Mengunjungi 'Mongolia Kecil' di Ujung Jawa

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Selasa, 29/11/2016 19:16 WIB
Mengunjungi 'Mongolia Kecil' di Ujung Jawa Kedutaan Besar Mongolia bekerjasama dengan PT Jababeka Tbk, menghadirkan Mongolian Culture Center di Tanjung Lesung, Banten. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Tanjung Lesung, CNN Indonesia -- Biasanya, butuh sembilan jam terbang atau uang belasan juta untuk mencapai Mongolia. Namun awal 2017 nanti, negara yang terletak di antara China dan Rusia ini, bisa ‘dicapai’ melalui Tanjung Lesung, Banten.

Hal itu berkat adanya Mongolian Culture Center yang kerjasama antara Kedutaan Mongolia dengan PT Banten West Java Tourism Development, yang bertanggung jawab mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung.

Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki Mongolian Culture Center.


Pusat kebudayaan Mongolia itu akan berdiri di lahan seluas satu hektar, di area Ladda Bay. Mengikuti budaya nomaden yang jadi ciri khas warga Mongol, di lokasi tersebut akan berdiri empat ‘Ger’, atau tenda tradisional Mongol, taman yang akan jadi areal berkuda, serta patung Genghis Khan, pendiri kerajaan Mongol.

Empat Ger khas suku nomaden Mongolia itu akan memiliki fungsi berbeda.

“Nanti akan ada tenda utama yang isinya seperti museum mini Mongolia, ada juga tenda yang diperuntukkan sebagai tempat menginap, jadi pengunjung bisa merasakan bermalam ala penduduk Mongol,” kata Duta Besar Mongolia untuk Indonesia, Battsetseg Shagdar, di Tanjung Lesung, akhir pekan lalu.

Adapun, dua ger lainnya akan difungsikan menjadi dapur dan museum mainan khas Mongolia.

“Kami berharap pusat kebudayaan ini bisa memberi pengalaman kehidupan pribumi nomadik dari penduduk Mongolia, mencicipi makanan otentik serta dapat melihat kebudayaan Mongolia lebih dekat,” ujar Battsetseg.

Ger, terang Battsetseg, merupakan tenda yang dihasilkan identik dengan kehidupan berpindah atau nomaden, khas Mongolia. Tenda tersebut dibuat dari kayu dan dilapisi kain wol yang dibuat selama musim panas.

“Proses pembuatannya bisa sepanjang musim panas, dan kemudian digunakan di musim dingin,” sebut Battsetseg.

Tenda Ger telah dicatat UNESCO dalam List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2013.

Ger merupakan tenda khas suku nomaden di Mongolia yang sudah jadi identitas nasional. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati) Ger merupakan tenda khas suku nomaden di Mongolia yang sudah jadi identitas nasional. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)

Napak Tilas Sejarah


Gagasan hadirnya Pusat Kebudayaan Mongolia di Tanjung Lesung, tidak muncul mendadak. Rencana tersebut sudah digodok nyaris selama satu tahun, terutama sejak Founder PT Jababeka, Setyono Djuandi Darmono, menjadi utusan kebudayaan Indonesia untuk Mongolia, awal 2016.

“Pertemuan dengan Pak Darmono menimbulkan gagasan membuat pusat kebudayaan Mongolia di Indonesia,” kata Battsetseg.

Tidak hanya itu, adanya Mongolian Cultural Center di Tanjung Lesung juga jadi bentuk napak tilas sejarah.

“Indonesia dan Mongolia punya sejarah yang panjang, sejak abad ke-11. Namun, hubungan diplomatik kedua negara baru terjalin sejak 60 tahun lalu. Adanya pusat kebudayaan Mongolia di Indonesia ini, saya harap bisa mempererat hubungan itu,” papar Battsetseg, yang hari itu mengenakan busana tradisional Mongol berwarna cokelat.

Kehadiran empat ‘Ger’ itu juga jadi perwujudan hasil Rapat Pertama Komisi Gabungan untuk Kerjasama Bilateral (JCBC) antara Indonesia dengan Mongolia, Oktober 2015 lalu.

Pada waktu itu, kedua negara setuju menggencarkan promosi pariwisata.

Adanya pusat kebudayaan Mongolia di Tanjung Lesung, menurut Battsetseg, tidak hanya akan jadi daya tarik bagi masyarakat Indonesia, melainkan juga warga Mongolia, untuk datang berkunjung.

“Banyak warga Mongolia yang penasaran dengan Bali, adanya pusat kebudayaan Mongol di Tanjung Lesung, akan jadi daya tarik baru agar mereka bisa mengeksplorasi destinasi lain.”

Hal itu, tentu saja disambut baik oleh I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata. Dia menyebut, Mongolia termasuk dalam kawasan Greater China, yang jadi pasar utama wisata Indonesia.

“Hingga tahun 2019 nanti, untuk mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara, kita fokus pada pasar utama, salah satunya Greater China, yang didalamnya termasuk Mongolia,” ujar dia. (les)