Pria Vietnam 'Pelindung' 10 Ribu Bayi Aborsi

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Rabu, 20/07/2016 05:06 WIB
Pria Vietnam 'Pelindung' 10 Ribu Bayi Aborsi Tong Phuoc Puc tengah mengurusi salah satu anak asuhnya di Panti Asuhan Tong Phuoc Phuc di Nha Trang, Vietnam. (Dok. Facebook/tongphuocphucorphanage)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekilas, Tong Phuoc Phuc tampak seperti pria biasa. Perawakannya kurus dengan wajah kebapakan, ada gurat-gurat usia di wajahnya, yang menunjukkan hidup tak selalu mudah bagi Tong. Tapi, ada kisah inspiratif yang membuat Tong berbeda.

Sejak 15 tahun lalu, Tong sudah menguburkan lebih dari 10 ribu bayi hasil aborsi, serta yang meninggal saat dilahirkan, di Vietnam.

Sehari-hari, Pong adalah pekerja konstruksi. Pekerjaan yang kasar itu ternyata tidak memengaruhi hatinya yang lembut. Dia prihatin dengan banyaknya bayi hasil aborsi di negaranya. Tidak hanya yang meninggal saat dilahirkan, dengan tangan terbuka, Tong membawa bayi-bayi yang dilahirkan selamat, ke rumahnya. Selama 15 tahun, Tong sudah membesarkan lebih dari 100 bayi yang tidak diinginkan kedua orangtuanya.


Kisah inspiratif Tong bermula pada 2001, ketika dia mengantarkan istrinya ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan. Melansir laman Hefty, setiap kali mengantar sang istri, dia mengamati banyak wanita hamil yang keluar dari ruangan klinik, tanpa membawa bayi.

Butuh beberapa lama bagi Tong menyadari kenyataan tersebut. Ketika kesadaran itu datang, Tong merasa patah hati dan prihatin akibat bayi-bayi yang tidak punya kesempatan hidup di dunia.

Perasaan prihatin itu membuat Tong datang ke klinik aborsi dan meminta ijin menguburkan bayi-bayi malang tersebut.

“Setidaknya mereka bisa mendapat tempat peristirahatan yang layak dan didoakan banyak orang,” kata Tong dalam sebuah wawancara.

Tidak sembarangan menguburkan bayi-bayi tersebut, Tong membeli sebidang tanah di dataran tinggi Hon Thom, di kawasan Nha Trang. Di tanah berpemandangan indah itu, Tong menguburkan bayi-bayi tersebut.

Awalnya, istri Tong mengira dia sudah gila. Tapi, Tong tidak menyerah. Kini, sudah lebih dari 10 ribu bayi beristirahat di tanah miliknya.

“Niat awal saya adalah menyelamatkan mereka, tapi saya tidak bisa menyelamatkan mereka semua. Oleh karena itu, saya pikir taman kecil ini bisa jadi tempat peristirahatan yang indah bagi mereka dan juga tempat bagi para wanita untuk berpikir ulang, sebelum memutuskan aborsi,” papar Tong.

Ketika kisah Tong mulai tersebar, banyak wanita yang datang meminta bantuan Tong. Dari 'pengubur' bayi aborsi, Tong berubah jadi penyambung nyawa bagi bayi-bayi yang tidak diinginkan. Satu persatu, Tong mengadopsi bayi-bayi tersebut.

Tapi, Tong punya syarat. Jika orangtua sang bayi sudah lebih mapan, mereka akan kembali mengambil sang buah hati dari asuhan Tom.

Uniknya, Tong punya sistem pendataan tersendiri untuk mengetahui anak dari orangtua tertentu. Dia memberikan ‘kode’ nama Vinh untuk anak laki-laki dan Tam untuk anak perempuan. Kemudian, nama kedua dan ketiga setiap anak adalah nama ibu kandungnya.

Kendatipun punya lebih dari 100 anak asuh, Tong tidak membeda-bedakan. Semua dia perlakukan seperti anaknya sendiri.

Membesarkan ratusan anak, tentu saja bukan hal mudah dan membutuhkan biaya besar. Tapi, Tong tidak mudah menyerah. Selain donasi, Tong pun tidak segan-segan merogoh koceknya sendiri. Dia berharap, kedepannya, anak-anak dan keluarganya bisa melanjutkan apa yang sudah dia kerjakan selama ini.

“Saya harap anak-anak saya bisa terus menolong orang lain ketika saya sudah tidak ada,” harapnya. (les)