Selain menyoal konsumerisme, pameran ini juga mencoba memberikan gambaran bagaimana sepotong pakaian, jeans misalnya, dari dibuat hingga kemudian sampai di tangan konsumen dan dikenakan.
Jika dibanding ponsel atau komputer, sepotong busana terlihat tidak kompleks. Kompleksitasnya justru ada pada proses produksinya. Sayangnya, produksi pakaian tidaklah transparan. Claudia menjelaskan, tipikal fast fashion adalah banyaknya sub supplier. Pakaian tidak diproduksi di satu tempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sepotong jeans bisa melalui perjalanan panjang, 40.000 kilometer, artinya, kerusakan lingkungan juga terjadi di banyak tempat," tambahnya.
"Menyedihkan, orang pikir makin mahal harga baju, makin tinggi gaji pekerja," ucapnya.
Sementara itu, lingkungan turut merasakan dampak negatif dari industri fast fashion. Air selain menjadi sumber kehidupan bagi manusia, juga menjadi penggerak utama dalam industri pakaian. Tanpanya, tidak akan ada pakaian yang dikenakan kini. Beberapa foto menunjukkan kondisi sungai di beberapa negara tercemar akibat buangan limbah air sisa pewarnaan kain.
Sungai Tullahan di Filipina memiliki air berwarna pink atau kadang warna lain tergantung dari limbah sisa pewarnaan kain dari pabrik tekstil di sekitar. Sungai di Zengcheng, China juga memiliki warna tidak biasa, warna biru jins. Faktanya, sebanyak 320 juta warga China sulit mengakses air bersih.
Air bersih banyak terbuang dalam industri pakaian. Cukup mengejutkan ketika 12 ribu liter air terbuang untuk satu kaos.
"Fashion tidaklah buruk, tapi produksinya yang massal bisa berdampak negatif. Penggunaan bahan kimia, bisa memicu alergi, kanker," tambah Claudia.
Slow Fashion, sebuah alternatif
baca berikutnya ...