Wanita Hamil Pengidap Herpes Berisiko Punya Anak Autisme

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 24/02/2017 02:15 WIB
Wanita Hamil Pengidap Herpes Berisiko Punya Anak Autisme Ilustrasi: Penelitian terbaru menunjukkan infeksi herpes pada alat kelamin wanita hamil dapat meningkatkan risiko autisme pada janin. (Thinkstock/Ivanko_Brnjakovic)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian menunjukkan wanita yang terinfeksi herpes genitalis atau pada alat kelamin saat masa kehamilan akan lebih mungkin berisiko melahirkan anak dengan autisme.

Melansir AFP, penelitian tersebut dilakukan oleh sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat dan Norwegia serta diterbitkan di mSphere, jurnal the American Society for Microbiology.

Penelitian ini disebut sebagai yang pertama kali menunjukkan respon kekebalan tubuh wanita dapat berdampak bahaya terhadap perkembangan otak janin dan pengaruhnya atas peluang autisme.
"Kami percaya respon daya tahan tubuh sang ibu terhadap virus simpleks herpes 2 (HSV-2) dapat mengganggu perkembangan sistem saraf pusat janin sehingga meningkatkan risiko autisme," kata Milada Mahic, peneliti utama penelitian ini dan ilmuwan di Norwegian Institute of Public Health.


Penyebab gangguan autisme masih belum dapat dipahami secara pasti, dan peneliti percaya kondisi ini muncul dari kombinasi pengaruh genetik serta lingkungan.

Sebanyak 68 anak-anak di Amerika Serikat mengalami autisme. Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang berdampak pada kemampuan sosial dan komunikasi.
Sekitar satu dari lima wanita Amerika memiliki penyakit herpes genitalis. Penyakit ini sulit disembuhkan dan biasanya menyebar melalui hubungan seksual.

Pada penelitian terbaru, ilmuwan menguji lima patogen yang sebelumnya terbukti meningkatkan risiko cacat lahir. Patogen tersebut diuji untuk melihat korelasi infeksi pada ibu dengan autisme pada anak.

Patogen tersebut termasuk Toxoplasma gondii, virus rubella, cytomegalovirus, dan virus simpleks herpes tipe 1 juga 2.

Peneliti menguji sampel darah dari 412 ibu dengan anak yang terdiagnosis autisme. Kemudian sampel tersebut dibandingkan dengan darah dari 463 ibu tanpa autisme di Norwegia.
Sampel darah dianalisis sekitar pada usia 18 pekan masa kehamilan dan saat melahirkan.

Hasil menunjukkan hanya antibodi HSV-2 yang memiliki keterkaitan dengan risiko tinggi autisme. Ini tidak ditemukan pada patogen lainnya.

Risiko tersebut hanya muncul ketika sistem kekebalan tubuh sang ibu melawan infeksi herpes di awal kehamilan. Pada masa itu, sistem saraf pusat janin tengah berkembang pesat.

"Penyebab tunggal atau jamak kebanyakan kasus autisme tidak diketahui," kata penulis senior W Ian Lipkin, direktur the Center for Infection and Immunity di Columbia University Mailman School of Public Health.

"Namun bukti menunjukkan peran untuk kedua faktor baik genetik dan lingkungan. Pekerjaan kami menunjukkan  peradangan dan aktivasi daya tahan tubuh dapat berkontribusi pada risiko." (end)