Cerita 'Pahit' di Balik Manisnya Cokelat

Elise Dwi Ratnasari & bel, CNN Indonesia | Sabtu, 07/07/2018 09:45 WIB
Cerita 'Pahit' di Balik Manisnya Cokelat ilustrasi pohon kakao (REUTERS/Matthew Mpoke Bigg)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika bepergian dari berbagai belahan dunia, cokelat menjadi salah satu jenis oleh-oleh yang 'paling aman,' dan pasti selalu ada.

Namun, alih-alih membeli cokelat dari berbagai negara, sadarkah Anda kalau ternyata Indonesia adalah salah satu negara penghasil bahan baku cokelat berkualitas?

Tak dimungkiri, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil cokelat alias kakao terbaik di dunia. Tanah Indonesia memang memiliki potensi untuk menumbuhkan komoditas pendulang devisa. 



Potensi ini terlihat jelas di tahun 2010. Kala itu, produksi kakao sangat berlimpah.  Sindra Wijaya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) menuturkan kakao waktu itu banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah. Setelah muncul desakan dari AIKI, maka pemerintah mulai memberlakukan pajak ekspor. 

"Kebijakan pajak ekspor ini sangat efektif dalam menumbuh kembangkan industri kakao. Tahun 2010 kapasitas terpasang industri hanya 350ribu ton pada tahun 2015 sudah naik menjadi 800ribu ton dengan masuknya investor dari luar," kata Sindra pada CNNIndonesia.com melalui surat elektronik pada Kamis (5/7). 

Akan tetapi, keberhasilan sektor hilir ini tidak singkron dengan sektor hulu. Faktanya, investor industri yang meningkat ini tak dibarengi dengan peningkatan produksi biji kakao. Sejak 2010, produksi biji kakao semakin menurun. 

Produksi Kakao Indonesia

2010 : 559.000 ton
2011 : 459.000 ton
2012 : 460.000 ton
2013 : 482.000 ton
2014 : 400.000 ton
2015 : 377.000 ton
2016 : 340.000 ton
2017 : 260.000 ton

Sumber : Data Laporan Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI)

AIKI mencatat pada 2017 produksi kakao nasional hanya sebanyak 260 ribu ton, padahal kebutuhan dalam negeri mencapai 800 ribu ton.

Apa penyebab penurunan produksi kakao nasional?

Sindra menjelaskan ada lima faktor penyebab menurunnya produksi cokelat. Masalah pertama adalah usia pohon di kebun. Umumnya kebun kakao sudah berusia lanjut atau lebih dari 30 tahun. Pohon-pohon yang berusia tua produktivitasnya sangat rendah.

Kedua, serangan hama penggerek buah kakao atau PBK (Cocoa Pod Borrer) dan penyakit tanaman Vascular Streak Dieback (VSD). Hama dan penyakit ini jadi musuh utama petani kakao pasalnya keduanya bisa menyebabkan menurunnya kualitas kakao sampai gagal panen.


Ketiga, banyak terjadi alih fungsi lahan kakao menjadi kebuh sawit terutama di Sulawesi yang menjadi sentra produksi kakao kala itu. Keempat, dalam dua tahun terakhir fokus pemerintah hanya pada padi, jagung dan kedelai. 

"(Kelima) program Gerakan nasional atau gernas kakao hingga kini baru mencakup 26 persen dari total areal kakao nasional," lanjutnya. 

Ia pun menambahkan, saat ini program Gernas kakao jadi solusi yang sangat diharapkan. Menurutnya pemerintah harus hadir membantu para petani kakao karena 99 persen perkebunan kakao di Indonesia merupakan perkebunan rakyat. Lewat Gernas kakao, petani bisa mendapat bantuan bibit, pupuk dan tenaga pendamping. 

Status Pengekspor Berubah jadi Pengimpor

AIKI mencatat sejak 2014 Indonesia tak lagi jadi negara pengekspor kakao melainkan sebagai negara pengimpor. Biji kakao biasa diimpor dari Pantai Gading, Ghana, Kamerun, Nigeria dan Ekuador. Namun Sindra berkata impor biji kakao tak semudah kelihatannya. 

Pengusaha harus membayar bea masuk sebesar 5 persen, PPN 10 persen dan PPH 2,5 persen sehingga totalnya 17,5 persen. Hal ini mengakibatkan industri kakao dalam negeri kalah saing dengan negara tetangga. 

Berdasarkan data dari BPS, volume dan nilai impor biji kakao Indonesia terus meningkat dari tahun 2010. 

