Ketum GAPMMI: Gernas Kakao Harus Dihidupkan Lagi

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 07/07/2018 12:05 WIB
Ketum GAPMMI: Gernas Kakao Harus Dihidupkan Lagi Petani kakao (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia punya potensi sebagai negara produsen kakao berkualitas di dunia.

Beberapa tahun silam, pemerintah pernah meluncurkan program bertajuk Gerakan Nasional (Gernas) Kakao. Gerakan ini dilakukan dalam rangka menggenjot produksi kakao dalam negeri. Namun setelah berganti pemerintahan, program pun berhenti. 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman menuturkan, Gernas Kakao berimbas positif kala itu. 



"Kakao itu unik. Kita pernah produksinya sampai 900ribu ton, yang awalnya kurang dari 100 ribu ton," katanya saat media workshop di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/7). 

Adhi menjelaskan program Gernas kakao membuat industri hulu dan hilir menjadi singkron. Industri hilir pun mampu menaikkan kapasitas produksi dari 100ribu ton menjadi 600ribu ton. 

Akan tetapi, program ini kemudian disetop karena berganti pemerintahan. Produksi kakao pun turun hingga separuh atau hanya sekitar 450ribu ton. Ini tidak bisa mengimbangi kapasitas produksi. 

"(Gernas kakao) harus dihidupkan lagi, harus disingkronkan lagi. Program kakao dulu dihapus karena budget enggak ada. Otomatis (produksi) berkurang, langsung turun," imbuhnya. 

Menurutnya kualitas kakao Indonesia terbilang cukup baik. Hanya saja jika untuk memenuhi pasar global, pengusaha makanan atau minuman berbahan cokelat sebagian ada yang perlu mengimpor cokelat dari luar negeri untuk memperkaya rasa sekaligus memenuhi selera pasar global.

Tentu, lanjut Adhi, impor harus disingkronkan dengan kebijakan pemerintah, sebab pengusaha tak jarang mengalami kesulitan mendatangkan bahan baku dari luar. 

Ia pun memberikan contoh perusahaan teh yang harus mengimpor teh dari Afrika untuk bahan campuran. Namun mereka menemui kesulitan sebab menurut peraturan, laboratorium uji harus mendapat sertifikat dari Kementerian Pertanian. 

"Waktu itu ujung-ujungnya order dilempar ke negara lain karena kebetulan ini perusahaan multinasional. Itu kalau perusahaan enggak punya pabrik di negara lain, dia tidak dapat produksi, hilang kesempatan dia mendapat pelanggan," papar Adhi. 


Cokelat akan langka

Bukan cuma Indonesia yang produksi kakaonya menurun. Secara global, produksi cokelat dunia juga menurun.

Namun, menurut laporan Business Insider, situasi cokelat akan lebih menantang dalam beberapa dekade mendatang mengingat perubahan iklim yang berisiko. Menurutnya, lebih dari separuh pasukan cokelat dunia saat ini datang dari dua negara asal Afrika Barat, Cote d'Ivoire dan Ghana. Namun, kedua negara tersebut ditengarai takkan lagi cocok untuk tanaman cokelat dalam beberapa dekade mendatang. 

Sejumlah peneliti dari University of California, Berkeley, AS mengkaji akan kemungkinan hidup cokelat di masa yang akan datang, khususnya jika hidup dalam kondisi suhu yang panas dan kering. 

Masa hidup cokelat bisa saja kritis, dan 'punah' menghilang di awal 2050 karena kondisi tersebut. (chs)