Keringat Berlebih Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Jumat, 09/12/2016 07:43 WIB
Keringat Berlebih Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental Hiperhidrosis atau keringat berlebih bisa jadi gejala depresi dan kecemasan. (Thinkstock/Koldunov)
Jakarta, CNN Indonesia -- Studi yang dilakukan di Saint Louis University School of Medicine, menyebutkan sebanyak 27 persen orang dengan hiperhidrosis terbukti positif mengidap depresi. Sekitar 21 persen pengidap hiperhidrosis juga ternyata mengaku punya kecemasan berlebihan.

Namun, studi itu tidak menunjukkan bukti bahwa hiperhidrosis menyebabkan kedua gangguan mental tersebut.

“Di beberapa kasus, hiperhidrosis jadi gejala yang menyertai kecemasan berlebihan,” kata ketua peneliti Dr. Youwen Zhou, dikutip Live Science.


Sementara, Dr. Dee Glaser, profesor dermatologi di Saint Louis University School of Medicine, yang tidak terlibat dalam penelitian, menyebut studi tersebut, tidak bisa menjadi dasar bahwa mengontrol hiperhidrosis bisa mengatasi kecemasan dan depresi.

Menurut Glaser, adanya hiperhidrosis bisa jadi pertimbangan lebih lanjut untuk diagnosa depresi dan kecemasan berlebihan.

“Jika diperlukan, dermatolog bisa merujuk pasien dengan hiperhidrosis ke psikolog untuk diagnosa lebih lanjut,” ujarnya.

Hiperhidrosis merupakan kondisi medis di mana seseorang memproduksi keringat tiba-tiba dan berlebih, termasuk saat mereka dalam keadaan santai, atau tengah berada di ruangan sejuk.

Kondisi tersebut, menurut International Hyperhidrosis Society, bisa diatasi dengan antiperspirant kuat, suntik Botox, atau terapi elektrik untuk mengurangi aktivitas kelenjar keringat dalam tubuh.

Di sisi lain, hiperhidrosis ini juga bisa membuat orang merasa rendah diri dan memilih menghindari aktivitas sosial. Hal itu, ungkap Glaser, bisa jadi memicu depresi dan kecemasan.

“Bagi mereka yang tidak memiliki hiperhidrosis, bisa dengan mudah berpikir, ‘oh itu hanya keringat’, namun bagi mereka yang merasakannya, bersosialisasi adalah beban berat yang bisa memicu depresi dan kecemasan,” paparnya.

Dr. Zhou beserta timnya, melakukan studi terhadap lebih dari dua ribu pasien hiperhidrosis di dua klinik dermatologi, yang berlokasi di Kanada dan China. Para partisipan diharuskan menjawab kuesioner yang bisa mengukur tingkat depresi dan kecemasan.

Hasilnya, kedua kondisi gangguan mental tersebut ternyata umum terjadi di pasien hiperhidrosis. Tingkat gangguan mental yang terjadi juga berbanding lurus dengan tingkat produksi keringat. Dengan kata lain, semakin banyak produksi keringat, semakin tinggi juga gangguan kecemasan dan depresi yang terjadi.

“Studi ini membuktikan ada kaitan antara hiperhidrosis dengan depresi dan kecemasan,” kata Zhou, yang mengepalai Vancouver Hyperhidrosis Clinic di University of British Columbia, Kanada.

Tapi, dia juga sependapat dengan Glaser, bahwa penelitian itu tidak menggarisbawahi hiperhidrosis sebagai penyebab depresi dan kecemasan.

“Dibutuhkan penelitian lebih jauh untuk mencari penyebab depresi dan kecemasan pada pengidap hiperhidrosis,” ujarnya.

Meskipun begitu, Zhou menganjurkan para pengidap hiperhidrosis sebaiknya berkonsultasi dengan dokter mengenai kondisi mental mereka.

“Jangan hanya diam dan menganggap itu hal biasa,” tambah Zhou.

Penelitian Zhou dipublikasikan di Journal of the American Academy of Dermatology, edisi Desember. (les)