2010 : 24.831 ton  (USD$ 89.497.057)
2011 : 19.100 ton  (USD$ 62.881.032)
2012 : 23.493 ton  (USD$ 62.977.883)
2013 : 30.766 ton  (USD$ 77.422.094)
2014 : 109.409 ton (USD$ 341.437.411)
2015 : 53.372 ton  (USD$169.734.659)
2016 : 61.015 ton  (USD$ 184.667.284)
2017 : 226.613 ton (USD$ 486.544.060)


"Produk cocoa powder dari Malaysia dan Singapura semakin banyak masuk ke Indonesia karena bea masuknya 0 persen sejak berlakunya AFTA (ASEAN Free Trade Area). Impor cocoa powder Indonesia tahun 2007 sebesar 9.500 ton, tahun 2017 naik menjadi 18.000 ton," imbuhnya.

Biji kakaoFoto: ANTARA FOTO/Basri Marzuki
Biji kakao


Padahal jika mau digalakkan, Indonesia sebenarnya memiliki kakao jenis mulia atau edel cocoa (kokoa yang bisa dipakai untuk membuat makanan sampai kecantikan). Sindra menjelaskan kokoa jenis ini memiliki harga yang begitu tinggi, tapi sayangnya jumlah produksi sangat kecil. Edel cocoa haya ada di PTPN XII di Jawa Timur. Sedangkan kakao dari budidaya petani seluruhnya jenis kakao Lindak. 

Meski demikian, perlu diakui bahwa kualitas kakao Indonesia kalah dari kakao dari Afrika. Kakao Indonesia tidak melalui proses fermentasi sehingga aromanya kurang kuat. Di samping itu, rendemen (perbandingan kuantitas minyak dari ekstraksi tanaman aromatik) dan fat content kakao Indonesia lebih rendah. 


"Namun Indonesia juga punya keunggulan terutama pada cocoa butternya karena melting point pada cocoa butter kita lebih tinggi sehingga tidak mudah meleleh atau lumer. Dan free fatty acid pada cocoa butternya rendah," jelas Sindra. 

Kualitas dan kuantitas kokoa Indonesia perlu ditingkatkan, tetapi Sindra menggarisbawahi bahwa langkah awal yang perlu diambil ialah peningkatan kuantitas. Jika kuantitas kakao bisa memenuhi kebutuhan industri, maka langkah berikutnya ialah peningkatan kualitas dengan penambahan proses fermentasi. 

"Yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen kuat dari pemerintah untuk meningkatkan produksi biji kakao nasional," ujarnya.

Krakakoa, Cokelat Lampung yang Mendunia

Sekalipun cokelat Indonesia memiliki beberapa 'masalah,' namun kenyataannya cokelat Indonesia masih punya gigi di dunia internasional. 

Indonesia patut berbangga dengan produk dalam negerinya. Krakakoa, cokelat asal Lampung, berhasil membawa pulang dua penghargaan bergengsi dalam Academy of Chocolate Award 2018 di London, Inggris. Penghargaan tersebut diantaranya medali perak untuk produk Arenga 70 persen Dark Chocolate, dan perunggu untuk produk Arenga 100 persen Dark Chocolate.


Berbeda dengan cokelat kebanyakan, Arenga dibuat menggunakan gula aren yang berasal dari Sulawesi. Mereka menggandeng Yayasan Masarang, kelompok pelestarian hutan yang didirikan oleh aktivis lingkungan Belanda, Willie Smith.

Diketahui bahwa gula aren kaya akan antioksidan dan asam amino. Gula aren merupakan pemanis alami dengan indeks glikemik yang lebih rendah dari gula tebu, sehingga cocok bagi mereka penderita diabetes. Selain itu, gula jenis ini juga membuat tekstur cokelat menjadi lebih halus.

Sebagai satu-satunya produk cokelat Indonesia yang pernah memenangkan penghargaan internasional itu, CEO Krakakoa, Sabrina Mustopo menngungkapkan kebanggannya.

"Kami sangat bangga bisa menunjukkan kakao dan cokelat Indonesia yang dapat bersaing dengan yang terbaik di dunia. Kami berbagi kemenangan ini dengan para petani mitra, karena kami tidak akan bisa menciptakan produk berkualitas seperti ini jika bukan karena kerja keras yang mereka lakukan," katanya dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.

Sebelumnya pada 2017, Krakakoa juga berhasil menuai prestasi dengan memenangkan enam penghargaan pada ajang yang sama. Di antaranya medali perak untuk kemasan Single Origin Gift Set dan cokelat batangan Single Origin Saludengen. Serta medali perunggu untuk cokelat Single Origin Sedayu, Sea Salt & Pepper, dan cokelat batangan Ginger dan Coffee.

(chs)