Jejak Penjelajah Muslim di Klenteng Sam Poo Kong Semarang

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 15/02/2018 16:47 WIB
Ada jejak penjelajah Muslim dalam sejarah Klenteng Sam Poo Kong. Terbukti, keharmonisan antar umat beragama di Indonesia sudah ada sejak dulu. Laksamana Cheng Hoo pernah singgah di Semarang. Di tempatnya berteduh dibangun Klenteng Sam Poo Kong, yang kini populer sebagai objek wisata religi. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Semarang, CNN Indonesia -- Hampir setiap negara di dunia memiliki kawasan Pecinan yang banyak dihuni orang keturunan Tionghoa. Fenomena itu menjadi salah satu bukti bahwa sejak dulu orang Tionghoa gemar melakukan penjelajahan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang dikunjungi orang Tionghoa. Legenda kunjungan Laksmana San Poo Tay Djien atau yang dikenal dengan nama populer Cheng Ho, di Semarang, Jawa Tengah, merupakan salah satu yang paling terkenal.

Klenteng Sam Poo Kong yang berdiri tegak di kawasan Bukit Simongan menjadi saksi bisu penjelajahan Cheng Ho di Indonesia.


Bangunan yang kini dijadikan tempat ibadah pemeluk Tridharma (Taoisme, Buddhisme dan Konfusianisme) itu berada di kawasan yang awalnya menjadi tempat berteduh Cheng Ho saat harus "terpaksa" berlabuh pada tahun 1416, karena juru mudi kapalnya, Ong Keng Hong, sedang sakit keras.

"Saat berlabuh, Cheng Ho sempat merawat Ong Keng Hong bersama awak kapal lainnya. Namun, Cheng Ho terpaksa meinggalkan Ong Keng Hong karena harus melanjutkan perjalanan," kata Ketua Yayasan Sam Poo Kong, Chandra Budi Atmaja, kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Kondisi Ong Keng Hong bersangsur membaik setelah dirawat oleh beberapa awak kapal yang menetap bersama warga Bukit Simongan.

Baik Cheng Ho, Ong Keng Hong, dan sebagian awak kapalnya beragama Islam. Setelah membaik, Ong Keng Hong dan awak kapal lainnya mulai menyebarkan agama Islam. Mereka juga selalu menceritakan sosok Cheng Ho yang berani serta bijaksana.

Perkataan Ong Keng Hong tentang Cheng Ho direspons positif oleh warga sekitar. Bersama-sama, mereka membuat simbol penghormatan untuk Cheng Ho di salah satu gua yang disebut Gedung Batu. Simbol tersebut lalu disempurnakan menjadi Klenteng Sam Poo Kong.

Walau menjadi tempat ibadah umat Tridharma, namun banyak umat Islam Kejawen yang masih sering datang untuk melakukan ziarah ke makam Ong Keng Hong serta turis yang datang untuk wisata sejarah.

Klenteng Sam Poo Kong, 'Jejak' Cheng Ho di SemarangSuasana Klenteng Sam Poo Kong yang ramai oleh turis. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Bukti sejarah yang nyaris punah

Gua Gedung Batu masih berdiri hingga saat ini. Lokasinya berada di ruang bawah klenteng.

Walau ada tangga dan lampu temaram, namun gua itu tidak bisa diakses banyak orang. Ada pembatas berupa jeruji besi. Yang terlihat dari luar hanya patung Cheng Ho di tengah ruangannya.

"Kawasan ini mengalami pengendapan tanah sehingga posisi gua semakin rendah. Kemudian pada tahun 1990-an, gua ini sempat banjir. Tahun 2000-an kami melakukan renovasi dan memutuskan untuk memindahkan pusat ibadah ke atas," kata Chandra.

Mengutip buku 'Kota Semarang dalam Kenangan' karya Jongkie Tio, gua yang berada dalam Klenteng Sam Po Kong bukan gua asli. Pada tahun 1704, gua asli sebenarnya sudah runtuh lantaran kawasan Bukit Simongan dilanda angin puyuh.

