LAPORAN DARI PARIS

Didit Hediprasetyo dan Sentuhan Indonesia di Paris Couture

Fandi Stuerz & Lesthia Kertopati | CNN Indonesia
Kamis, 09 Feb 2017 21:02 WIB
Sejak 2010, Didit Hediprasetyo menjadi couturier pertama dan satu-satunya dari Indonesia, yang konsisten memperagakan koleksinya di Paris. Koleksi Didit Hediprasetyo di Paris Haute Couture Fall/Winter 2017. (Fandi Stuerz for CNNIndonesia.com)
Paris, CNN Indonesia -- Indonesia bukan lagi pemain baru di ranah pekan mode internasional. Desainer Tanah Air sudah berkali-kali membawa bendera Indonesia di panggung global. Hong Kong, Tokyo, New York, London, Milan, hingga Paris, semua sudah disambangi.

Bahkan di Paris, bukan hanya pekan mode reguler yang diikuti Indonesia, melainkan juga Haute Couture Week, acara fesyen paling prestise di dunia. 

Selama Haute Couture Week di Paris, sebanyak 31 rumah mode berbagi slot selama 5 hari untuk menampilkan karya masterpiece terkini. Di sela-sela slot kalender resmi yang terisi, banyak pula desainer dan rumah mode yang mengadakan show ataupun presentasi, termasuk juga Didit.

Pertama kali mengadakan show di tahun 2010, Didit Hediprasetyo menjadi desainer couture pertama dan satu-satunya dari Indonesia, yang hingga kini secara konsisten memperagakan koleksinya di Paris. Sementara Tex Saverio dan Harry Halim pernah menunjukkan koleksi mereka di pekan mode Paris, di jadwal pertunjukkan koleksi ready-to-wear, kendati bukan di panggung utama. 

Kedua orang tua Didit Hediprasetyo, Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto terlihat menyaksikan pertunjukkan putra semata wayang mereka di kursi depan.Kedua orang tua Didit Hediprasetyo, Prabowo Subianto dan Titiek Soeharto terlihat menyaksikan pertunjukkan putra semata wayang mereka di kursi depan. (Foto: Fandi Suerz untuk CNN Indonesia)

Berlokasi di Cité de l'Architecture et du Patrimoine, yakni sebuah museum yang memuat patung monumental serta karya arsitektur di Paris, Didit menyuguhkan koleksi adibusana teranyar.

Pergelaran kali ini pun terbilang istimewa, pasalnya di barisan tamu undangan terlihat kedua orang tua Didit, Prabowo Subiyanto dan Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto. Ada juga sahabatnya, aktris Velove Vexia, yang terlihat duduk di barisan depan.

Berlatar dinding batu dan warna-warna cerah, Didit menyuguhkan pertunjukkan simpel dan rapi. Ini sejalan dengan estetika rancangannya, Didit mengutamakan potongan-potongan yang bersih, tidak berlebihan, dan modern.

Didit memang menghindari dekorasi-dekorasi yang berlebihan di setiap bajunya, dan lebih mengutamakan teknik dan penggunaan material yang tepat serta siluet daywear yang ringan. Istilah praktisnya, wearable couture, alias koleksi adibusana yang mudah dipakai.

Kepiawaian Didit dalam membuat potongan rumit terlihat praktis memang mengagumkan. Lihat saja gaun tanpa lengan dengan detail cut-out, yang tampil indah berkat presisi potongan yang menjadi kunci utama.

Korset muncul di beberapa tampilan. Tapi, bukannya mengekang, korset-korset itu ditempatkan sebagai penanda sisi feminin serta kehalusan sisi tailoring yang ia coba munculkan.

“Dengan dominasi corak warna netral seperti biru tua, merah indigo, serta hitam dan putih, koleksi ini terasa begitu kontemporer dan sangat cocok bagi kaum muda yang aktif,” kata Didit.

Materialnya pun tidak terkesan berat, meski beberapa unsur seperti beludru, kulit buaya, serta kulit sapi digunakan di beberapa tempat.

Koleksi Didit Hediprasetyo di Paris Haute Couture Fall/Winter 2017 yang memperlihatkan nafas baru wearable couture.Koleksi Didit Hediprasetyo di Paris Haute Couture Fall/Winter 2017 yang memperlihatkan nafas baru wearable couture. (Foto: Fandi Suerz untuk CNN Indonesia)
Satu hal yang menarik dari koleksi Didit adalah pemakaian kain khas Indonesia.

“Kali ini, saya menggunakan katun anyaman tangan khas suku Baduy serta kain songket,” ujarnya.

Konsistensi Didit di panggung Haute Couture Paris, tentu membawa keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Apalagi, Didit selalu menyelipkan nafas Nusantara di koleksinya.

Bahkan, sejak awal kemunculannya, nyaris tujuh tahun lalu, para pengamat mode Prancis sudah meramalkan bahwa Didit akan jadi kekuatan baru di belantika fesyen.

Tidak main-main, koleksi perdana Didit di Paris memikat mata almarhum Carla Sozzani, pemimpin redaksi Vogue Italia. Rancangan Didit juga mencuri perhatian Cameron Silver, pengusaha mode berpengaruh, sekaligus pemilik direktur fesyen brand H by Halston dan H Halston.

Rancangan Didit yang ultramodern namun punya tingkat kerumitan level couture pun dilirik brand premium asal Jerman, BMW. Produsen mobil itu mendapuk Didit, yang merupakan alumnus Parsons School of Design, menjadi perancang interior koleksi eksklusif BMW Individual Series 7, yang hanya diproduksi lima buah di seluruh dunia.

Laman mode Fashion Insider menulis bahwa Didit sukses membawa nafas muda ke ranah couture. “Di tangan desainer muda asal Indonesia, Didit Hediprasetyo, bahan membosankan seperti denim dan celana jengki bisa tampil penuh gaya di panggung couture,” tulis Marcellous Jones, editor-in-chief Fashion Insider.

Kehadiran Didit di belantika mode Paris dengan gagasan barunya tentang couture, dirasa tepat. Saat klien adibusana mulai bosan dengan kemegahan dan busana bercitra agung, Didit dan jajaran desainer muda lainnya, datang dengan elegansi dan kemewahan praktis.

Dia sukses menangkap semangat couture dan membenamkannya dalam keseharian, sehingga couture menjelma jadi gaya hidup, alih-alih konsep yang tak tersentuh.
Di tangan Didit, couture tak lagi jadi konsep kemewahan yang tak tersentuh, melainkan menjelma jadi gaya hidup dan keseharian.Di tangan Didit, couture tak lagi jadi konsep kemewahan yang tak tersentuh, melainkan menjelma jadi gaya hidup dan keseharian. (Foto: Fandi Suerz untuk CNN Indonesia)
(les/les)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER