Pijat, 'Seni' Penyembuh Tertua untuk Stres dan Lelah

Christina Andhika Setyanti | CNN Indonesia
Sabtu, 25 Feb 2017 08:15 WIB
Merunut sejarah, pijat adalah seni penyembuhan tertua untuk stres dan lelah. Teknik terapi ini sudah dikenal sejak zaman Romawi kuno dan Kaisar Kuning China. Foto: Thinkstock/microgen
Secara naluriah, menginginkan tubuh yang bugar setelah lelah beraktivitas adalah keinganan semua orang. Hal inilah yang lantas mendasari munculnya bisnis pijat di Indonesia.

Meski sebenarnya pijat memiliki banyak manfaat, namun masyarakat Indonesia nyatanya lebih paham manfaat pijat sebagai sebuah teknik pemberi relaksasi.

Melalui survei yang dilakukan CNNIndonesia.com secara online, sekitar 73 persen beranggapan pijat adalah sarana relaksasi. Sedangkan yang beranggapan bahwa pijat lebih banyak bermanfaat untuk kesehatan adalah 14 persen, dan 8 persen lainnya menganggap pijat memberi kesenangan. Uniknya, lima persen lainnya mengaku tak tahu apa manfaat pijat.

Di Indonesia sendiri, bisnis pijat seperti layaknya sebuah tren. Banyak tempat yang seolah menawarkan jasanya untuk memberi pijatan yang menyegarkan tubuh. Berbagai spa dan salon berlomba-lomba menawarkan beragam jenis pijatan dengan iming-iming kesehatan serta kebugaran.

Bukan cuma salon dan spa khusus yang menawarkan pijat. Penyedia layanan jasa pijat pun menjamur. Sebut saja beragam panti pijat rumahan kecil yang tersebar di Jakarta, praktik pemijat rumahan, alat pijat di pelataran mal, sampai pijat online.

Sebenarnya pijat bisa dilakukan sendiri di rumah, tak harus menggunakan penyedia jasa pijat. Kreativitas bangsa Indonesia menghadirkan sebuah alternatif alat pijat untuk meringankan gejala lelah dan sakit pada area tertentu.

Selain menggunakan tangan, beberapa alat pijat tradisional berbahan dasar kayu pun diciptakan dalam beragam bentuk. Misalnya sandal refleksi yang memiliki tonjolan untuk menyentuh titik saraf di kaki, alat pijat roll kaki, alat pijat segitiga, sampai kerikan batok.

Seiring zaman dan teknologi yang makin berkembang, pijat kini juga memanfaatkan berbagai teknologi yang ada. Sebut saja kursi pijat listrik, pijat kaki, dan lainnya. Alat-alat tersebut dimanfaatkan sebagai sebuah alternatif pijat ringan yang lebih praktis.

Meski demikian, bagi banyak orang, jasa tukang pijat masih tak akan tergantikan oleh adanya alat-alat pijat modern tersebut. Salah satu buktinya adalah masih ramainya panti-panti pijat tuna netra yang mengunggulkan teknik serta pelayanan pijat seluruh tubuh dan juga pijat tradisional Cimande seperti milik Haji Naim.

Survei CNNIndonesia.com juga mengungkapkan bahwa ada waktu-waktu tertentu yang jadi pilihan orang Indonesia untuk pijat. Survei menyebut bahwa rata-rata orang Indonesia akan pijat di saat mereka mengalami pegal atau keseleo (42 persen).

Sekitar 39 persen lainnya akan pijat di saat mereka merasa butuh dipijat, sementara hanya empat persen yang menetapkan pijat sebagai aktivitas rutinnya. Sekitar 15 persen lainnya mengaku tidak pernah pijat.

(chs/chs)
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER