Studi: Sosial Media yang Paling Buruk untuk Kesehatan Mental

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Selasa, 30/05/2017 10:10 WIB
Studi: Sosial Media yang Paling Buruk untuk Kesehatan Mental ilustrasi (LoboStudioHamburg/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Media sosial memang terbilang sangat kekinian. Bahkan anak-anak muda pasti memiliki banyak aplikasi media sosial di ponselnya.

Namun jika tak digunakan dengan benar, media sosial ternyata bisa berakibat buruk. Dari sekian banyak aplikasi media sosial yang beredar, sebuah penelitian menobatkan Instagram sebagai aplikasi yang paling merusak kesehatan mental anak muda.


Penelitian ini dilakukan oleh The Royal Society for Public Health (RSPH) dan charity Young Health Movement di Inggris. Mereka melakukan penelitian terhadap 1500 anak muda (rentang usia 14-24) selama bulan-bulan pertama tahun 2017.


Penelitian tersebut menilai dan mengamati tentang bagaimana media sosial memengaruhi kesehatan mental dan lingkungan mereka.

Responden muda ini dinilai tentang 14 aspek kesehatan mental termasuk kecemasan, depresi, kesepian, tidur, bullying, dan FoMo (Fear of Missing Out).


Nyatanya, penelitian tersebut memberikan hasil yang mengejutkan. Berdasarkan rating, Instagram, dinilai sebagai aplikasi media sosial yang memiliki efek negatif paling banyak.

Mengutip Independent, platform berbagi foto ini dianggap merusak persepsi soal citra tubuh, meningkatkan rasa takut seseorang akan ketertinggalan (FoMo), sampai memberikan efek buruk pada tidur.

Hanya saja, di sisi lainnya, Instagram juga memiliki sisi baik. Dilihat dari sisi baiknya, Instagram dianggap punya pengaruh baik untuk ekspresi diri, identitas diri, dan meningkatkan komunitas.

Di posisi dua media sosial terburuk adalah Snapchat. Snapchat dianggap meningkatkan ketakutan akan FoMo dan bullying. Namun baik untuk peringkat ekspresi diri.

Facebook merupakan aplikasi yang dianggap ada di tengah-tengah. Di satu sisi, platform buatan Mark Zuckerberg ini memberikan pengaruh buruk pada kualitas tidur dan bullying. Namun media sosial paling populer ini memiliki nilai positif untuk dukungan emosional dan pembangunan komunitas.

Twitter berada di posisi ke-dua, media sosial terbaik. Media sosial yang identik dengan gambar burung ini dianggap nyaris punya posisi sama dengan Facebook.

Sedangkan menurut penelitian, Youtube dianggap sebagai satu-satunya media sosial yang punya banyak efek positif yang luas yang terkait dengan kesehatan mental.

Youtube sebagai platform berbagi dianggap mampu meningkatkan kewaspadaan, membangun komunitas, serta ekspresi diri. Namun sisi buruknya adalah pengaruh kualitas tidur.


"Media sosial dianggap lebih adiktif dibanding rokok dan alkohol. Ini adalah cara media sosial masuk ke dalam kehidupan orang muda," kata Shirley Cramer, chief executive dari RSPH.

Terkait hal ini, Instagram memberi pernyataan bahwa menjadi tempat yang aman dan mendukung anak muda adalah prioritas utama mereka.