Ayah Juga Dapat Kena Depresi Usai Melahirkan

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 22/02/2017 23:58 WIB
Ayah Juga Dapat Kena Depresi Usai Melahirkan Ilustrasi: Depresi saat mendapatkan anak pertama kali ternyata bukan cuma ada untuk ibu, namun juga ayah. PublicDomainPictures/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain membawa kebahagiaan, memiliki buah hati terkadang dapat menimbulkan kecemasan dan depresi pada orangtua baru. Tidak hanya menyerang ibu baru, depresi juga dapat menyerang seorang ayah baru.

Melansir Live Science, sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas Auckland, Selandia Baru, menyatakan sebelum dan pasca kelahiran, seorang ayah yang baru dapat mengalami depresi seperti pada ibu baru.

Lisa Underwood, pemimpin penelitian tersebut mengatakan depresi yang menyerang ayah baru dapat berakibat sangat buruk bagi keluarga.
Depresi yang dialami para ayah, dapat mengakibatkan rusaknya hubungan keluarga dan menyebabkan perkembangan kognitif buruk bagi anak-anak.


Pernyataan tersebut didapat setelah para peneliti, melihat 3.500 calon ayah dalam studi yang bertajuk 'Growing Up in New Zealand'.  

Dalam studi tersebut, peneliti mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong depresi pada ayah baru.

Hasilnya, sebanyak 2,3 persen laki-laki di negara itu mengalami depresi pranatal dan 4,3 persen mengalami depresi pasca melahirkan.
Underwood mengatakan meskipun tingkatnya 18 - 16 persen lebih kecil dibanding wanita, angka tersebut tetap tidak boleh dianggap remeh.

Ia mengatakan faktor utama yang menyebabkan depresi pada ayah baru adalah kondisi kesehatan buruk serta stres yang dialami sebelumnya.

"Dalam studi terbaru dilaporkan,  kesehatan diri yang buruk serta stres pribadi yang dialami calon ayah selama masa kehamilan secara konsisten berkaitan dengan depresi yang mereka alami," kata Underwood.
Selain itu, hubungan suami istri yang buruk, pengangguran, serta riwayat depresi juga berperan besar dalam menimbulkan depresi pada calon ayah.

Sementara itu pada calon ibu, depresi cenderung diakibatkan oleh hormon selama kehamilan, kekerasan rumah tangga, dan kurangnya dukungan suami atau keluarga.

Underwood berharap dengan penelitian ini para dokter mampu mempelajari dan mengidentifikasi lebih lanjut mengenai faktor penyebab depresi, gejala, dan alternatif pengobatan untuk calon ayah.

"Kesehatan mental orang tua akan mempengaruhi hubungan suami istri dan anak serta cara mendidik anak. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali dan mengobati gejala sakit mental di kalangan ayah dan ibu baru," ujar Underwood. (okt/SYS)