Ulasan Fashion

Harmoni 'Tapak Retak' Jelang Perayaan Lebaran

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 26/05/2018 14:06 WIB
Harmoni 'Tapak Retak' Jelang Perayaan Lebaran Desainer Mel Ahyar membuat koleksi busana muslim dari perluasan koleksinya 'Tapak Rentak' dengan menggunakan kain tradisi dari empat suku besar Makassar. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alunan musik nan dinamis menyambut penikmat fashion di La Moda, Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Paduan bunyi dari alat musik gandrang atau alat musik khas Sulawesi Selatan terdengar dominan diselingi bunyi semacam suling, plus aransemen yang cukup berbeda.

Mel Ahyar mengajak pengunjung menyelami keindahan bumi Makassar, Sulawesi Selatan lewat koleksi dari lini busananya, Happa. Ia kembali menghadirkan 'Tapak Rentak', yakni koleksi busana wanita pre-fall 2018 miliknya dalam gelaran Ramadan in Style.

'Tapak Rentak' memiliki napas persatuan empat suku besar yang mendiami Makassar yakni, Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Masing-masing suku memiliki kekhasan termasuk dalam seni tarinya. Suku Makassar memiliki Tari Pakarena. Ia mencerminkan karakter perempuan Gowa yang sopan, lembut dan patuh. Gerakan tarian menggambarkan siklus kehidupan manusia.



Sedangkan tari Pajoge dari Bugis biasa digunakan sebagai sambutan untuk para pendatang. Toraja memiliki tari Pa'gellu yang dihadirkan sebagai hiburan serta memeriahkan suatu acara. Jika Bugis punya tari Pajoge, maka Mandar memiliki tari Pa'tuddu untuk menyambut tamu.

Keragaman bentuk tarian pun dituangkan ke dalam tampilan busana yang beraneka warna. Mel menggunakan warna-warna cerah seperti kuning, oranye, tosca, merah dan biru. Ia pun menyelipkan warna-warna 'earthy' untuk melukiskan karakter penari yang lembut dan rendah hati.

Harmoni 'Tapak Retak' Jelang Perayaan LebaranKoleksi 'Tapak Rentak' Mel Ahyar dalam potongan busana muslim. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

Satu hal yang menarik perhatian dalam koleksi Mel kali ini ialah penggunaan wastra Makassar serta detail-detailnya. Ia banyak melakukan eksplorasi pada tenun Pakduredure dan tenun Lagosi. Tenun Pakduredure memiliki warna cerah plus motif kotak-kotak mirip sarung.

Sedangkan tenun Lagosi tak berbeda jauh dengan songket, tetapi berbeda dalam pemilihan benang untuk motif. Songket biasa menggunakan benang emas berkilau untuk motif sedangkan tenun Lagosi menggunakan benang serupa dengan kain dasar, hanya warna yang dipilih cenderung kontras.


Mel mempertemukan motif kotak-kotak tenun Pakduredure dengan motif bunga-bunga kontras tenun Lagosi. Selain kedua wastra ini, ia juga menggunakan tenun Toraja dengan motif seperti alur-alur lurus. Mel juga menggunakan kain-kain transparan atau organdi tenun khas Makassar. Kain 'kekinian' pun tak ketinggalan seperti linen dan katun.

Gerak tarian seolah digambarkan lewat potongan busana yang asimetris. Harmoni antara atasan, bawahan maupun luaran tercipta mantap berkat wastra yang beragam. Pemilihan potongan yang loose seakan memperlihatkan keramahan selayaknya menyambut tamu.

Atmosfer Makassar seolah hadir di pusat kota Jakarta lewat detail-detail busana yang kaya. Mel banyak menggunakan beads atau manik-manik pada busana. Ia tidak mengaplikasikan penuh pada busana, tetapi hanya pada bagian tertentu seperti dada, lengan, maupun kerah. Terdapat manik dengan tatanan runut, ada pula yang 'berantakan', terkesan asal tapi tampik cantik.

Harmoni 'Tapak Retak' Jelang Perayaan LebaranKoleksi 'Tapak Rentak' Mel Ahyar dalam potongan busana muslim. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino) 

Manik-manik ini mengingatkan orang akan ragam hias khas Toraja. Namun Mel mengakui dirinya tak sepenuhnya menggunakan manik asli Toraja.

"Kami pilih beads yang lumayan mendekati. Kalau yang asli kan pakai kayu. Sebagian pakai yang menyerupai (yakni) akrilik yang menyerupai kayu. Kalau yang kayu itu memang perawatannya lumayan spesifik karena dia bisa luntur dan enggak tahan lama," kata Mel pada CNNIndonesia.com di sela peragaan busana pada Kamis (24/5).


Suntikan 'aroma' Lebaran

Bila diperhatikan lagi, Mel menghadirkan sesuatu yang berbeda dari yang pernah ia tampilkan bersama 'Tapak Rentak'. Seolah ingin turut memeriahkan bulan suci Ramadan dan perayaan Lebaran, ada rasa yang berbeda yang disuguhkan Mel.

"Sebagian koleksi yang sekarang itu adalah khusus dibuat extended dari Tapak Rentak yang lebaran, tapi sebagian lagi memang kita bikin lebih modest,"kata Mel.

Sebagian look yang dinamis dengan pertemuan asimetris beragam kain, ada beberapa look yang tampak lebih 'clean'. Ia menghadirkan siluet khas modest wear lewat tunik dan tunik dress.

Tunik-tunik ini dikenakan bersama celana panjang. Namun Mel menyebut jika dikenakan tanpa celana pun, tunik masih terbilang sopan sebab potongannya panjang hingga betis. Ia sengaja tidak menghadirkan busana yang 'sangat' gamis atau kaftan meski bertepatan dengan bulan Ramadan dan jelang Lebaran.


Tak melulu lekat dengan kerudung, ia memberikan pilihan penggunaan turban. Scraf ia modifikasi menjadi turban yang menutup rambut secara keseluruhan.

"Kalau pun ingin pakai kerudung bisa banget," imbuhnya.

Harmoni 'Tapak Retak' Jelang Perayaan LebaranKoleksi 'Tapak Rentak' Mel Ahyar dalam potongan busana muslim. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)

Koleksi Mel secara keseluruhan menampilkan keindahan Makassar, baik dari kain, karakter tarian daerah maupun rumah tradisionalnya. Meski ada begitu banyak detail yang melibatkan kain tenun dan manik, ia tak meninggalkan detail modern yakni dengan print. Ia menyematkan print Tongkonan (rumah adat Toraja) pada kain katun.

Namun rasa yang berbeda ia tonjolkan lewat koleksi 'extended' Tapak Rentak. Ia tampak 'rata' dan minim detail. Warna-warnanya pun tak secerah koleksi awal, tapi lebih didominasi warna tanah yang kalem. (rah/rah)