Gua asli juga sempat dimonopoli oleh seorang warga, yang kerap meminta bayaran bagi warga lain yang ingin ziarah. Lalu, seorang pedagang keturunan Tionghoa pemeluk Tridharma bernama Oei Tjie Sien berusaha menyelamatkan situasi dengan membeli lahan tersebut pada tahun 1930-an.

Walau membangun klenteng, namun dia tidak menghapus sejarah Cheng Hoo dan awaknya sebagai penjelajah Muslim yang pernah datang ke sana.

Sejak pertama dibeli dan dilakukan renovasi, saat ini luas klenteng sudah sekitar 3,5 hektare.

"Terakhir renovasi pada tahun 2005. Kami menambahkan relief perjalanan Cheng Ho di dunia pada dinding klenteng," ujar Chandra.

Kisah Cheng Ho pada relief tersebut menjadi 10 bagian cerita. Pada setiap cerita, terdapat penjelasan yang terletak di bawah relief dengan tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Inggris dan China.

Klenteng Sam Poo Kong, 'Jejak' Cheng Ho di SemarangRelief perjalanan Cheng Ho di dunia. (CNN Indonesia/M Andika Putra)

Makam 'Kjai Djoeroemoedi' dan 'Kjai Jangkar'

Tak hanya Cheng Ho, Ong Keng Hong juga dihormati dan diberi bangunan khusus di Klenteng Sam Poo Kong.

Berbeda dengan ruangan Cheng Ho yang ada di dalam gua, bangunan Ong Keng Hong dibangun di samping kiri bangunan utama klenteng.

"Warga Jawa dan warga keturunan Tionghoa sangat menghormati Ong Keng Hong yang memang dekat dengan masyarakat. Beliau meninggal di usia 87 tahun. Warga menghormati Ong Keng Hong dengan memakamkannya di sebelah gua," kata Chandra.

Di belakang meja altar, nisan makam Ong Keng Hong terukir tulisan Makam Kjai Djoeroemoedi dan dikelilingi kelambu.

Di depan makam setinggi 1,5 meter itu terdapat karpet berukuran 2x3 meter, lengkap dengan tempat untuk meletakkan sesaji yang dibawa peziarah.

"Yang datang kesini bukan orang keturunan Tionghoa yang menganut kepercayaan Tridharma saja, tetapi juga orang Jawa asli yang beragama Islam Kejawen. Bisanya ramai kalau malam Jumat Kliwon, mungkin mereka mengikuti tradisi leluhur," kata Chandra.

Di sebelah kiri bangunan Ong Keng Hong terdapat ruangan Kyai Jangkar. Di belakang altar persegi panjang, terdapat jangkar kapal yang memiliki tinggi sekitar empat meter.

Mengutip kembali buku 'Kota Semarang dalam Kenangan' karya Jongkie Tio, Cheng Ho membawa 300 kapal berukuran besar saat keliling dunia. Kurang lebih, setiap kapal memiliki panjang 130 meter, lebar 55 meter dan sembilan tiang layar.

Warga menganggap jangkar yang dikeramatkan itu berasal dari salah satu kapal Cheng Ho.

Di dekat tempat pemujaan jangkar terdapat pemujaan khusus arwah hoo ping yang berarti arwah yang tak memiliki keluarga, termasuk awak kapal Cheng Ho.

"Kyai Jangkar ini digunakan sebagai alat konsentrasi saat sembahyang atau semedi. Uniknya, didekat tempat pemujaan Kyai Jangkar terdapat pohon dengan batang yang menyerupai rantai kapal. Orang dulu percaya batang itu terbentuk dari rantai kapal Cheng Ho yang dilempar ke tanah," kata Chandra.

Kini, Klenteng Sam Poo Kong menjadi salah objek wisata religi yang populer di Semarang. Turis bisa memasuki kawasan klenteng dengan membayar tiket masuk seharga Rp25 ribu per orang.

Klenteng Sam Poo Kong, 'Jejak' Cheng Ho di SemarangKlenteng Sam Poo Kong yang kini menempati lahan seluas 3,5 hektare. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
(ard)