Bahaya Kelewat Sering Menghangatkan Makanan

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 02/06/2016 17:48 WIB
Kebiasaan orang Indonesia yang ’sayang’ membuang makanan, membuat mereka seringkali menghangatkan makanan. Makanan yang dihangatkan dengan tidak benar, bisa menyebabkan keracunan. (Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menyimpan sisa makanan di lemari es atau di meja makan, sudah jadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Sisa makanan tersebut, bisa dihangatkan kembali atau diolah menjadi makanan baru, dan disantap di waktu makan berikutnya.

Hal tersebut dikarenakan, tradisi orang Indonesia yang ’sayang’ membuang makanan. Terlebih jika itu adalah makanan favorit.

Namun, jika tidak dihangatkan kembali dengan benar, makanan lezat tersebut ternyata bisa menyebabkan kasus serius yaitu keracunan makanan.


Pasalnya, kualitas makanan tidak akan menjadi lebih baik ketika dihangatkan. Bahkan, tambahan minyak saat makanan digoreng kembali bisa terus bertumpuk dalam tubuh. Selain itu, terkadang orang tidak memperhatikan suhu saat menghangatkan makanan. Padahal memastikan panas tersebar merata saat makanan dihangatkan kembali, sangatlah penting.

Food Standards Agency (FSA), badan pengawasan standar makanan di Amerika Serikat, meyebut bahwa nasi adalah salah satu makanan yang harus diwaspadai untuk dihangatkan kembali.

"Nasi yang dibawa pulang atau pakai pesan antar idealnya harus segera dikonsumsi, terutama nasi goreng telur atau nasi gurih yang sering dikaitkan dengan bakteri Bacillus cereus, penyebab keracunan makanan," katanya, dikutip Independent.

Mereka pun menyarankan alternatif terhadap hal ini, untuk mendinginkan nasi yang tak habis dikonsumsi ke dalam lemari es, dan hanya dipanaskan kembali sekali untuk menghindari risiko keracunan.

"Jika memesan makanan beku, makanan tersebut harus dipanaskan hanya dalam kurun waktu 24 jam. Kami sarankan selalu mencairkan makanan di lemari es," katanya.

"Sebelum makan, pastikan sisa makanan yang dipanaskan secara menyeluruh mencapai suhu inti 70 derajat celsius selama dua menit atau sepadan," tambahnya.

Data FSA, jumlah keseluruhan kasus akibat keracunan makanan mencapai satu juta pertahun. FSA menyebut bahwa makanan dari unggas adalah penyebab kasus keracunan makanan terbesar, yakni sebesar 244 ribu kasus setiap tahun. Sementara Campylobacter adalah patogen yang paling umum pada daging, dan menjadi penyebab infeksi atau keracunan dengan sekitar 280 ribu kasus setiap tahun. (les)