'Gua Bantimurung' Saingi Tiga Benua di Kompetisi Mode Global

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 20/07/2016 15:05 WIB
Toton masuk sebagai perwakilan Asia dalam kompetisi International Woolmark Prize (IWP), yang pernah diikuti oleh Yves Saint Laurent dan Karl Lagerfeld. Label Toton yang digawangi oleh Toton Januar dan Haryo Balitar baru saja memenangkan International Woolmark Prize regional Asia, saat ditemui di Gedung Femina, Kuningan, Jakarta, Selasa (19/7). (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar gembira datang dari dunia mode Indonesia. Salah satu label desainer muda Indonesia Toton, masuk sebagai perwakilan Asia dalam kompetisi International Woolmark Prize (IWP), yang pernah diikuti oleh Yves Saint Laurent dan Karl Lagerfeld.

Label Toton yang digawangi Toton Januar dan Haryo Balitar mengalahkan empat negara Asia lainnya saat penyisihan regional Asia. Empat negara tersebut adalah Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan China.

Kemenangan tersebut istimewa karena Indonesia baru pertama kali ikut dalam ajang prestise yang mewajibkan peserta mengolah wol sejak dekade 1950an itu. Meski baru pertama, Indonesia sanggup mengirimkan delapan label, yang tiga diantaranya lolos sebagai nomine.


Selain Toton, label yang lolos sebagai nomine adalah Major Minor Maha untuk kategori busana wanita dan Vinora untuk kategori busana pria.

"Sangat tidak menyangka, saat pertama kali memasukkan data di awal penyisihan ya masih berkaca pada diri sendiri dan merasa label saya pun masih belum baik. Kemudian ketika lolos jadi nomine sangat senang sekali," kata Toton saat ditemui di Gedung Femina, Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Melewati Proses Panjang

Setelah masuk sebagai nomine, Toton dan kedua label lainnya kemudian menjalani pengenalan wol lebih dalam di kantor pusat Woolmark di Hong Kong. Setelahnya, masing-masing kembali ke Indonesia dan menjalankan ide mereka.

Toton dan Major Minor kemudian memilih untuk menggunakan wol merino yang merupakan jenis wol kualitas premium lalu diproses menjadi tenun bekerja sama dengan penenun di Garut, Jawa Barat. Sedangkan Vinora memilih melakukan banyak inovasi bahan yang kemudian dipadu dengan bahan khusus pemadam kebakaran dan pegawai rumah sakit.

Dari bahan yang sudah jadi sesuai keinginan, Toton memilih membuat sebuah setelan yang terinspirasi kain para raja di Jawa dan Bali, dengan komposisi warna berasal dari stalaktit serta lukisan tangan manusia purba di Gua Bantimurung, Sulawesi Selatan.

"Wol dan tenun itu sama-sama memiliki sejarah yang panjang, begitu pula dengan sejarah kebudayaan di Indonesia. Dan lukisan gua itu adalah awal sejarah di Indoensia juga," katanya.

Toton juga terinspirasi dari isu feminis yang muncul di era saat ini. Pakaian raja yang biasanya dikenakan hanya untuk lelaki ternyata diputar balik oleh Toton untuk dikenakan pada wanita.

Hasilnya, koleksi pakaian berwarna peach dengan aksen motif bunga dan sulur khas Jawa dan Bali lalu dikombinasikan dengan beberapa bagian yang merah bata, sesuai warna lukisan tangan manusia purba di Gua Bantimurung. Meski terbuat dari wol, namun wol merino ini sangat adaptif setara dengan kashmir.

Model memeragakan koleksi pakaian karya perancang Vinora pada pagelaran Jakarta Fashion Week 2015 di Senayan City, Jakarta. Vinora juga merupakan salah satu nomine International Woolmark Prize (IWP) dari Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Saingi Tiga Benua

Saat presentasi, Toton dihujani pertanyaan yang diakui Tonton bak sidang skripsi oleh para juri yang terdiri dari desainer Inggris Christopher Raeburn, desainer Korea Selatan Juun J, konsultan mode berpengaruh di Hong Kong Priscilla I'Anson, desainer Fiona Kotur, dan pemimpin redaksi GQ Style China, Cui Dan.

Kelima juri tersebut terkesan dengan koleksi Toton dan membuat ia menjadi finalis yang akan mewakili Asia dalam final IWP di Paris, Februari nanti. Toton akan berhadapan dengan finalis lainnya dari Australia-Selandia Baru, Amerika Utara, India dan Timur Tengah, Britania Raya-Islandia, dan Eropa.

"Siap tidak siap harus siap. Kalau ditanya peluang menangnya, seperenam," kata Toton saat ditemui CNNIndonesia.com, seusai jumpa pers. "Dari awal tidak ada target ingin menang atau apa pun. Ini pertama kalinya ikut acara yang harusnya diikuti oleh negara yang menggunakan wol atau yang sudah maju dalam bidang fashion.”

"Indonesia di sini banyak kekurangannya, namun bagaimana caranya menjadikan kekurangan tersebut jadi keuntungan dan peluang. Dan yang terpenting, kami dapat mempromosikan tradisi Indonesia dan bisa dibawa di Paris," katanya.

Toton mengaku ia memang menyempatkan riset saat persiapan untuk seleksi regional Asia. Secara kebetulan pula, Toton dan Haryo bertemu dengan pemenang IWP 2015/2016, Catherine Teatum dan Rob Jones dari label Teatum Jones. Dan Toton serta Haryo pun diberi 'wejangan' dari sang pemenang tersebut.

"Kami bertemu saat Paris Fashion Week dan mereka sempat membagi tips dan pengalaman. Jadi, sebenarnya ajang ini bukan hanya masalah desain. Karena penyelenggara mencari paket komplet, bukan hanya desain bagus, namun juga bagaimana tentang brand, perusahaannya, bisnisnya, itu yang mereka cari di luar desain yang memang harus bagus,” papar Toton.

Kini, Toton akan bersiap memamerkan enam koleksi pengembangan dari pakaian yang dipamerkan saat tahap regional. Bila ia berhasil menang, selain sejajar dengan pendahulu yaitu Karl Lagerfeld dan Yves Saint Lauren, Toton juga akan mendapatkan bimbingan pengembangan label dari woolmark dan koleksinya akan dijual ke beberapa negara mode di dunia. (les)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK