Berburu Kenikmatan Kentang Dieng dan Mie Ongklok Wonosobo

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 26/04/2017 10:35 WIB
Berburu Kenikmatan Kentang Dieng dan Mie Ongklok Wonosobo Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari
Jakarta, CNN Indonesia -- Dataran tinggi Dieng dikenal dengan beragam destinasi wisata. Ada wisata alam, dimana turis bisa menikmati keindahan telaga, kawah dan gunung. Ada juga wisata sejarah yang menjelajah kompleks Candi Arjuna dan Candi Dwarawati.

Yang tak kalah menarik adalah wisata kuliner di sekitaran Dieng. Pelancong direkomendasikan tidak melewatkan mencoba purwaceng, si 'ginseng jawa' atau carica, buah endemik Dieng yang olahannya banyak dijual sebagai makanan ringan.

Purwaceng selama ini dikenal sebagai obat untuk vitalitas pria, tapi di Dieng, terdapat olahan purwaceng yang dapat dinikmati baik pria maupun wanita. Purwaceng biasa diolah menjadi minuman dengan rasa susu atau kopi. Sedangkan produk olahan purwaceng khusus untuk pria, bagian yang digunakan hanya akarnya saja.

Menikmati Berbagai Olahan Kentang
Kentang Dieng juga bisa dijadikan kudapan bahkan santapan nikmat bersama nasi putih hangat. Sebelum menjejakkan kaki di kompleks Candi Arjuna, ada baiknya menyicipi kentang goreng aneka rasa.


Jangan bandingkan dengan kentang goreng seperti di restoran cepat saji. Potongan kentang goreng Dieng cukup besar dan tebal. Sentuhan modern dari kentang goreng ini adalah serbuk penyedap rasa yang ditaburkan sesuai keinginan pembeli.

Olahan kentang lainnya bisa ditemui di sekitar bukit Sikunir. Jika kentang Dieng berukuran besar kerap diolah menjadi camilan kentang goreng, kentang berukuran kecil diolah lain lagi. Kentang berukuran kecil ini lazim disebut 'rindil' oleh warga setempat.

Kentang dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, garam, gula merah dan cabai. Rasanya tidak begitu pedas, lebih dominan rasa manis.
Berburu Kenikmatan Kentang Dieng dan Mie Ongklok WonosoboFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari

Berburu Mie Ongklok
Salah satu kuliner yang juga populer di sekitar Dieng adalah mie ongklok karena banyak restoran yang menawarkan kuliner yang satu ini. Namun, jika ingin mencoba mie ongklok populer, Anda bisa menyempatkan mampir ke mie ongklok Mas Slamet di Terminal Mandala atau warga kerap menyebutnya terminal Mendolo.

Gerobak mie ongklok Mas Slamet selalu 'mejeng' di depan salah satu agen bus di sana, mulai pukul 1 siang hingga pukul 17.30 atau sampai penumpang di terminal habis.

"Usaha mie ongklok ini dari mbah buyut, simbah, ayah lalu saya. Jadi sudah empat generasi," kata Erwan Sudiyanto saat ditemui di kediamannya di Desa Mendolo, Wonosobo pada Kamis (20/4).

Sang ayah sudah tidak berjualan mie ongklok. Kini ia dan sang adik ipar, Budi Irwanto yang meneruskan usaha keluarga ini. Apabila ia berjualan di terminal, sang adik berjualan keliling desa. Erwan mengaku, para pelanggannya tak pernah komplain soal rasa.

"Alhamdulillah, pelanggan nggak pernah protes. Katanya, rasa dari dulu nggak berubah," ujarnya.

Mie ongklok dibuat dengan mie telur, dilengkapi sayuran seperti selada air, kucai dan kol. Sedangkan kuah kental dibuat dari tepung kanji, gula merah dan rempah-rempah. Mie ongklok disajikan dengan taburan potongan tahu bacem dan sate sapi. Erwan berkata, tempe kemul juga biasa jadi kawan saat menyantap mie.

Untuk sate sapi, Erwan membuatnya sendiri. Daging sapi diasinkan terlebih dahulu sebelum dibakar di atas arang. Daging sapi yang digunakan pun tidak asal. Ia memilih bagian punuk sapi atau disebut 'lulur', karena daging empuk dan tidak berserat.
Berburu Kenikmatan Kentang Dieng dan Mie Ongklok WonosoboFoto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari

Rasa mie ongklok buatan Erwan ini dominan rasa gurih, tapi masih ada rasa manis di kuah kentalnya. Lima tusuk sate sapi makin melengkapi sajian.

Erwan berkata, dari dulu sampai sekarang, ia selalu berpegang pada ajaran sang ayah untuk tidak mengurangi bumbu, walau imbasnya, harga mie harus naik. Namun, hal ini tak membuat pelanggannya 'lari'.

Satu porsi mie ongklok dihargai Rp 13ribu, lengkap dengan 5 tusuk sate sapi. Setiap harinya, ia mampu menjual 50 mangkuk mie ongklok.

Bahkan, pernah suatu ketika mie ongkloknya langsung habis saat ia baru sampai di terminal. Saat itu ada rombongan wisatawan dari Kudus yang langsung memesan mie ongklok buatannya. Walau sudah habis, ia tak pernah berniat menambah dagangannya untuk hari itu.

"Besok jualan lagi, ngapain tenaga dihabisin sekarang," ucapnya disusul tawa.