Laporan dari Bratislava

'PR' Besar Kuliner Indonesia untuk Bisa Mendunia

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 05/05/2017 10:14 WIB
'PR' Besar Kuliner Indonesia untuk Bisa Mendunia Makanan Indonesia masih harus berbenah untuk bisa mendunia. (Thinkstock/Riki Risnandar)
Bratislava, CNN Indonesia -- Pengakuan rendang sebagai salah satu makanan terenak di dunia seolah menjadi sebuah momen kebangkitan tersendiri bagi kuliner tradisional. Setelah rendang, kuliner tradisional lainnya seolah ingin menunjukkan taringnya ke kancah dunia. Pemerintah, industri swasta, dan masyarakat pun bergandengan tangan untuk bisa memperkenalkan kuliner Indonesia. 

Salah satu caranya adalah dengan mengikuti berbagai festival kuliner tingkat dunia dan berbagai acara budaya serta kuliner lainnya. 

“Pemerintah sebenarnya punya anggaran untuk mempromosikan kuliner Indonesia. Tapi harus kegiatan yang konkret pastinya. Berbagai kegiatan dan festival dunia yang diikuti ini bisa dipakai sebagai kesempatan warga asing untuk melihat Indonesia, lewat makanannya,” kata Kurniawan, konselor pensosbud KBRI Indonesia di Gran Hotel La Florida, Spanyol saat Indonesian Food Tour kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
 
“KBRI Spanyol sangat support dengan makanan Indonesia.”


Ada alasan kuat mengapa Kurniawan sangat mendukung promosi makanan Indonesia di Spanyol. Tak seperti negara-negara lainnya, kuliner Indonesia belum begitu dikenal di Spanyol. 

“Spanyol adalah negara yang sangat hormat dengan kuliner. Mereka punya komitmen kuat untuk memajukan kuliner katalunia dan juga kulinär internasional. Jadi ini sebenarnya adalah kesempatan bagus untuk Indonesia masuk dalam bisnis kulinär di Spanyol.”

Kurniawan sendiri mengungkapkan kalau makanan Indonesia sebenarnya punya potensi sukses disukai warga Spanyol karena cita rasanya yang khas. Wisatawan yang hadir dalam berbagai event kuliner dan budaya di Spanyol sendiri diungkapkan Kurniawan sangat puas dengan makanan Indonesia. Kepuasan pengunjung yang hadir menunjukkan bahwa mereka suka dengan makanan Indonesia.

Dua chef Indonesia yang unjuk gigi menunjukkan kepiawaian mereka memasak kuliner Indonesia di Barcelona dan Bratislava dalam Indonesia Food Tour, Renatta Moelek dan Maxie Millian mengungkapkan bahwa mereka juga yakin makanan Indonesia bisa diterima baik oleh warga Eropa. 
Namun yang disayangkan, restoran yang menghadirkan makanan Indonesia di Spanyol jumlahnya sangat sedikit. 

“Dulu sempat ada di Madrid, satu restoran tapi tutup setelah beberapa bulan. Sekarang tidak ada lagi. Kalau di Barcelona hanya ada dua restoran Indonesia,” ucapnya. 

“Sebenarnya tidak sushi untuk memperkenalkan makanan Indonesia kepada warga atau turis di Spanyol. Mereka juga suka makanan yang penuh rempah dan berbumbu seperti makanan Indonesia, Karena cita rasanya yang berbeda dengan makanan mereka sehari-hari,” kata Sri Herawati Purwaningsih, pemilik restoran Gado-gado dan Betawi di Barcelona kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. 
“Tapi yang pasti kadar pedasnya harus dikurangi. Orang Eropa tidak suka makanan yang terlalu pedas.”

Senada dengan warga Spanyol, warga Bratislava, Slovakia ternyata punya selera makan yang hampir sama. Mereka tak suka makanan yang terlalu pedas. Kebalikannya mereka memiliki selera kuliner yang unik dengan menonjolkan rasa manis dalam tiap makanannya. 

Tantangan besar makanan Indonesia di luar negeri

Meski keoptimisan soal penerimaan kuliner Indonesia sudah bisa sedikit teratasi, namun masih ada banyak kendala yang menghadang. 
“Orang-orang Indonesia masih belum berani untuk membuka restorannya sendiri di sini. Terkadang sekalinya berani, mereka masih belum punya standarisasi untuk restorannya,” kata Kurniawan. 

“Ketika mereka tidak punya standarisasi untuk restorannya, banyak orang akan berpikir harganya terlalu mahal, selain itu cita rasanya tidak selalu sama pada setiap piringnya. Tidak ada konsistensi dalam makanannya.”

Sebagai pemilik restoran Indonesia satu-satunya di Barcelona, Sri Herawati Purwaningsih mengungkapkan bahwa tantangan lainnya yang mungkin dihadapi adalah soal bahan baku autentik. 

“Beberapa tahun lalu mencari bahan baku untuk makanan Indonesia masih cukup sulit. Tapi sekarang sudah lebih mudah, karena bisa didatangkan dari Belanda. Tapi harganya masih lumayan dan ini akan berdampak pada harga jual makanan.”

Tantangan bukan hanya datang karena bahan baku dan standarisasi. Anggapan dan gambaran soal bambú makanan Indonesia yang ‘menakutkan’ juga menjadi tantangan tersendiri. 

“Banyak orang beranggapan bahwa makanan Indonesia punya bumbu yang agresif dan kuat sehingga rasanya sangat kuat,” kata chef Maxie Millian kepada  CNNIndonesia.com.

Akan tetapi sebenarnya ini masih bisa diatasi dengan mengurangi bumbu dan juga cabainya. Namun Maxie menambahkan bahwa sebenarnya anggapan bumbu kuat dan agresif ini tidak sebenarnya terjadi. Warga Barcelona misalnya, saat dihidangkan rawon, gado-gado, ataupun sate Padang, mereka justru bisa menerima aneka kuliner kaya rempah itu dengan baik. 


Di Bratislava, kondisi serupa terjadi. Kota di Slovakia ini juga hanya memiliki satu restoran Indonesia, Makan. Namun restoran ini pun masih baru dibuka. 

“Sebenarnya tidak ada tantangan yang berarti untuk memperkenalkan makanan Indonesia di Bratislava," kata Fitri Riyanti, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) kepada CNNIndonesia.com di restoran Makan, Bratislava, Selasa (2/5).  

"Hanya saja masalahnya, informasi soal makanan Indonesia ini masih sangat terbatas. Paling hanya ada di KBRI. Namun sekarang sudah ada satu restoran Indonesia baru di sini, jadi sedikit banyak bisa jadi tempat pengenalan makanan Indonesia."