Wanita dan Pengidap Bipolar Lebih Sering Berupaya Bunuh Diri

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 24/06/2016 10:03 WIB
Wanita dan orang dengan bipolar menjadi pihak yang paling sering berupaya untuk bunuh diri. Apa penyebabnya? Ilustrasi. (Dok. fergregory)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski kasus bunuh diri dapat terjadi pada siapa saja, namun dalam kenyataannya wanita dan orang dengan bipolar menjadi pihak yang paling sering berupaya untuk bunuh diri.

"Ini karena depresi lebih sering dialami oleh wanita. Penyebabnya bisa beragam faktor, salah satunya adalah hormon," kata Nurmiati Amir, spesialis kesehatan jiwa Departemen Kesehatan Jiwa FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo saat ditemui CNNIndonesia.com, di InterContinental Hotel MidPlaza, Sudirman, Jakarta, belum lama ini.

Spesialis kesehatan jiwa yang kerap mengurus kasus bunuh diri tersebut mengatakan, perubahan hormon di tubuh wanita yang terjadi pada menstruasi setiap bulannya, memungkinkan menyebabkan depresi.


Selain saat menstruasi, wanita lebih mungkin depresi karena perubahan hormon saat hamil, setelah melahirkan, dan menjelang menopause. Kondisi ini menjadikan perempuan memiliki peluang lebih besar berupaya bunuh diri atau berpikir tentang kematian.

"Namun, yang paling sukses dalam kejadian bunuh diri adalah laki-laki. Karena laki-laki lebih berani melakukan tindakan bunuh diri," kata Nurmiati.

Menurut pengalaman Nurmiati, bila dibandingkan cara dan proses bunuh diri yang dilakukan antara perempuan dan laki-laki, perempuan lebih mungkin diselamatkan. Sedangkan pada kasus laki-laki, kerap melakukan dengan lebih ekstrim karena keberanian yang dimiliki.

Nurmiati menjelaskan, keinginan bunuh diri disebabkan terjadinya penurunan yang drastis pada hormon serotonin di otak. Serotonin adalah hormon pada otak yang dipercaya membawa perasaan nyaman dan senang.

"Serotonin dan hormon bahagia di otak lainnya menurun drastis pada orang yang bunuh diri. Kandungan kimia pada otak sangat rendah. Ini karena terjadi peningkatan hormon stres yang kemudian menekan serotonin," papar Nurmiati.

"Makanya, penggunaan obat memang tidak bisa ditampik untuk kasus gangguan mental seperti bipolar dan bunuh diri. Karena hanya obat yang dapat mengangkat serotonin tersebut.”

Kandungan senyawa kimia pada otak itu pula yang memberikan efek halusinasi. Pada beberapa orang yang berkeinginan untuk bunuh diri, mereka merasa ada suara asing yang menyuruh mereka mengakhiri hidupnya. Padahal, halusinasi tersebut karena otak mengalami gangguan.

Pada orang dengan bipolar, rasa depresi biasa bisa menjadi sangat luar biasa karena minimnya toleransi stres yang dimiliki. Menurut Nurmiati, potensi inilah yang menyebabkan orang bipolar lebih rentan melakukan bunuh diri.

Gangguan Bipolar (GB) yang terjadi pada manusia dapat digolongkan menjadi dua jenis. Pertama, GB dengan kombinasi dua kutub, mania dan depresi. GB I ini lebih sering terjadi pada pria dengan prevalensi satu persen.

Sedangkan GB tipe kedua atau GB II, adalah kombinasi depresi dengan sedikit mania atau hipomania. GB II lebih terjadi pada wanita dengan prevalensi empat persen.

"Kemungkinan bunuh diri yang lebih sukses pada orang bipolar adalah kategori GB II, yaitu hipomania dan depresi. Perasaan sedikit bertenaga dari hipomania itulah yang menggerakkan tubuh untuk mampu melakukan bunuh diri," kata Nurmiati.

Sehingga, penanganan pada pasien bipolar harus dilakukan dengan tepat. Pemberian obat yang rutin serta dukungan keluarga, juga konseling dapat membantu pasien bipolar mengendalikan diri mereka, terutama bagi mereka yang pernah berpikir atau mencoba bunuh diri. (les)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK