Alasan Kesehatan di Balik Warna Pastel Pakaian Anak-anak

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 30/09/2016 09:33 WIB
Alasan Kesehatan di Balik Warna Pastel Pakaian Anak-anak Ilustrasi bayi (morgueFile/idahoeditor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pakaian bayi dan anak-anak yang beredar di pasaran biasanya berwarna putih serta pastel, dengan motif lucu menggemaskan. Ternyata ada alasan tersendiri di balik penentuan warna kalem tersebut.

Menurut analis dari lembaga sertifikasi Sucofindo, pakaian anak-anak selayaknya dibuat senyaman dan seaman mungkin. Salah satu cara yang aman, yaitu menghindarkan penggunaan pewarna kain yang mengandung zat berbahaya, terutama senyawa azo.

"Zat azo ini memiliki dampak kesehatan. Pertama, zat ini bisa menyebabkan alergi. Yang ke-dua, zat ini sebenarnya karsinogenik," kata Muhidin, kepala sub bagian laboratorium umum Sucofindo, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, pada Kamis (29/9).


Senyawa azo menjadi salah satu syarat utama pertimbangan produk pakaian bayi dan anak aman atau tidak. Standar Nasional Indonesia (SNI) mengacu pada standar internasional, menetapkan batasan azo yang aman dalam pakaian adalah 20 miligram per kilogram.

Azo, disebutkan dalam beberapa penelitian, memiliki dampak pada kesehatan, terutama kanker. Pihak Pemerintah Inggris telah melarang penggunaan azo dalam pewarna pakaian karena dapat menyebabkan pertumbuhan tumor pada manusia dan hewan.

Menurut penelitian yang ditulis oleh King-Thom Chung dari Department of Biological Sciences, University of Memphis, dan diterbitkan dalam Journal of Environment Science and Health, beberapa senyawa azo bersifat karsinogen.

Senyawa azo yang bersifat karsinogen tersebut mampu terpecah menjadi senyawa baru bernama benzidin. Ini lah yang memicu pertumbuhan tumor. Komponen azo lainnya, p-phenylenediamine atau p-PDA, mampu memunculkan alergi pada tubuh manusia.

Golongan azo yang secara pasti dilarang keberadaannya adalah kelompok tiga yaitu maximale arbeitsplatz konzentration atau MAK-III Jerman.

"Azo ini cenderung ada di semua pewarna," kata Muhidin. "Apalagi terang atau ngejreng dan gelap," lanjutnya.

"Namun kalau warna putih dan pastel jarang kami uji karena zat azo di dalamnya sedikit, sehingga pasti lulus pengujian. Apalagi kain dengan pewarna alam, sama sekali tidak ada," tambah kata Tufanuddin, analis senior produk konsumen dan mainan Sucofindo.

Bukan hanya azo, senyawa yang biasa digunakan dalam pewarna pakaian itu juga bersama senyawa formaldehide atau formalin, dan beberapa kandungan logam menjadi faktor penentu pakaian anak disebut 'aman' bagi kesehatan.

Formaldehide, atau punya nama lain formalin, adalah senyawa pengawet serat kain yang biasa digunakan dalam industri pakaian. Kandungan senyawa ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan saluran pernapasan bagian atas yang menyebabkan keluar air mata, pusing dan tenggorokan serasa terbakar.

Menurut Peraturan Menteri Perindustrian No, 7/M-IND/PER/2/2014 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib Produk Pakaian Bayi, bahan lain yang jadi pertimbangan keamanan pakaian adalah kandungan logam.

Logam yang dimaksud adalah kadmium dengan ambang batas maksimal 0,1 miligram per kilogram, tembaga 25 miligram per kilogram, timbal 0,2 miligram per kilogram, dan nikel 1 miligram per kilogram.

Namun peraturan standar kandungan senyawa pakaian ini sayangnya belum diikuti semua produsen pakaian. Menurut data dari Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian, baru ada 155 produsen pakaian anak Industri Kecil dan Menengah yang memenuhi standar SNI hingga 2016.

"Namun," Muhidin menegaskan, "kalau pengalaman kami sebenarnya jarang juga ditemukan kandungan azo dalam pakaian bayi."

(end/vga)