United Airlines Minta Maaf Atas Insiden Penurunan Penumpang

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Rabu, 12/04/2017 13:35 WIB
United Airlines Minta Maaf Atas Insiden Penurunan Penumpang Ilustrasi. (deluxtrade/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maskapai penerbangan United Airlines, melalui pimpinannya Oscar Munoz, menyatakan permintaan maaf terkait insiden penurunan penumpang yang terjadi pada akhir pekan kemarin.

Dilansir dari Al Jazeera pada Rabu (12/4), Munoz juga menyatakan kalau pihaknya akan meninjau kembali terkait protokal penurunan penumpang saat penerbangan kelebihan muatan.


“Saya menyatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya terkait insiden yang terjadi. Saya meminta maaf kepada penumpang yang diturunkan dan juga kepada penumpang lainnya,” kata Munoz.


“Kami akan bertanggung jawab penuh atas kejadian ini. Kami akan segera menuntaskannya,” lanjutnya.


Permintaan maaf ini dinyatakan setelah maskapai penerbangan yang berbasis di Amerika Serikat (AS) itu mendapat kritik, karena menurunkan penumpang dengan protokol yang kurang manusiawi pada Minggu (9/4).

Insiden penurunan penumpang itu terekam dalam video yang tersiar di dunia maya. Sang penumpang, Dr David Dao (69), terlihat diseret keluar kabin sampai berdarah.

Dao, bersama tiga penumpang lainnya, diminta untuk turun karena bangkunya akan digunakan oleh empat awak kabin Unite Airlines yang akan berangkat bertugas.

Pria berkewarganegaraan AS yang lahir di China itu menolak untuk menunda perjalanannya, karena ia harus segera bertemu dengan pasiennya.


Insiden yang dialami Dao juga memicu gelombang kritik di China. Para netizen di sana menganggap kalau United Airlines melakukan hal yang rasis, sehingga maskapai itu harus diboikot.

Maskapai memang berhak menurunkan penumpang, seperti yang dikatakan oleh pengamat industri penerbangan, Robert Mann.

“Penumpang tak memiliki hak jika maskapai sudah meminta untuk turun. Namun, maskapai tetap harus bertanggung jawab untuk mengurus penumpang sampai penerbangan selanjutnya,” kata Mann, seperti yang dikutip dari AFP.