Mencari Cara Kembali Berjalan bagi Penderita Cerebral Palsy

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 22/02/2017 18:01 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Mengalami cerebral palsy atau kelainan otot bukan halangan untuk dapat hidup aktif. Sebuah laboratorium di AS menemukan teknologi mencapai keinginan tersebut.

Ryleah Geisner, 8, tengah dipasang sensor EMG di tubuhnya oleh Brittney Martz (kiri) dan Joanna Roybal (kanan) selaku terapis sebelum latihan bergerak di Center for Gait and Movement Analysis, Children's Hospital Colorado, Amerika Serikat. (REUTERS/Rick Wilking)
Geisner mengalami cerebral palsy, kelainan bawaan terkait gerakan, otot, atau postur. Laboratorium tersebut menggunakan teknologi gambar bergerak tiga dimensi untuk menganalisis gerakan tubuh dan aktivitas otot Geisner saat bergerak. (REUTERS/Rick Wilking)
Hasil rekaman dari alat sensor tersebut kemudian menjadi acuan tim dokter dalam membuat rencana perawatan Ryleah Geisner. (REUTERS/Rick Wilking)
Cerebral palsy merupakan gangguan gerakan, otot, atau postur yang dapat disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak yang sering terjadi sebelum kelahiran. (REUTERS/Rick Wilking)
Beberapa bentuk gangguan cerebral palsy berupa refleks berlebihan, kekakuan, postur tubuh yang tidak normal, gerakan tidak terkendali, kegoyahan saat berjalan, atau kombinasi di antaranya. (REUTERS/Rick Wilking)
Orang dengan cerebral palsy kerap memiliki kondisi lain berkaitan dengan kelainan perkembangan otak seperti cacat intelektual, masalah penglihatan, pendengaran, atau kejang. (REUTERS/Rick Wilking)
Meski terkait dengan gangguan dalam perkembangan otak sebelum lahir, dalam kebanyakan kasus, pemicu pasti cerebral palsy tidak diketahui. Beberapa faktor lain seperti mutasi, infeksi saat hamil, stroke saat masa janin, kurang oksigen saat persalinan, dan trauma dapat jadi penyebab cerebral palsy. (REUTERS/Rick Wilking)
Penderita cerebral palsy membutuhkan beberapa tahap perawatan jangka panjang dengan tim medis. Selain terapi obat, beberapa terapi lain seperti fisik, okupasi, wicara, hingga bedah ortopedi dan pemotongan saraf jadi tawaran solusi penyakit ini. (REUTERS/Rick Wilking)