Milenial, Generasi Kutu Loncat Pengubah Gaya Kerja

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 15/12/2016 17:42 WIB
Milenial, Generasi Kutu Loncat Pengubah Gaya Kerja Ilustrasi: Generasi milenial memang banyak yang berkompeten dan bagus, namun kurang memiliki daya juang. (Thinkstock/DAJ)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karakter 'kutu loncat' yang dibawa sebagian generasi milenial atau kerap disebut generasi Y ternyata berdampak pada gaya bekerja di perusahaan. Ini memaksa perusahaan mengikuti sifat milenial bila tidak ingin lekas-lekas kehilangan karyawan.

"Kondisi pasar kerja saat ini adalah kekurangan talenta yang bagus, sehingga perusahaan menjadi lebih fleksibel pula dalam melihat kandidat pekerja yang melamar," kata Faridah Lim, country manager JobStreet Indonesia, saat ditemui CNNIndonesia.com di Jakarta, pada Kamis (15/12).

"Perusahaan pun sudah sadar bahwa karakter pekerja saat ini yaitu generasi millenial adalah kutu loncat," Faridah menambahkan.


Menurut survei yang dilakukan oleh laman pencari kerja tersebut, sebesar 66 persen generasi milenial atau mereka yang lahir pada era 1980-an hingga 90-an gemar berpindah kerja kurang dari dua tahun.

Generasi milenial lahir dan tumbuh di era perkembangan teknologi dan memiliki kemampuan menggunakan teknologi lebih baik dibanding generasi sebelumnya. Kemampuan ini menjadikan mereka mudah mencari informasi, lebih kreatif dan inovatif.

"Generasi milenial ini sangat kreatif dan cepat belajar, yang sebenarnya dapat jadi poin positif bagi perusahaan dengan cara memanfaatkan kreativitas generasi ini," kata Faridah.

Namun sayang, generasi ini juga mudah pindah kerja bila sedikit saja merasa tidak nyaman. Selain itu, mereka sangat pemilih bila ingin melamar pekerjaan.
 
Menurut sebuah survei yang juga dilakukan JobStreet, dari sebuah lowongan pekerjaan, generasi ini sangat memperhatikan keuntungan bekerja di sebuah perusahaan, antara lain fasilitas dan kenyamanan bekerja.

Selain gaji tinggi, generasi milenial juga ingin perusahaan tempatnya bekerja dapat menyediakan beragam pelatihan serta pengembangan diri.

Bila generasi sebelumnya terkesan lebih memandang prestise perusahaan asing, ternyata, menurut survei yang melibatkan 16 ribu para pencari kerja di JobStreet, hal itu tidak lagi berlaku.

Kondisi yang mulai berubah berdasarkan karakter generasi dan keterbatasan sumber daya yang sesuai keinginan perusahaan, memaksa para pemilik kerja untuk mengikuti sifat generasi milenial.

Selain itu, Faridah juga menilai syarat pindah kerja setidaknya setiap dua tahun kini menjadi bias akibat karakter milenial yang gemar pindah perusahaan sebelum satu tahun masa kerja.

"Zaman dahulu perusahaan dan bos itu kaku, sekarang budaya itu sudah hilang. Dan perusahaan berusaha keras menjaga talent dengan cara menyesuaikan terhadap mereka," kata Faridah.

"Kalau perusahaan yang penuh generasi milenial, suasana kerja akan dibuat lebih menyenangkan, jam kerja fleksibel, baju kerja lebih santai, itu semua usaha yang dilakukan untuk membangun ikatan agar karyawan lebih betah," lanjut Faridah. "Perusahaan juga mengadopsi mengembangkan budaya lebih terbuka dan ekspresif."

Mudah Menyerah

Meski diakui lebih kreatif dan inovatif, namun generasi milenial disebut Faridah dan diakui oleh banyak pihak pengelola sumber daya manusia (HRD) perusahaan sebagai generasi yang mudah menyerah.

"Dari cerita para HRD, ya begitu generasi milenial diterima kerja saat ini banyak yang masuk keluar perusahaan. Perilaku pekerja saat ini," kata Faridah.

"Generasi milenial memang banyak yang kompeten dan bagus, namun mereka diakui kurang memiliki daya juang. Tidak nyaman sedikit atau diomeli bos langsung pindah," kata Faridah.

Menurut Faridah, hal ini terjadi lantaran generasi milenial mengira masih memiliki peluang mendapatkan pekerjaan baru di luar dengan mudah. Padahal banyaknya talenta yang dimiliki generasi milenial membuat tingkat kompetisi menjadi lebih sengit.

"Buat generasi milenial, jangan mudah menyerah. Pastikan tahu apa yang dicari, kalau memang diomeli, ya jadikan sebagai sebuah pelajaran," kata Faridah. "Talenta bagus [yang dimiliki] generasi milenial banyak dan perusahaan juga berlomba mendapatkan yang bagus." (vga/vga)