masyarakat menghabiskan porsi makanan dengan membeli makanan jadi yang mencapai 12,56 persen. Kemudian disusul oleh beras mencapai angka 6,58 persen. Malah, sebanyak 6,03 persen jatah pendapatan untuk makanan dihabiskan untuk minuman alkohol. (les)