Yang Terjadi pada Tubuh Jika Makan Junk Food Seminggu Penuh

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2015 09:09 WIB
Yang Terjadi pada Tubuh Jika Makan Junk Food Seminggu Penuh Ilustrasi hamburger. (CNN Indonesia internet/ Michael Stern/Flickr)
Jakarta, CNN Indonesia -- Para peneliti melakukan percobaan unik untuk mempelajari bagaimana pola makan penduduk Amerika Serikat dapat memengaruhi orang-orang. Mereka merekrut enam orang untuk mengonsumsi makanan yang per hari mengandung 6000 kalori yang terdiri dari pizza, hamburger, dan junk food lainnya selama satu minggu.

Mereka juga tinggal di rumah sakit selama masa percobaan. Di sana mereka hanya berada di atas tempat tidur, dipantau dengan hati-hati, dan dicegah melakukan olahraga apapun.

Guenther Boden dan Salim Merali di Universitas Temple, Philadephia, mengatakan, mereka ingin menciptakan kembali pola makan rata-rata orang Amerika, dan mencari tahu bagaimana pola makan tersebut menyebabkan diabetes tipe dua.


“Kami menemukan, memberikan makanan dengan pola makan orang Amerika pada umumnya kepada lelaki non obesitas sebanyak dua sampai 2,5 kali asupan kalori biasa mereka selama satu sampai dua hari, memproduksi resistensi insulin jaringan sistemik dan adiposa yang parah,” ujar para ilmuwan menyimpulkan.

“Itu adalah pola makan biasa orang-orang Amerika, yang terdiri dari pizza, hamburger, dan hal-hal semacam itu,” kata Merali, seperti dilansir dari laman New Scientist. “Mereka mengonsumsi pola makan itu, dan menyukainya,” kata Boden.

Penelitian itu berlangsung selama satu minggu. Pada waktu tersebut, para peserta mendapatkan rata-rata berat tambahan 3,5 kilogram. Mereka juga menunjukkan tanda-tanda resistensi insulin serta stres oksidatif, kata para peneliti yang studinya tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Translational Medicine.

[Gambas:Youtube]

Pada hari kedua, semua peserta mengalami peningkatan pesat dan terus-menerus, baik untuk kadar insulin darah dan resistensi insulin. Kondisi ini dapat menyebabkan resistensi insulin jaringan sistemik dan adiposa yang parah pada satu dari enam subjek penelitian. Penelitian ini dirancang untuk mencari tahu tentang resistensi insulin.

“Obesitas sangat umum terjadi di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Kondisi ini dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan yang dikenal sebagai sindrom metabolik,” kata mereka. Resistensi insulin adalah komponen kunci sindrom ini. Namun, mekanisme di mana obesitas menyebabkan resistensi insulin tidak sepenuhnya dipahami.

Dalam penelitian ini, sekitar 50 persen diet terdiri atas karbohidrat, 35 persen lemak, dan 15 persen protein. Pada awalnya, tiga dari peserta laki-laki memiliki berat badan normal, tiga peserta kelebihan berat badan, dan tidak ada yang mengalami obesitas.



(win/mer)