Gudeg Yu Djum Abadi di Tangan Anak Cucu

Vega Probo, CNN Indonesia | Rabu, 16/11/2016 21:12 WIB
Gudeg Yu Djum Abadi di Tangan Anak Cucu Ilustrasi: Sepeninggal Yu Djum, pihak keluarga besar—terutama anak-anak dan cucu-cucu—siap menjadi penerus, karena sudah terbiasa mengelola usaha gudeg. (Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepeninggal Yu Djum, agaknya tidak sedikit pelanggan yang bertanya-tanya soal keberlanjutan warung gudeg legendaris ini. Pasalnya, warung-warung Yu Djum seantero Yogyakarta tutup saat sang penggawa mangkat di usia 81 tahun pada Senin (14/11).

Menilik keterangan website resminya, warung gudeg Yu Djum sudah berdiri sejak 1950. Gudeg menjadi menu utama, dipadu krecek pedas, ayam dan telur bumbu gudeg, serta tahu dan tempe bacem. Semua itu dimasak dengan cara tradisional plus bumbu pilihan.

Beruntung, sang cucu, Remila Mursinta, memberikan pernyataan yang melegakan soal keberlanjutan usaha warisan eyangnya. Kepada CNNIndonesia.com, anggota DPRD Kabupaten Sleman ini memastikan gudeg Yu Djum tetap abadi di tangan anak cucu.


“Tetap berjalan seperti biasa saja, tidak ada yang berubah,” kata perempuan yang akrab disapa Sinta. “Yang berubah hanya: sekarang tidak ada sosok eyang yang disiplin, pekerja keras dan sangat ulet. Soal usaha, tetap berjalan seperti biasa.”

Sepeninggal Yu Djum, menurut Sinta, pihak keluarga besar—terutama anak-anak dan cucu-cucu—siap menjadi penerus. Bukan terpaksa, melainkan karena sudah terbiasa mengelola usaha gudeg yang dirintis oleh perempuan bernama asli Djuwariah.

“Kami semua sudah dibekali pengetahuan tentang kuliner gudeg ini serta keterampilan, dan tentu saja kami akan selalu menjaga kualitas,” kata Sinta. Selain itu, sang eyang juga menanamkan falsafah bijak kepada anak-anak dan cucu-cucunya.

“Falsafah yang selalu beliau anut dan ditanamkan kepada anak-anak dan cucu-cucu: bekerja selalu tepat waktu, bersabar, tidak boleh ngoyo, tidak boleh malas, serta harus selalu rukun antara semua keluarga yang mayoritas membuka usaha gudeg Yu Djum.”

Ditegaskan Sinta, warung gudeg Yu Djum bukan waralaba dan tidak akan dijadikan waralaba. “Hanya keluarga saja—anak-anak dan cucu-cucu—yang diberi wewenang untuk meneruskan usaha ini,” kata Sinta. “Jadi kami semua memang harus selalu rukun.”

Semasa hidup, Yu Djum tinggal di rumah di wilayah Karangasem yang beralamat di Jalan Kaliurang Km 4,5 ST III/22, bersama anak sulungnya, Hariani, yang tak lain bude Sinta. Hingga lanjut usia, Yu Djum tetap berkecimpung di usaha gudegnya.

“Eyang sebagai pengontrol—mencicipi makanan, mengecek kualitas telur, kayu bakar dan lain-lain,” kata Sinta. “Sebagai penerus, kami dibekali pengetahuan oleh eyang. Alhamdulillah, sekarang memiliki banyak cabang yang dikelola anak-anak dan cucu-cucu.”

Yang mengejutkan, resep gudeg diajarkan secara lisan oleh Yu Djum kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Bukan tertulis. Takaran-takaran yang pas, diakui Sinta, sudah diberitahu sang eyang secara langsung. Jadi tak ada warisan resep tertulis.

Tak hanya mengingat resep, Sinta juga tak melupakan riwayat hidup eyangnya. Dengan fasih ia menceritakan pergulatan hidup sang eyang yang sejak usia 17 tahun mengumpulkan modal usaha dengan cara berjualan rumput untuk pakan ternak.

“Tempat usaha gudeg pertama kali itu di Plengkung Wijilan,” kata Sinta. “Dari rumah Karangasem sampai Plengkung Wijilan, eyang berjalan kaki sambil menggendong bakul gudeg. Lalu, meningkat naik becak, andong, hingga bisa membeli mobil pikap.”

Memasuki era 2000, diakui Sinta, usaha gudeg eyangnya menunjukkan kemajuan. Bahkan diakui Profesor Murdijati Gardjito dari Universita Gadjah Mada, gudeg Yu Djum laris lantaran konsisten menjaga cita rasa yang memenuhi selera orang banyak.

Peneliti sekaligus penulis puluhan buku kuliner ini menilai keberlanjutan suatu usaha kuliner bukannya mustahil sekalipun penggawanya telah tiada. Yang penting, menurutnya, konsisten menjaga cita rasa dan kompak mengelola manajemen usaha.

(vga/vga)