Studi: 'Fast Food' Lebih Banyak Dikonsumsi Kelas Menengah

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 09/08/2017 19:57 WIB
Studi: 'Fast Food' Lebih Banyak Dikonsumsi Kelas Menengah Studi terbaru yang dilakukan peneliti AS menemukan makanan cepat saji lebih banyak dikonsumsi kelas menengah dan atas. Harganya ditengarai salah satu alasan. (Foto: achmadbiz/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Makanan cepat saji kerap menjadi kambing hitam karena dianggap tidak menyehatkan. Sejumlah ahli gizi menyebutkan, hal itu disebabkan karena ada kandungan lemak, garam dan kalori di dalamnya. Lebih parah lagi, fast food atau junk food juga ditengarai menjadi salah satu penyebab obesitas di AS dan juga dunia.

Karena hamburger, milkshake dan ayam goreng di makanan cepat saji relatif dijual dengan harga terjangkau, banyak yang beranggapan junk food lebih banyak dikonsumsi oleh warga miskin. Asumsi ini juga yang mendorong pemerintah di AS melarang penyebaran restoran fast food di daerah yang berpendapatan rendah.

Asumsi itu kemudian dipatahkan oleh temuan baru yang dilakukan peneliti AS, dan terbit di jurnal Economics & Human Biology, seperti dilansir dari Vox, baru-baru ini.



Ekonom dari Universitas Negeri Ohio, Jay Zagorsky dan profesor ekonomi dari Universitas Michigan, Patricia Smith mencoba meneliti hal ini. Riset yang diterbitkan di jurnal tersebut menemukan bahwa orang dari kalangan bawah sebenarnya cenderung lebih sedikit mengkonsumsi junk food daripada kalangan menengah.

Temuan ini kemudian sejalan dengan sejumlah peristiwa yang terkait dengan promosi dari junk food itu sendiri di AS. Sebut saja di antaranya para kalangan atas seperti Donald Trump yang terang-terangan mengakui kalau dirinya menyukai junk food. Satu dari orang kaya di bumi, Warren Buffett pun pernah berkata dirinya menikmati junk food layaknya anak enam tahun. Artinya, dia makan Oreo dan Cokes tiap hari.

[Gambas:Youtube]


Selain temuan di atas, riset ini juga menunjukkan bahwa tingkat pendapatan tak membuat perbedaan spesifik soal konsumsi junk food. Riset menunjukkan mereka yang berada di kelas ekonomi paling rendah yang makan junk food paling tidak sekali dalam tiga minggu sebanyak 80,6 persen. Sedangkan kalangan menengah sebanyak 84,3 - 85 persen. Kalangan atas sebanyak 74,6 persen.

Dilihat dari frekuensinya, riset menemukan kalangan menengah mengkonsumsi junk food lebih sering daripada kalangan bawah dan kalangan atas. Kalangan bawah rata-rata 3,67 porsi, kalangan menengah sekitar empat porsi dan kalangan atas tiga porsi.

Perlu Alternatif Lain

Keputusan untuk melarang restoran cepat saji di kawasan 'miskin' mungkin bukan hal yang tepat, meski ada niat baik untuk meningkatkan kesehatan masyarakat miskin.


Lalu, apa alternatifnya? Zargosky dan Smith menemukan bahwa orang yang mengecek kandungan bahan sebelum makan punya asupan junk food lebih rendah. Hal ini membuat masyarakat tahu dan sadar tentang apa yang mereka makan lewat label dan informasi kalori dalam makanan. Ini pun bisa membantu konsumen untuk memilih makanan yang lebih sehat.

Temuan lainnya, bahwa jam kerja yang lebih banyak juga meningkatkan konsumsi junk food, bukan soal tingkat pendapatan. Orang makan junk food karena cepat dan nyaman. Mungkin para ahli gizi mesti merumuskan menu makanan yang siap saji, cepat dan bisa mengurangi konsumsi junk food, misal dengan menyediakan food truck yang menyediakan buah dan sayuran segar yang mendorong orang untuk mengkonsumsi makanan sehat dengan nyaman.