Mengembalikan Rasa Dalam Sajian Makanan 'Fotogenik'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Rabu, 01/06/2016 09:07 WIB
Di era digital, makanan bukan lagi sekadar pengisi perut melainkan konten ‘simbol status’ di media sosial. Sayang, rasa sering jadi nomor dua. Makanan kini menjadi salah satu konten media sosial paling populer, tapi soal rasa, justru banyak yang abai. (Thinkstock/Scyther5)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maraknya penggunaan media sosial di era digital, memicu orang-orang untuk tampil kreatif dalam menyajikan konten yang hendak diunggah dalam akun mereka. Konten foto makanan telah berada dalam urutan atas menjadi pilihan yang paling sering diunggah.

Tak hanya untuk kepentingan pribadi sekadar menjaring pengikut, media ini dimanfaatkan untuk promosi bisnis yang digeluti untuk mengundang pembeli. Orang pun akhirnya berlomba-lomba menghadirkan foto makanan paling cantik, yang mengundang daya tarik.

Contohnya adalah Adinda Zuleika, pemilik bisnis pastry ini mengaku bahwa tampilan sangat penting untuk menunjang daya tarik produknya agar terlihat lezat dan menarik.


"Mengambil gambar dari hidangan yang terlihat lezat dan menarik sangat penting bagi saya untuk mempromosikan bisnis melalui media sosial, dan pada akhirnya mampu meningkatkan performa bisnis saya," kata Adinda saat acara 'Story On a Plate' pada Selasa (31/1) di Kaffeine, Jakarta.

Sayangnya, daya tarik media sosial sebagai sarana promosi bagi restoran atau pebisnis kuliner, membuat tampilan jadi ‘senjata’ utama, mengalahkan rasa. Imbasnya, pelanggan kecewa.

Pasalnya, soal makanan, rasa adalah yang utama. Tampilan tak ubahnya garnish, yang akan disisihkan saat makanan disendok dalam mulut.

Untuk itu, selain menghadirkan sajian yang fotogenik, perhatian pada rasa makanan juga tidak bisa ditinggalkan. Dengan kata lain, harus ada keseimbangan antara rasa dan presentasi dari suatu makanan.

"Dua-duanya penting, dari penampilan dan segi rasa. Memang agak susah kalau pertama hanya lihat dari gambar, tetapi kalau pilihannya cocok akan membuat customer balik lagi,” kata Advisory Chef Fonterra Foodservices Indonesia, Yus Andriana.

Dia juga menambahkan, pelanggan pun harus kritis dan tak segan memberi masukan soal kekurangan dari makanan yang disajikan.

“Makanya harus dari yang pembeli kasih masukan, bisa komplain langsung kalau tak sesuai. Dan penjual jangan mentang-mentang sudah laku tapi lupa akan kualitasnya, penting juga untuk menjaga kualitas," imbuhnya.
Soal menyajikan presentasi makanan memikat, bahan baku menjadi faktor penting. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Pentingnya Bahan Baku

Tak hanya itu, menurut Chef Yus, hidangan yang lezat dan menarik tidak tercipta tanpa bahan baku yang berkualitas tinggi.

"Bahan baku ini memegang peranan penting dalam menghasilkan sajian dengan rasa yang lezat sekaligus warna, tekstur dan tampilan yang menarik. Dengan berinvestasi pada bahan baku yang berkualitas, dapat menciptakan hidangan yang cantik, fotogenik, serta lezat,” katanya.

Namun, di lain pihak, menurut Food Photographer, Fellexandro Ruby, soal rasa adalah selera masing-masing. Sementara, tampilan yang menarik, sudah pasti akan memikat pelanngan.

"Gambar dengan kualitas yang baik dan menarik bisa menjadi daya tarik khusus,” kata dia.

"To be fair, makanan itu selera. Saya kalau review jarang bilang enak nggak enak, kalau saya lebih bilang suka atau nggak suka, happy atau nggak happy.” (les)