Pentingnya Peran Istri Saat Suami Terjerat Perkara Hukum

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Rabu, 17/05/2017 06:25 WIB
Pentingnya Peran Istri Saat Suami Terjerat Perkara Hukum Foto: PublicDomainPictures/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap istri pasti tidak ingin jika pasangan hidup mereka harus tersandung perkara hukum. Sang suami yang bertugas sebagai kepala keluarga pun terpaksa harus pergi meninggalkan dia dan anak-anaknya.

Bukan tidak mungkin seorang istri menjadi lemah secara mental karena perihal tersebut.

Psikolog Jovita Ferliana mengatakan, seorang istri harus tetap mendampingi suami mereka yang tersandung perkara hukum. Hal itu untuk menjaga komitmen serta keutuhan rumah tangga mereka.

"Lebih baik mendampingi, untuk tetap memberikan yang terbaik bagi keluarga. Jika sadar dengan komitmen itu, kehilangan sesuatu hal tidak akan merusak hubungan mereka," tuturnya di Jakarta Pusat, Selasa (16/5).


Fungsi istri, kata Jovita, tetap sebagai pendukung. Dia harus memberikan kata-kata penguat, memberikan sentuhan fisik seperti pelukan dan ciuman lembut sebagai penguat.

Jovita menilai, tugas seorang istri memang menjadi lebih berat saat hal itu terjadi. Tugasnya pun berlipat ganda seperti menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga.

Selain itu, mereka juga harus memberikan penjelasan kepada anak-anak soal kasus yang menjerat ayahnya. Penjelasan itu dapat diberikan dengan menyebutnya sebagai musibah yang tidak diduga.

Kepribadian

Meski demikian, Jovita mengatakan, peran tersebut harus kembali lagi pada karakter sang perempuan. Ada sejumlah karakter perempuan yang sebelumnya harus dipahami.

Seseorang yang narsistik, kata Jovita, belum tentu dapat menerima hal tersebut dengan cepat karena lebih memikirkan tanggapan lingkungan. Biasanya, orang narsistik lebih menginginkan pujian dan diakui di lingkungan.

Sedangkan, seseorang yang selalu bergantung pada suami hanya akan memikirkan bagaimana nasib suaminya ketika berhadapan dengan hukum. Hal tersebut akan membuatnya menjadi jatuh dan tidak bisa berpikir ke depan.

Keterbatasan ekonomi juga menjadi faktor lain jatuhnya mental seorang istri. Hal tersebut karena suami yang bertugas sebagai kepala keluarga harus diambil dan tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan hidup berumah tangga.

"Tidak ada fungsi kepala keluarga lagi dan sebagainya. Melihat anak-anaknya, ada tekanan sosial juga yang akan mempengaruhi respon dirinya," ujarnya.

Menurut Jovita, persoalan itu akan mudah diterima oleh seseorang yang tegar dan kuat. Mereka sudah tidak lagi memikirkan soal hukum yang menjerat suaminya tetapi, lebih kepada apa yang harus mereka lakukan untuk keluarga dan suaminya di penjara.

"Ada yang teguh, dia sudah tidak lagi memikirkan ekonomi, pendapat orang sekitar, tetapi sudah memiliki kekuatan. Dia akan melihat justru ke dalam, mawas dari diri sendiri dan akan menjalani dan menunggu sampai keadilan itu datang ke mereka," ucapnya.