Jatuh Bangun Kate Spade dari Sukses hingga 'Dilepas'

Rahman Indra, CNN Indonesia | Jumat, 08/06/2018 04:21 WIB
Jatuh Bangun Kate Spade dari Sukses hingga 'Dilepas' Label Kate Spade lebih dulu terkenal sebelum Katie Brosnahan menikah dengan pasangannya Andy Spade. Bagaimana awal mulanya? (Foto: REUTERS/Shannon Stapleton)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pencinta mode, khususnya fans tas dan rancangan Kate Spade berduka kala desainer berusia 55 tahun itu dikabarkan meninggal dunia diduga karena bunuh diri di apartemennya di New York, pada Selasa (5/6).

Beberapa orang juga mengungkapkan betapa mereka punya pengalaman tersendiri yang berkesan saat mampu memiliki tas Kate Spade yang menanjak popularitasnya di era 90-an.

Label Kate Spade sendiri berdiri pada 1993 dan populer berkat rancangannya yang unik dan warna-warna yang mencolok. Namun, bagaimana perjalanan label ini hingga sukses dan kemudian 'dilepas' oleh perancang asal Kansas, Amerika Serikat itu?



Dikutip dari Town and Country Magazine, label 'Kate Spade' justru ada sebelum nama Katie Brosnahan berganti menjadi Kate Spade usai menikah dengan Andy Spade. 

Bersama-sama, Kate dan Andy menciptakan lebih dari sekedar garis tas yang sekarang jadi ikon. Di awal kemunculannya, Kate Spade mencapai prestasi yang nyaris mustahil bagi label fashion, dalam memadukan unsur ceria dan menyenangkan ala Midwestern, New York.

Kate Spade dinilai berhasil berkat pendekatannya yang aspiratif, modis tapi juga terjangkau. 

Awal terbentuk

Kate bertemu Andy ketika mereka masih mahasiswa di Arizona State University. Berasal dari Kansas City, Brosnahan adalah mahasiswa jurusan jurnalistik yang pernah bekerja di bar sepeda motor dan toko pakaian. Di sanalah dia bertemu Andy yang kemudian jadi suaminya.

"Saya berada di rak perempuan. Dia ada di rak baju pria. Dan suatu hari, mobilnya mogok, dan dia meminta saya untuk pulang bersama. Dan kami benar-benar memulai sebagai teman yang benar-benar hebat," Kate memberi tahu Guy Raz untuk episode NPR How I Built This.

Setelah Kate lulus pada tahun 1985, ia pergi ke Eropa sebelum pindah ke New York City. Dia mendapat pekerjaan di Conde Nast, jadi bagian aksesori di majalah Mademoiselle, dan berniat pindah kembali ke Arizona untuk bersama Andy.


"Saya terus berkata, oh, saya akan kembali. Saya hanya akan tinggal di sini selama enam bulan," kata Kate pada How I Built This. "Dan akhirnya saya berkata, 'Saya harus jujur, saya agak menyukai pekerjaan saya. Saya suka, langkah cepat New York. Dan tiba-tiba saja - saya menyukainya. "

Andy akhirnya menyusul Kate di New York, di mana mereka tinggal di apartemen kecil berjalan dan Spade bekerja di periklanan. Orangtua, atau ibu Kate dikabarkan tak senang dengan hal itu.

Setelah beberapa tahun, Kate berhenti dari pekerjaannya di Mademoiselle. Atas saran Andy, dia memutuskan untuk mencoba tangannya dalam mendesain tas. Bisnis ini didirikan pada tahun 1993 oleh Kate, Andy, dan mitra ketiga - dan dibiayai oleh gaji Andy dan tabungannya.

"Pada saat itu, tas terlalu rumit. Dan saya benar-benar menyukai bentuk desain tas yang sangat sederhana," kata Kate.

Kate kerap mengumpulkan tas, dan Andy tahu dia mendapat banyak pujian dari orang-orang yang ditemuinya.

"Saya akan memakai bentuk yang sangat sederhana ini, tidak ada satupun yang merupakan desainer terkenal. Maksudku, tidak ada label dari tas ini. Jika seseorang bertanya, '(tas) siapa itu?' Saya akan mengatakan, 'Saya tidak tahu, saya membelinya di toko vintage yang saya dapatkan di Meksiko.'"


