Pendaki Pemula Membuat Gunung Everest Jadi Lebih Berbahaya

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Kamis, 04/05/2017 15:04 WIB
Pendaki Pemula Membuat Gunung Everest Jadi Lebih Berbahaya Titik Khumbu Ocefall di Gunung Everest. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Telah banyak film yang menggambarkan “keganasan” alam Gunung Everest, mulai dari ‘The Summit’ (2012) sampai ‘Everest’ (2015). Jangankan pendaki pemula, pendaki profesional pun masih merasa kesulitan untuk menjangkau gunung setinggi 8.850 meter itu.

Dilansir dari Travel and Leisure pada Kamis (4/5), Badan Pendakian Nepal mengatakan kalau cuaca di Gunung Everest akan sangat buruk pada tahun ini. Mereka mengimbau para pendaki untuk menghadapi kemungkinan terburuk saat melakukan perjalanan untuk sampai ke puncaknya.

Salah satu pendaki asal Inggris, Tim Mosedale, menanggapi imbauan tersebut dengan menyatakan kalau pendaki pemula sebaiknya “tidak bunuh diri” dengan nekat mendaki Gunung Everest.


Mosedale, yang telah mendaki gunung tertinggi di dunia itu sebanyak lima kali, memberi pernyataannya melalui unggahan status di Facebook pada minggu lalu.

“Pendaki pemula, apalagi yang tidak berpengalaman, membahayakan dirinya dan pendaki yang lain. Saya menyaksikannya sendiri pada minggu lalu di titik Khumbu Icefall,” tulis Mosedale.

Badan Pendakian Nepal, mengatakan kalau pendakian di Gunung Everest akan sangat ramai pada pertengahan Mei. Karena di saat itu, angin tidak bertiup kencang, sehingga pendaki bisa lebih nyaman untuk melangkah.

Tahun ini, Badan Pendakian Nepal juga telah menerbitkan 371 surat izin mendaki, jumlah yang sangat besar sejak terakhir kali terjadi pada 1953.

Ratusan surat izin mendaki itu hanya untuk pendaki, belum dengan pemandu mereka, atau yang disebut sherpa. Secara total diperkirakan, akan ada 800 orang yang mendaki di Gunung Everest pada tahun ini.

Membludaknya pendaki akan menimbulkan antrian, padahal kondisi tubuh manusia tidak diciptakan untuk terlalu lama berada di medan yang sangat dingin dengan kadar oksigen yang sangat rendah seperti Gunung Everest.

“Saya pernah berada dalam antrian pendaki. Rombongan yang saya bawa sampai harus menunggu empat jam untuk bisa bergantian naik ke puncaknya. Akhirnya, dua anggota rombongan saya harus kehilangan jempolnya yang membeku lalu patah akibat udara yang sangat dingin,” kata Mingma Tenze Sherpa, salah satu pemandu, saat diwawancara oleh The Washington Post.

Sherpa di Gunung Everest. (Phurba Tenjing Sherpa/Handout via REUTERS)

Mosedale menambahkan, sherpa juga tak akan bisa berbuat banyak jika anggota rombongannya tidak terlatih untuk mendaki.

“Mendakilah jika yakin bisa mengatasi masalah kekurangan oksigen dalam perjalanan. Mendakilah dengan sherpa yang memiliki peralatan penunjang kesehatan, seperti tabung oksigen,” tulis Mosedale.

Tahun 2016 ada sebanyak enam pendaki yang tewas di Gunung Everest. Kebanyakan dari mereka tewas di titik Death Zone, titik sebelum menuju puncak gunung.

Mereka yang tewas dikarenakan kehabisan oksigen dan jatuh tergelincir.

“Kami mengenal betul kawasan ini. Tapi, banyak pendaki yang bersikeras ingin sampai ke puncak meski kondisi alam tak memungkinkan,” kata Lakhpa Tharke Sherpa, salah satu pemandu, saat diwawancara oleh CNN.