Wabah Meningitis Tewaskan 813 Orang di Nigeria

Rahman Indra, CNN Indonesia | Kamis, 27/04/2017 18:05 WIB
Angka ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Pemerintah meluncurkan vaksinasi massal sebagai bagian dari tanggap darurat terhadap wabah penyakit. Angka ini lebih besar dari tahun sebelumnya. Pemerintah meluncurkan vaksinasi massal sebagai bagian dari tanggap darurat terhadap wabah penyakit. (Foto: Thinkstock/GreenApple78)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah meningitis di Nigeria menewaskan 813 orang sepanjang tahun ini.

Ungkapan itu disampaikan, Isaac Adewole, menteri kesehatan Nigeria, pada Rabu (26/4), seperti dilansir dari Reuters. Ia menyampaikan itu usai rapat kabinet yang dipimpin wakil presiden Yemi Osinbajo.

Pemerintah kemudian menyetujui pencarian dari rumah ke rumah di Nigeria utara untuk menemukan penderita meningitis agar mereka mendapat vaksinasi dan perawatan.


Terkait wabah meningitis ini, Pusat Pengendalian Penyakit Nigeria (NCDC) mengungkapkan negara Afrika barat itu pada April meluncurkan vaksinasi massal sebagai bagian dari tanggap darurat.

NCDC mengatakan bahwa infeksi tersebut menewaskan 33 orang pada 2016. Sementara, ada lebih dari 2.000 orang tewas karena wabah penyakit ketika terjadi pada 2009.

Ditengarai akses pengobatan terbatas bagi masyarakat khususnya yang tinggal di daerah pedesaan, di mana kebanyakan orang hidup dengan penghasilan kurang dari US$2 per hari.

Meningitis adalah penyakit yang disebabkan oleh peradangan pada selaput pelindung yang menutupi saraf otak dan tulang belakang yang dikenal sebagai meninges. Peradangan biasanya disebabkan oleh infeksi dari cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Tiga gejala meningitis di antaranya adalah demam, sakit kepala dan leher yang terasa kaku. Penyakit ini sering diderita oleh bayi dan anak-anak, tapi semua orang di segala usia bisa mengidap meningitis juga. Wabah itu menyebar terutama melalui ciuman, bersin, batuk dan lingkungan tempat tinggal.

NCDC saat ini bekerja sama dengan Badan Kesehatan Dunia, Dana Anak-anak PBB and Dokter Tanpa Perbatasan untuk mengendalikan wabah tersebut.