Jatuh bangun 

Sukses Kate Spade bukanlah sukses instan, setidaknya itu menurut Kate. "Saya sangat konservatif," katanya kepada Raz. "Saya tak tertarik kehilangan uang."

Pada awal pameran yang dia ikuti, Kate menangis karena dia tidak menjual cukup banyak rancangannya untuk menutupi biaya booth. "Itu untukku," kenang Kate pada Andy. "Aku bukan seorang yang 'bertaruh.'"

Andy lalu menguatkannya. "Katie," kata Andy. "Anda punya dua toko terbaik di Amerika. Kenapa kamu menangis? Jangan berhenti." Andy merujuk pada dua department store Barney dan Fred Segal yang telah memesan tas mereka saat itu.

Brosnahan dan Spade lalu merekrut nama untuk usaha baru mereka.

"Saya terus memikirkan nama-nama ini," kata Kate. "Dan Andy terus mengatakan Kate Spade karena kami 50-50 mitra. Dan akhirnya saya hanya berkata, 'Oke.' Dan semua orang berkata, 'Saya menyukainya, Kate Spade New York.' "

Namun, hambatan lain datang. Ibu Kate Brosnahan menilai nama itu belum patut ada karena mereka belumlah menikah dan selalu mempertanyakan alasan di baliknya. Kate beralasan, label itu beranjak dari nama pertamanya, dan nama belakang Andy, seperti halnya Dolce & Gabbana.

Ibu Brosnahan tidak perlu khawatir lama, karena pada 1994, Kate dan Andy menikah.


Sukses Kate Spade

Baru pada tahun 1996, tiga tahun setelah bisnis itu diluncurkan secara resmi, Kate Spade menghasilkan keuntungan. Kate baru saja memenangkan Penghargaan Ellis CFDA yang bergengsi untuk Desain Aksesori. Tak lama kemudian, Saks Fifth Avenue dan Neiman Marcus melakukan pesanan besar.

"Itu adalah efek bola salju," katanya, "Ini menjadi sedikit lebih besar dan sedikit lebih besar dan sedikit lebih besar."

Mereka membuka serangkaian toko yang dikuratori tanpa cela.

"The Spades tidak membuat langkah yang salah, karena mereka menciptakan bisnis dari visi bersama yang telah mereka sempurnakan dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun," kata Stella Bugbee di The Cut.


Melepas Kate Spade

Pada tahun 1999, Spades menjual 56 persen dari merek ke Neiman Marcus, klien terbesar mereka. Kemudian, pada tahun 2005, mereka memiliki seorang anak perempuan, Frances, dan pada saat itu mereka menjual saham minoritas mereka. Kate Spade tidak lagi ada hubungannya dengan Kate Spade.

"Saya ingin pergi dengan kondisi baik," kata Kate tentang keputusan itu. "Ini adalah waktu yang tepat untuk pergi, saya ingin menghabiskan waktu bersama putri saya, saya telah mendengar begitu banyak cerita seram tentang orang-orang yang berbisnis dan kemudian mereka terus berupaya dan berkelahi dan menuntut, jadi saya pikir oh, itu terlalu buruk untuk saya."

"Itu (proses) yang mulus. Jalan keluar yang tenang," dia menjelaskan pada How I Built This.

Kate Spade awalnya terjual 56 persen saham sebesar US$33,6 juta (Rp466 miliar) pada Neiman Marcus. Liz Claiborne kemudian membelinya pada 2006 senilai US$124 juta (Rp1,7 triliun). Lalu, pada 2017, label itu kemudian terjual ke Coach (sekarang Tapestry) senilai US$2,4 miliar (Rp33 triliun).

Frances Beatrix Spade

Usai melepas label yang melambungkan namanya, Kate Spade melangkah mundur dari dunia mode selama satu dekade untuk menghabiskan waktu bersama putrinya, yang dijuluki Bea.

"Saya perlu istirahat dan saya benar-benar ingin membesarkan anak saya," ujar Kate pada People di 2016.

"Orang-orang bertanya kepada saya, 'Apakah ada rasa kangen (kembali ke mode)?' Saya benar-benar tidak. Maksud saya, saya menyukai apa yang saya lakukan, tetapi saya tidak melewatkannya sebanyak yang saya kira."

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis (rah/rah)