Mengenal Terapi Potensial Listrik Sebagai Obat Insomnia

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Sabtu, 17/03/2018 00:10 WIB
Mengenal Terapi Potensial Listrik Sebagai Obat Insomnia Baru saja diperkenalkan di Indonesia Terapi Potensial Listrik diyakini dapat menjadi terapi yang mengobati insomnia dan membuat tidur lebih lelap. (Ilustrasi/Foto: Thinkstock/DragonImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Electric Potential Therapy (EPT) atau terapi potensial listrik yang disebut dapat meningkatkan kualitas tidur baru saja diperkenalkan di Indonesia. Terapi ini menyematkan potensial listrik pada matras.

Matras yang digunakan untuk tidur ini akan dialiri listrik melalui sistem fiber. Perlengkapan tidur itu terhubung dengan alat yang yang berbentuk serupa dengan EKG atau pengukur aktivitas detak jantung di rumah sakit. Alat inilah yang menyebarkan potensial listrik pada matras.

"Sistem fiber membuat potensial listrik tetap aman sehingga tidak menyetrum tapi memberikan efek pada tubuh untuk membuat tidur nyenyak," kata pendiri AMLIFE-perusahaan yang membawa matras terapi potensial listrik- Lew Mun Yee saat memperkenalkan terapi potensial listrik pada media dalam rangka memperingati World Sleep Day di Jakarta, beberapa waktu lalu. Hari Tidur Sedunia tahun ini dperingati pada Jumat, 16 Maret.


Lew menjelaskan potensial listrik dalam matras akan merangsang tubuh untuk menetralisir sistem saraf agar tubuh lebih relaks. Sistem saraf ini nantinya bakal membuat aliran darah lebih lancar sehingga meredakan nyeri dan pegal. Efeknya, mudah lelap dan tidur lebih nyenyak. Lew juga menyebut terapi ini menimbulkan kehangatan yang pas dengan suhu tubuh.

"Terapi ini juga menghangatkan lewat sistem fiber yang cocok dengan manusia, rasanya seperti dipeluk oleh karena itu bisa tidur dengan lelap," ucap Lew.

Lew pun mengklaim alat ini tak memiliki efek samping dan dapat digunakan setiap hari untuk segala usia.

Meski baru di Indonesia, teknologi ini sebenarnya sudah ditemukan di Jepang pada awal 1928. Sejak saat itu, terapi potensial listrik melakukan banyak studi klinis selama 40 tahun hingga diakui Kementerian Kesehatan Jepang.

Pada 1968, Kementerian Kesehatan Jepang mengakui terapi potensial listrik sebagai alat kesehatan yang dapat memperbaiki delapan gejala. Mulai dari sakit kepala, insomnia akut, nyeri bahu dan leher, sembelit, gangguan pencernaan, tangan dan kaki dingin, nyeri otot dan kelelahan kronis.

Teknologi terapi potensial listrik ini kemudian diadaptasi oleh AMLIFE. Perusahaan alat kesehatan ini awalnya membuat terapi itu versi duduk. Barulah pada 2013 matras terapi potensial listrik ini mulai dipasarkan ke beberapa negara dan menjajal pasar Indonesia baru-baru ini. (rah/rah)