Matras yang digunakan untuk tidur ini akan dialiri listrik melalui sistem fiber. Perlengkapan tidur itu terhubung dengan alat yang yang berbentuk serupa dengan EKG atau pengukur aktivitas detak jantung di rumah sakit. Alat inilah yang menyebarkan potensial listrik pada matras.
"Sistem fiber membuat potensial listrik tetap aman sehingga tidak menyetrum tapi memberikan efek pada tubuh untuk membuat tidur nyenyak," kata pendiri AMLIFE-perusahaan yang membawa matras terapi potensial listrik- Lew Mun Yee saat memperkenalkan terapi potensial listrik pada media dalam rangka memperingati World Sleep Day di Jakarta, beberapa waktu lalu. Hari Tidur Sedunia tahun ini dperingati pada Jumat, 16 Maret.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terapi ini juga menghangatkan lewat sistem fiber yang cocok dengan manusia, rasanya seperti dipeluk oleh karena itu bisa tidur dengan lelap," ucap Lew.
Lew pun mengklaim alat ini tak memiliki efek samping dan dapat digunakan setiap hari untuk segala usia.
Meski baru di Indonesia, teknologi ini sebenarnya sudah ditemukan di Jepang pada awal 1928. Sejak saat itu, terapi potensial listrik melakukan banyak studi klinis selama 40 tahun hingga diakui Kementerian Kesehatan Jepang.
Lihat juga:Mitos dan Fakta Seputar Insomnia |
Teknologi terapi potensial listrik ini kemudian diadaptasi oleh AMLIFE. Perusahaan alat kesehatan ini awalnya membuat terapi itu versi duduk. Barulah pada 2013 matras terapi potensial listrik ini mulai dipasarkan ke beberapa negara dan menjajal pasar Indonesia baru-baru ini. (rah)