'Salah Posisi Tidur,' Wanita Inggris Alami Kelumpuhan

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 29/11/2016 21:22 WIB
'Salah Posisi Tidur,' Wanita Inggris Alami Kelumpuhan Ilustrasi: Helen Fincham terbangun dengan sakit di leher, yang diduga akibat salah posisi tidur. Ternyata ia mengalami Transverse Myelitis (TM) yang merusak sistem saraf. (Pixabay/Ashleyamos)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terbangun pada pagi hari, ada kalanya orang mengalami sakit leher, yang kerap disebut 'salah bantal' atau 'salah posisi tidur.' Biasanya, sakit yang diderita akan menyurut dengan sendirinya.

Namun di Inggris, seorang wanita berusia 21 tahun mengalami kelumpuhan gara-gara 'salah posisi tidur.' Sebagaimana dilansir Daily Mail, wanita itu, Helen Fincham, terbangun dengan sakit di leher yang diduga akibat salah posisi tidur. 

Namun, menjelang siang, rasa sakit kian memburuk. Pada tengah hari, kakinya seolah mati rasa. Tak lama, lengannya pun tidak bisa merasakan apa-apa. Sulit bernapas, wanita berambut panjang itu mengira terkena serangan jantung.


Saat tim paramedis tiba di rumah Fincham dan memintanya untuk berdiri, tiba-tiba ia pingsan dan tidak bisa bergerak. Kondisi ini dirasakan Fincham dalam kurun relatif lama. Selama dua bulan, ia membuat para dokter kebingungan.

Selama itu pula lah ia Fincham menjalani berbagai tes kesehatan. Tim dokter akhirnya menyimpulkan, Fincham mengalami kondisi neurologis langka yang menyebabkan sumsum tulang belakangnya meradang.

"Ketika menyadari saya tidak bisa lagi merasakan kaki saya sendiri, saya mulai ketakutan," kata Fincham. "Itu seperti saya mengalami kelumpuhan sepanjang malam, seluruh hidup saya terbalik hanya dalam hitungan jam."

"Saya masih merasa seperti tengah bermimpi dan tidak ada satu pun dari kejadian ini yang nyata. Hanya dua pekan setelah saya liburan ke Ibiza bersama teman-teman dan jadi momen berarti dalam hidup saya," tuturnya.

Semula para dokter menduga Fincham digigit binatang saat liburan atau terinfeksi virus tertentu. Namun Fincham tidak pernah menunjukkan gejala sakit.

Selama dua bulan penuh Fincham menjalani pemindaian MRI, dada, uji darah dan plasma. Seluruh hasil tes tidak menunjukkan penyakit tertentu. Hasil tersebut membuat paramedik curiga Fincham mengalami kelumpuhan, dan ia pun menjadi kesal.

Belakangan, tim dokter menemukan fakta bahwa Fincham mengalami Transverse Myelitis (TM) yang merusak sistem saraf. Kondisi ini sangat langka dan masih diteliti oleh tim dokter.

Transverse Myelitis (TM) adalah peradangan sumsum tulang belakang yang diasumsikan sebagai kejadian autoimun ketika sistem imun menyerang tubuh sendiri.

Serangan gejala ini dapat muncul secara bertahap namun seringkali terjadi tiba-tiba. Dan beberapa kasus TM memiliki riwayat infeksi, namun seringkali terjadi tanpa sebab.

Kini Fincham hanya menghabiskan hari-harinya menjalani fisioterapi dan bertekad untuk dapat kembali berjalan. Setelah tiga bulan lumpuh, ia mulai dapat merasakan sedikit rasa saat menyentuh.

"Kadang terasa sangat sulit, namun saya tetap berusaha dan berjuang tetap kuat untuk keluarga saya dan teman yang selama ini telah sangat mendukung," katanya.

"Saya banyak latihan hal yang sederhana dan saya berharap suatu kali nanti dapat melakukan hal yang sederhana seperti mengikat rambut, berdandan, dan menyikat gigi."

Kebanyakan pasien TM pulih dalam beberapa pekan atau bulan setelah saraf sumsum tulang belakang merekontruksi diri mereka sendiri. Rehabilitasi penting dalam kasus TM adalah fisioterapi.

Beberapa pasien dapat pulih sepenuhnya, namun kebanyakan memiliki gejala jangka panjang yang tidak kasat mata.



(vga/vga)