Studi: Pilot Komersil Bisa Depresi Saat Terbang

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 27/12/2016 13:27 WIB
Studi: Pilot Komersil Bisa Depresi Saat Terbang Menurut hasil sebuah penelitian terbaru, ratusan pilot terindikasi mengalami depresi saat bertugas membawa penumpang ke tempat tujuan. (MatusDuda/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil sebuah penelitian terbaru agaknya mengkhawatirkan para penumpang moda penerbangan. Diketahui, ratusan pilot terindikasi mengalami depresi saat bertugas membawa penumpang ke tempat tujuan.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Harvard TH Chan School of Public Health secara anonim terhadap hampir 1.850 pilot maskapai komersial.

Studi tersebut dilakukan satu setengah tahun setelah kejadian kopilot Germanwings Andreas Lubitz diduga sengaja menabrakkan pesawat Airbus A320 ke kaki Pegunungan Alpen dan menewaskan 150 orang.


Penelitian ini adalah kali pertama dilakukan berfokus pada kesehatan mental para pilot maskapai, terutama depresi dan kecenderungan bunuh diri. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Envoronmental Health, pada pertengahan Desember 2016.

Data yang diteliti tidak termasuk informasi mengenai hasil investigasi maskapai saat kecelakaan udara, pemeriksaan kesehatan rutin, atau pemeriksaan pribadi. Mengingat seluruh informasi tersebut disimpan dan dilindungi oleh maskapai dan otoritas penerbangan sipil.

Di antara beragam informasi yang didapat tim peneliti, diketahui ada faktor kuat yang menghalangi para pilot saat menderita gejala depresi.

"Kami menemukan banyak pilot yang mengalami beberapa gejala depresi selagi terbang, dan mungkin mereka tidak mencari pengobatan yang tepat lantaran khawatir akan berdampak pada karier mereka," kata Joseph Allen, asisten profesor sekaligus peneliti senior studi ini, dilansir laman resmi Harvard TH Chan School of Public Health.

"Ada tabir kerahasiaan terkait masalah kesehatan mental para petugas kokpit. Dengan menggunakan survei anonimus, kami bisa menjaga ketakutan terhadap stigma dan diskriminasi pekerjaan yang dikhawatirkan para responden," kata Allen.

Survei dirancang dengan campuran pertanyaan agar tidak secara gamblang merujuk pada masalah kejiwaan supaya meminimalisir potensi bias pada jawaban. Penelitian ini dilakukan secara daring antara April dan Desember 2015 lebih dari 50 negara.

Presentase responden tertinggi penelitian ini berasal dari Amerika Serikat (45,5 persen), Kanada (12,6 persen), dan Australia (11,1 persen). Dari 3.500 responden yang berpartisipasi, 1.848 di antaranya menyelesaikan pertanyaan masalah mental.

Dan hasil survei menunjukkan sebesar 233 responden atau (12,6 persen) berpeluang mengalami depresi, sementara 75 responden atau (4,1 persen) melaporkan pernah berpikir akan bunuh diri dalam dua pekan terakhir.

Dari 1.430 responden yang mengaku masih aktif bekerja sebagai pilot maskapai dalam sepekan terakhir saat disurvei, sebanyak 193 di antaranya atau 13,5 persen memenuhi kriteria depresi.

Hasil penelitian juga menemukan lebih banyak pilot laki-laki merasakan pengalaman kehilangan minat, merasa bakal gagal, masalah konsentrasi, dan berpikir akan lebih baik bila mati. Dan pengalaman ini terjadi hampir setiap hari.

Sedangkan pilot perempuan lebih besar memiliki satu hari dengan kondisi mental yang buruk dalam sebulan terakhir dan lebih mungkin terdiagnosis depresi.

Penelitian juga menemukan depresi lebih mungkin ditemukan pada pilot yang menggunakan obat tidur dengan dosis yang tinggi dan pernah mengalami kekerasan verbal atau seksual.

"Studi kami mengisyaratkan prevalensi depresi di antara para pilot, sebuah profesi yang bertanggung jawab terhadap nyawa ribuan orang setiap harinya," kata Alex Wu, salah satu penulis penelitian ini.

Ia menambahkan, "Dan ini menggarisbawahi pentingnya menilai kondisi mental pilot serta meningkatkan dukungan dalam bentuk pencegahan juga penanganan."



(vga/vga)