India Buka Toko Kondom Gratis Pertama

Syanne Susita, CNN Indonesia | Jumat, 28/04/2017 06:26 WIB
Badan amal global meluncurkan toko kondom gratis di India sebagai upaya untuk menurunkan kasus baru HIV/AIDS di negara ketiga tertinggi. Toko kondom gratis dibuka pertama di India. (Thinkstock/Peerayot)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seperti dilansir Reuters, The AIDS Healthcare Foundation (AHF) membuka toko kondom gratis di India sebagai upaya untuk menurunkan kasus baru HIV/AIDS di negara ketiga tertinggi.

AHF mengatakan jika inisiatif seperti ini adalah yang pertama.

Lebih lanjut, badan amal global ini menyebutkan jika organisasi dan individu dapat memesan kondom melalui telepon atau email. Suplai kondom kemudian akan dikirim langsung ke alamat permintaan. Jasa kondom gratis ini mencoba untuk tidak terlalu memusingkan isu tabu sosial atau kualitas.

Di India, menurut PBB, ada 2,1 juta orang terinfeksi HIV, walau laju infeksi menurun.


Kondom memang dapat dibeli dengan murah, tetapi pekerja seks dan grup rentan penyakit ini enggan membeli kondom dari toko karena tabu sosial yang begitu kuat.

Pemerintah juga mendistribusikan kondom secara gratis melalui pusat-pusat kesehatan tetapi para aktivis mengatakan jika stok sering tidak tersedia atau kualitas kondom yang tidak bagus.

“Pendanaan untuk kondom sangat kecil. Kebanyakan dipotong di berbagai negara di seluruh dunia. Kami banyak mendapat permintaan yang begitu membutuhkan dan akhirnya menyadari jika India membutuhkan toko kondom sendiri,” seru Terri Ford, ketua kebijaksanaan dan advokasi global di AHF.

Padahal, menurutnya kondom adalah cara termurah dan terbaik untuk mencegah infeksi HIV.

“Jadi, kami sangat kesal dengan pemotongan dana untuk pengadaan kondom itu,” terang Ford kepada AFP.

Kebanyakan program AIDS di India telah berhasil tetapi pada tahun 2014, pemerintah pusat memotong jatah pendanaan sehingga persediaan kondom dan obat anti-retroviral kekurangan.

Pemerintah kemudian mengembalikan dana tetapi komunitas yang rentan terjangkit terus terancam risiko infeksi, termasuk harus menghadapi stigma dalam masyarakat yang rata-rata masih konservatif.

Bulan lalu, parlemen telah menyetujui peraturan mengenai pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. Lima belas tahun setelah penyakit ini diperkenalkan di depan badan legislatif untuk menjaga hak penderita dan melindungi mereka dari diskriminasi.

“Bayangkan, satu peraturan saja butuh waktu 15 tahun. Kami merasa sangat frustasi. Kami bekerja dengan pemerintah di berbagai dunia tetapi tidak ada yang seperti birokrasi di India,” tambah Ford.

Ditambahkan Ford jika birokrasi yang lambat sebenarnya membunuh orang.

“Terlalu banyak orang yang sekarat karena kurangnya waktu pengetesan dan perawatan. India ingin menjadi pemain global di dunia ekonomi tetapi jika memastikan jaminan kesehatan paling mendasar saja tidak bisa, hal itu tidak akan tercapai.” (SYS)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK