Penderita Stroke Meningkat, Waspadai Gaya Hidup Tak Sehat

Rahman Indra , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 13:33 WIB
Penderita Stroke Meningkat, Waspadai Gaya Hidup Tak Sehat Jumlah penderita stroke meningkat dengan faktor penyebab yang mulai beragam, dari diet yang buruk, kurang olahraga, hingga minimnya akses perawatan kesehatan. (Foto: Thinkstock/pixelheadphoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mengonsumsi makanan berkolesterol tinggi, merokok, hingga diabetes berpotensi meningkatkan kesempatan mengidap stroke.

Tak hanya itu, penggunaan narkoba atau obat terlarang ditengarai juga menjadi penyebab penyakit stroke pada anak-anak muda. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan. 

Menurut hasil analisis yang diterbitkan Neurology beberapa waktu lalu terdapat lebih dari 900.000 orang yang dirujuk ke rumah sakit karena stroke dalam satu dekade terakhir di Amerika Serikat.

Periset menyebutkan yang paling mengejutkan ialah tingginya angka penderita stroke yang juga menderita diabetes. Tak hanya itu, stroke juga mengalami peningkatan pasien dari mereka yang berketurunan Hispanik dan Afrika-Amerika. Masing-masing naik angkanya 50 persen dan 44 persen. 

"Angka tersebut sangat mencemaskan. Diet yang buruk, akses pada perawatan kesehatan yang sulit, kurang berolahraga, dan berbagai faktor lain berkontribusi pada resiko peningkatannya," jelas profesor neurologi klinis Miller School of Medicine dokter Seemant Chaturvedi, seperti dikutip dari NPR, baru-baru ini.


"Diperkirakan sekitar 80 persen stroke pertama disebabkan oleh faktor yang bisa berubah seperti, tekanan darah tinggi, dan berbagai usaha telah dibuat untuk mencegah dan mengobati faktor beresiko tersebut. Namun, kami masih melihat peningkatan jumlah penderita stroke dengan satu atau lebih dari faktor tersebut," tutur ahli saraf dokter Fadar Oliver Otite, dari University of Miami Miller School of Medicine. 

Kendati demikian, tidak semua faktor resiko meningkat secara merata atau bisa dikaitkan dengan penyebab yang sama. Diabetes mampu menjadi penyebab peningkatan faktor beresiko. Sementara, faktor resiko lainnya bisa meningkat karena penyebab lain, seperti dokter yang kurang memberi perhatian pada pasien.

Chaturvedi memberikan contoh jika pasien stroke dengan dislipidemia, kondisi di mana terdapat ketidakseimbangan antar lemak dan zat lain dalam darah, hampir meningkat dekade terakhir disebabkan oleh dokter sedang menguji kondisi tersebut.


Selain itu, Amerika Serikat juga sedang bergulat dengan jumlah penggunaan narkoba dan obat-obatan terlarang yang menjadi penyebab meningkatnya stroke di kalangan masyarakat di usia muda.

Prevalensi penyalahgunaan obat di antara pasien stroke meningkat dua kali lipat dari 1,4 persen tahun 2004 hingga 2,8 persen di tahun 2014.

Beranjak dari data itu, Chaturvedi menginginkan adanya kesadaran dari generasi muda bahwa perilaku tersebut membuat mereka beresiko terserang stroke, sehingga anggapan stroke hanya diidap lansia tidak sepenuhnya benar. Stroke kini juga menjadi masalah yang terus meningkat di antara anak muda.

Hasil studi tersebut juga menunjukkan bahwa prevelensi diabetes pada pasien stroke dari semua umur dan etnis meningkat 22 persen. Dari 31 persen jumlah pasien tahun 2004 hingga 38 persen pada 2014.  (tab)