Beda Generasi, Beda Cara Mengisi Waktu Luang

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 16/11/2016 10:43 WIB
Beda Generasi, Beda Cara Mengisi Waktu Luang Salah satu tanda kegiatan waktu luang berkualitas adalah dengan melepas kepenatan dan memanjakan segala indra. (Picjumbo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada kalanya orang tua menasehati atau bahkan melarang anaknya bermain gawai. Padahal, menurut psikolog, beda generasi maka beda pula kegiatan yang dipilih untuk memanfaatkan waktu luang.

Menurut psikolog klinis Rosdiana Setyaningrum, salah satu hal yang menyebabkan perbedaan di antara generasi X kelahiran 1960-1980, generasi Y atau milenial kelahiran 1981-2000, dan generasi Z kelahiran pasca 2000 adalah perkembangan teknologi.

"Generasi X belum memiliki teknologi yang maju, sehingga ketika mereka memiliki waktu luang lebih banyak berkumpul dengan teman," kata Rosdiana, saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan SCBD, pada Selasa (15/11).


Rosdiana juga beranggapan bahwa generasi X, atau para orang tua muda masa sekarang, tidak memiliki kegiatan sebanyak generasi Y di usia produktifnya.

Kondisi lalu lintas yang masih cukup lengang juga memudahkan mereka beraktivitas. Hal ini mendorong generasi X menghabiskan waktu luang dengan berkumpul bersama teman atau berolahraga.

"Nah perbedaan dengan generasi Y dan Z adalah anak saat ini lebih banyak bermain dengan teknologi," kata Rosdiana. "Perkembangan teknologi yang kemudian mendorong kegiatan tidak pernah jauh dari teknologi."

Selain itu, Rosdiana menilai, semakin modern maka kegiatan semakin padat, lalu lintas pun semakin ramai hingga macet. Kondisi ini mendorong generasi Y dan Z mencari hiburan di kala senggang yang tidak membutuhkan mobilitas terlalu jauh. Ujung-ujungnya mereka memanfaatkan teknologi.

Karena kondisi yang lebih padat, Rosdiana menganjurkan memanfaatkan waktu senggang secara efektif dan berkualitas. Salah satu tanda kegiatan waktu luang berkualitas adalah dengan melepas kepenatan dan memanjakan segala indra.

"Istirahat yang bagus itu ketika sudah usai istirahat kemudian menjadi lebih segar dan siap melakukan aktivitas selanjutnya dengan memanjakan semua indra, itu yang paling sederhana," kata Rosdiana.

"Nonton atau nyemil, itu juga tergolong aktivitas memanjakan indra yang dimiliki tubuh," lanjutnya.

Namun upaya memanfaatkan waktu luang untuk melepas penat ini juga perlu dilakukan secara bijak. Menurut Rosdina, waktu melepas penat dengen menonton film atau menikmati camilan tidak boleh lebih dari dua jam per hari.

Ini karena tubuh juga perlu mempersiapkan diri untuk beristirahat dengan durasi lebih panjang, seperti tidur pada malam hari.

Berlebihan dalam mengonsumsi camilan dengan alasan melepas penat juga tidak baik dilakukan. Menggunakan pengingat waktu atau membatasi jumlah asupan camilan sebelum melepas penat dapat dilakukan agar tidak kebablasan.

"Paling baik," kata Rosdiana, "adalah mengenal badan sendiri terlebih dahulu. Kalau sudah bisa mengenal, pasti bisa belajar mengendalikan."

(vga/vga)